
"Lan, Arini nyariin elu!," terang Bento.
"Kenapa lagi tu gadis lugu?."
"Katanya, namanya ga ada dalam daftar pembagian kamar!," jelas Bento lagi.
Alan kembali ke Villa bersama Nagita setelah menghabiskan waktu berdua menikmati keindahan alam Bali. Bento dan Alan berbincang di ruang makan bersama Roni sedangkan Bli Agung belum juga tiba di Villa itu, karena ternyata Bli Agung masih berada di rumah kediaman keluarga besar. Untuk menjalani beberapa ritual keagamaan dulu, kalau tiba di Bali sebelum melakukan akvitas lainnya.
"Arini mengadu ke elu!," tanya Alan memasang wajah curiga.
"Bukan mengadu! Karena Arini kesini, makanya gue nanya! Masa gue diamin kan ga etis bro!."
"Barangkali aja! Berhubung kalian cukup akrab!."
"Ga masalah kan! Kalau gue akrab dan berteman sama Arini." Suasana mulai tegang. Rony sedari awal tak perduli dengan obrolan mereka malah sekarang menjadi kuatir.
Alan mengangkat wajahnya dan memperhatikan Bento dengan penuh selidik,
"Elu, suka sama gadis lugu itu?," tanya Alan agak datar.
Bento pun mulai hati-hati menjawab pertanyaan dari sobatnya.
"Menurut gue, ga salahnya juga kalau gue suka sama Arini. Dia pintar dan juga baik kok!."
Alan seketika menghentikan makannya dan hendak meninggalkan meja makan tersebut.
Rony dan Bento saling bertatapan dan mengangkat bahu mereka sambil memberi kode bahwa Rony pun tak tahu apa yang salah dalam obrolan mereka.
"Bro, sebaiknya elu nyamperin gih Si Tuan Muda itu! Gue ga tanggung jawab aja, kalau Alan ngamuk," ungkap Rony. Bento turuti saran Rony,
"Lan, elu marah? Gue, kan hanya menjawab pertanyaan lu bro!," jelas Bento.
Kedua sahabat ini sudah berada di area swimming pool. Alan tak membalikan badannya ketika Bento ajak bicara dengannya. Sebenarnya Alan hanya menyembunyikan air mukanya agar Bento tak bisa membaca rona wajahnya bahwa dirinya sedang kesal terhadap pernyataan Bento tadi tentang Bento menyukai Arini. Alan tak suka saja kalau Bento mengatakan demikian.
Alan hanya bisa menarik napas dan menghembuskan berlahan agar kekesalannya mereda.
"Ga, gue ga marah! Gue hanya heran aja masa gadis tolol, lugu dan alim kayak Arini, kamu bisa menyukainya?." Bento hanya tersenyum tipis
"Elu suka sama Nagita, apa ada alasannya?," tanya Bento membalikan pernyataan Alan.
"Iya, karena dia cantik!."
__ADS_1
"Oh, jadi nanti Nagita sudah ga cantik, rasa suka kamu juga hilang?." Bento membalas lagi.
"Loh, kita kan bahas gadis lugu itu, kenapa Nagita?."
"Ga, gue penasaran aja sama urusan cinta seorang playboy dalam menaklukan hati para gadis," nada Bento mulai bergurau dan mencairkan suasana.
"Gue yakin! Gadis tolol, lugu dan alim seperti yang elu katakan tadi, belum bisa elu taklukin hatinya kan?," gurau Bento.
Alan tak berpikir lama lagi, langsung saja sahabatnya itu di dorong masuk ke dalam kolam renang. Soalnya perkataan Bento seperti mengenai telak harga dirinya sebagi playboy. Karena Alan menyadari satu hal walau Arini sudah menjadi salah satu pacarnya tapi Arini sulit untuk di miliki.
"Brengsek, elu Lan!."
"Elu kan belum mandi sekalian aja bro!," balas Alan. Dengan senyum kemenangan karena sudah membuat sobatnya itu kebasahan. Alan berjalan masuk kembali ke dalam, sedangkan Rony masih di meja makan itu,
"Lan, ga lanjutin makannya bro!."
"Elu aja! Sudah ga nafsu!."
Rony hanya bisa terdiam dan melanjutkan hidangan dan makanan yang sudah tersedia.
Hari menjelang sore, panitia sudah mulai mempersiapkan tempat untuk acara pembukaan kegiatan camping rohani. Arini terlihat sibuk membantu. Namun Alan tak kelihatan padahal mereka berdua juga termasuk dalam kepanitian itu.
"Kak Arini! Tempatnya sudah di siapkan cuman kurang satu kak, yaitu sound system kita ga punya!," ungkap seorang panitia yang merupakan juniornya.
"Gue aja yang urusi sound system itu!," jawab Arini. Sembari pergi ke Pos Satpam depan untuk menanyakan hal demikian. Berhubung Pos Satpam lumayan jauh dan memakan energi dan waktu, Arini menggunakan buggy car yang tersedia di Villa itu.
Beberapa saat Arini tiba di Pos Satpam, tampak olehnya beberapa bodyguard dalam benaknya, "Sepertinya gua pernah lihat para bodyguard ini, tapi dimana?." Arini coba memutar otak untuk mengingat namun tak lama sebuah mobil mewah muncul. Ada seorang pria bule tampan dalam mobil mewah itu. Seketika ingatan Arini kembali, bahwa pria bule tersebut pernah di lihatnya di pusat perbelanjaan bersama Nagita Wilson. Petugas Satpam pun terlihat agak ketakutan menghadapi bodyguard tersebut. Setelah beberapa saat satpam itu menghubungi seseorang melalui HT. Arini pun berusaha membaur dan mencairkan suasana yang tegang itu.
"Siang pak! Wah ada tamu ya!."
"Serem amat..!," sambung Arini ketika seorang bodyguard melototinya.
"Kenapa Pak? Mereka mencari siapa?." Arini bersuara pelan kepada Pak Satpam itu.
"Itu non, mereka mencari nona Nagita Wilson!, Dari tadi bapa coba kontak tuan muda Alan tapi belum ada jawaban!."
"Oh gitu!," ucap Arini sambil melirik salah satu bodyguard yang makin mendekat ke arahnya.
"Tuan kemari mau cari nona Nagita? Boleh tahu, urusan apa kalian mencari dia dan kalian punya hubungan apa dengan nona Nagita?," tanya Arini. Sok berani, padahal sedang ketakutan. Bodyguard itu langsung menghadang Arini ketika hendak mau menghindar,
"Nona, sebaiknya anda jangan ikut campur! Kalau nona tahu nona Nagita, cepat panggil atau bos kami bisa murka dan nyawa anda jadi taruhannya!," jelas bodyguard itu membuat Arini merinding. Sedikit di miringkan kepala Arini untuk melirik bos yang berdiri tepat di belakang bodyguard lainnya,
__ADS_1
"Om, Bos anda tampan, masa sekejam itu!." Arini menimpali seperti bergurau.
"Nona, tolong jangan becanda!."
"Siapa juga yang becanda! Bos anda memang tampan kok!."
Melihat tingkah Arini yang tak serius bodyguard tersebut langsung berjalan ke arah Pak Satpam,
"Pak satpam, nona Wilson sudah menuju kemari?."
"Belum ada jawaban tuan!," jawab Satpam itu.
"Bos kami, tak bisa menunggu lama. Jadi kami terpaksa harus masuk ke dalam villa!," ancam bodyguard.
"Tapi tuan, itu menyalahi aturan nanti saya yang di salahkan dan di pecat oleh tuan muda!." Bapak Satpam menjawab dengan nada ketakutan.
Arini melihat perdebatan itu, merasa kasihan dengan Pak Satpam-nya. Arini menghampiri orang yang di sebut bos, yang sudah kembali masuk ke dalam mobil mewahnya.
"Tuan, kasihtau sama anak buah tuan, untuk belajar etika! Kalau belum di ijinkan masuk, ya jangan masuk dong, maksa banget sih!," gerutu Arini.
Daniel Pearl bersikap acuh tak acuh, memandang Arini dari ujung kaki ke ujung kepala sampai pandangan berhenti pada satu titik yaitu bagian dadanya dalam batin Arini "Ini pria mesum!."
"Apa yang anda lihat? Dasar mesum!." Arini tak tahan membalas tatapan Daniel dengan muka yang agak angkuh seperti wanita tangguh.
Daniel Pearl merasa di tantang oleh keberanian gadis ini. Degera di buka pintu mobil dan menghadang Arini, di jorokin pundak Arini dengan kuat sampai bersandar pada mobil mewah miliknya,
"Sok cantik! Buah da**-mu aja bagai tembok tak berselera aku melihatnya!." Daniel Pearl mengejek Arini.
Arini tak berkutik, refleks di pegangi area dadanya memastikan perkataan bule tampan itu.
"Enak aja! Apa urusan elu?."
Daniel semakin tak mempedulikan kata-kata Arini dan membalikan badannya hendak pergi menemui bodyguard yang ada bersama Satpam.
"Hei bule tolol! Enak saja main cabut, tanggung jawab dengan perkataan elu!." Arini berusaha keras menantang Daniel.
"Tommy, urus gadis itu! Buat mulutnya diam!," nada Daniel mengandung makna yang mendalam yaitu mati. Arini seketika menjadi pucat pasi ketika seorang bodyguard menghampiri dirinya langsung di cengkram erat tangan dan mulutnya di sumpal menggunakan tangan segede telapak gajah itu. Arini tak bisa berkutik hanya meronta-ronta minta di lepaskan. Dalam batinnya, "Apakah aku mati hari ini?."
"Daniel, please! Jangan membuat kekacauan di sini, lepaskan gadis itu!," teriak Nagita Wilson. Yang sudah ada berjarak 3 meter darinya. Segera Daniel memberi kode pada anak buahnya untuk lepaskan Arini. Arini yang mulanya sewot banyak tingkah menjadi diam, sedikit pun tak bersuara. Daniel dengan wajah di penuhi senyum lebar menyambut kedatangan kekasihnya itu.
"Oh My Angel! Kenapa kamu tidak bilang kalau mau menyusul aku ke Bali? Kita bisa pergi bersama-sama!." Daniel memberi pelukan dan ciuman yang hangat dan agak menggila dan Nagita membalasnya karena takut kemurkaan Daniel kalau tahu yang sebenarnya. Sekejab semua bodyguardnya membalikan badan karena hal privasi bos tak bisa menjadi tontonan mereka. Arini malah masa bodoh sampai seorang bodyguard dengan kasar membalikan badan Arini juga. Arini hanya terdiam ketika di perlakukan demikian. Dalam benak Arini, "Siapa sih pria bule ini? Sepertinya Nagita adalah pawangnya!."
__ADS_1