Sang Playboy Mencari Cinta

Sang Playboy Mencari Cinta
Bab 26


__ADS_3

"Lan , kita mau kemana?. Pakaian kita basah semua loh!." Sebelumnya mereka sudah dari di tempat pembilasan untuk menghilangkan kadar garam di tubuh mereka.


"Kamu ikuti saja aku!. Intinya hari ini, kamu harus menggantikan semua waktumu bersama aku, yang kamu habiskan bersama Bento!."


"Ya, ga bisa gitu dong Lan!."


"Harus bisa!."


Alan sudah membawa Arini ke sebuah mobil yang tampak mewah, entah dari mana asalnya. Sampai di mobil itu ada seseorang yang berperawakan seperti bodyguard menghampiri mereka.


"Tuan, ini pakaian yang anda minta!." Tas itu ada 2 buah yang berlebelkan brand ternama. Alan mengambilnya dan memberikan tas yang berwarna orange kepada Arini sedangkan punya Alan berwarna hitam.


"Ar, kamu ganti di mobil ini!. Ingat jangan coba melarikan diri. Kamu lihatkan pengawal aku bisa saja menangkap kamu, mereka semua sudah bersabuk hitam!," ancam Alan. Arini menurutinya saja.


"Kalian berjaga-jaga disini!. Jangan terlalu dekat!," perintah Alan.


"Baik tuan muda!."


Alan masuk ke mobil satunya yang di kendarai oleh anak buahnya itu. Setelah selesai mereka mengganti pakaiannya, Arini terlebih dahulu keluar dari mobil itu.


"Permisi nona!. Boleh saya minta pakaian basah anda!."


"Mau ngapain?. Ga perlu, biar saya bawa pulang!."


"Saya di perintahkan oleh tuan untuk di laundry!."


Arini tidak bisa memberikannya karena malu, masa pakaian dalam pun ikut di laundry.


"Tapi..., "


"Jangan kuatir nona!. Bukan di tempat laundry sembarangan, privasi anda tentu sangat kami jaga!."


"Ada apa ini?." Alan muncul seketika dengan pakaian yang sudah rapi. Di tatap Arini dengan tak berkedip, Arini cantik, polos dan apa adanya. Apalagi di baluti pakaian bermerk sungguh indah dan mempesona, itulah yang di sukai Alan.


"Maaf tuan, sepertinya nona enggan memberikan pakaian basahnya untuk kami laundry!."


"Berikan saja Ar!. Jangan kuatir semuanya aman kok!."


Alan meyakini Arini agar tak kuatir lagi, karena anak buahnya akan menuruti semua perintahnya.


"Ayo!, masuk ke mobil Ar!." Alan membukakan pintu mobil layaknya orang pacaran. Arini hanya menatap Alan, sikapnya berubah menjadi manis.


Alan sendiri yang mendriver mobil itu, Alan tersenyum lebar akhirnya,


"Kenapa kamu senyam-senyum?. Pasti otakmu mesum kan?," sambung Arini sambil memegang area dadanya karena dalam batin Arini berkata, "Kenapa Alan tahu ukurun pakaian dalamnya?. Pas pula di kenakannya."


"Arini, Arini..., sebejat itukah aku di mata kamu?."

__ADS_1


"Emang!. Playboy kayak kamu triknya sudah ke baca. "


"Oh ya, bagus dong!."


"Makanya aku ga heran, kamu bisa tahu ukuran pakaian dalam aku!."


"Hahahahahaahha." Alan menjadi tertawa terbahak-bahak karena pernyataan Arini itu.


"Apa sih kamu?. Ngeledek aku ya?." Arini memukul manja lengan Alan karena malu, sebab Alan menertawakan kepolosan dan keluguan Arini. Alan tak mau menceritakan kejadian sebenarnya asal muasal pakaian itu dapat di belinya dengan ukuran pas. Ternyata Alan meminta bantuan ART yang ada di Villa utama yang pernah bertemu Arini, untuk menerka ukuran pakaian dalamnya. Alan tahu wanita pasti akan lebih mengerti dan mata wanita biasanya lebih akurat.


Mereka menikmati sunset di pantai Tegal Wangi Jimbaran. Alan sengaja mencari suasana yang tenang hanya di nikmati untuk berdua saja. Dan melanjutkan dinner di pantai Jimbaran.


Tak lama kemudian ada panggilan telepon di hp milik Alan dari Nagita. Arini yang sempat membaca nama Nagita di monitor hp, segera memberi kode pada Alan untuk mengangkat panggilan itu, tapi Alan membiarkannya. Tak lama juga di hp milik Arini, Bento memanggil. Alan langsung mengambil hp itu dari tangan Arini karena Arini mau mengangkat panggilan itu.


"Aku jawab Lan!."


"Ga perlu, biarkan saja!."


Tak lama, berakhir juga panggilan itu. Alan menyuruh Arini membuka kode hp-nya dan membalas Bento dengan sebuah pesan "Maaf Ben, gue harus balik duluan karena ada urusan penting!." Setelah itu hp milik Arini di non-aktifkan.


"Apa yang kamu lakukan Lan?."


"Kamu diam saja!. Pokoknya tak satu pun boleh menganggu kita, nikmati moment ini Ar!."


"Lalu Nagita?. Kamu tak bisa berbuat begini Lan?."


Tak lama Alan pun membalas pesan singkat kepada Nagita bahwa "Ada urusan mendadak dari Perusahan, Nanti Aku telepon balik!." Tapi Alan tidak menon-aktifkan hp-nya takut sobat-sobatnya curiga kalau Alan bersama Arini.


...****************...


"Malam tuan, saya ada informasi penting!." Anak buah Daniel menyodorkan sebuah amplop berisi foto-foto hasil investigasinya terhadap Alan.


"Apa-apaan ini?. Breng***!."


"Apa hubungan mereka?." Daniel mendapati ada foto Alan bersama Arini sedang dinner berdua dan juga kebersamaan mereka lainnya. Ada foto Alan bersama Nagita di jetski begitu mesra. Dan ada juga Arini bersama Bento duduk berdua di pasir putih dan foto teman - teman Alan ada di situ.


"Saya kurang tahu tuan!. Itu yang saya dapat hari ini!."


"Cari tahu apa hubungan mereka semua?. Saya mau tahu titik kelemahan pria ini!."


"Baik tuan!."


"Lalu dimana nona Nagita sekarang?."


"Mereka sepertinya mau balik ke Villa tuan."


"Oh jadi, Alan Ferdian masih bersama gadis Pos Satpam itu?."

__ADS_1


"Benar tuan!."


"Kamu sudah cari tahu, siapa gadis Pos Satpam itu?."


"Sudah tuan!. Tapi belum ada laporan!."


"Kamu cek!. Kapan mereka balik ke Jakarta?."


"Mereka balik besok tuan!. Apa yang harus saya lakukan tuan?. Apa saya jemput nona Nagita sekarang saja?."


Daniel berusaha berpikir, apakah ada baiknya menjemput Nagita sekarang seperti saran anak buahnya.


"Tidak perlu!. Kita biarkan saja, sampai di Jakarta baru saya urus wanita itu!."


"Baik tuan!. Saya permisi!."


Amarah Daniel memuncak ketika di pandangi lagi foto kemesraan Nagita dan Alan, segelas sampanye di tangannya di lempar mengenai dinding dan pecah berantakan. Anak buah yang lain hanya melihat saja, takut menghadapi kegeraman Daniel. Tunggu perintah tuannya baru mereka bisa membersihkan pecahan gelas itu. Daniel sebenarnya harus balik ke Australia malam ini, tapi karena peristiwa itu, dia memutuskan balik ke Jakarta besok bertemu Nagita untuk memberi perhitungan padanya.


...****************...


Situasi Alan dan Arini yang lagi berdua. Moment yang sangat di tunggu Alan. Mereka lebih bangak diam setelah menikmati makan malam. Arini sangat menyukai pantai, suara deburan ombak semakin malam semakin menggelitik jantungnya ketika Arini tahu mereka cuman berdua saja. Suasana menjadi canggung, sesekali Arini menarik napas dalam-dalam karena menahan gejolak dalam dadanya. Kali ini Arini tak bisa berbuat apa-apa, mengalir mengikuti suasana romantis. Seumur-umur Arini baru merasakan perasaan berdebar dengan seorang pria apalagi pria itu adalah Alan yang dia tahu seorang playboy. Semua hormon dalam tubuhnya ikut menyetujui dan mendorongnya untuk bermesraan bersama pria yang berdiri di sampingnya itu.


Alan tak hanya diam di raih tangan Arini, mereka bergenggaman. Arini tak mau melepaskannya karena nalurinya mengatakan demikian. Semua yang menjadi kendala dalam dirinya seketika lepas bersama deburan ombak yang membuatnya lupa.


Alan mulai merangkul Arini dari belakang, begitu lama keduanya seperti sedang berbicara dari hati ke hati. Alan merasa dekapan yang hangat dan pesona Arini membuatnya tenggelam bersama aroma tubuhnya yang singgah di hidungnya membuatnya tak pernah lupa. Debaram jantung kedua insan ini semakin kencang, dan keduanya menyadari itu, Alan langsung menghadapkan Arini di depannya, di usap wajahnya, di sisirkan dengan lembut rambut yang singgah di wajah Arini, karena angin pantai yang meniup kencang. Kedua tangan Alan sudah menempel di samping wajah dekat telinga, dan di pandangi setiap jengkal wajah yang polos itu sehingga pandangan itu berhenti pada bibirnya yang tipis dan merona yang membuat Alan tak tahan lagi untuk menjamahnya dengan ujung jarinya. Kemudian kepalanya merunduk perlahan dan akhirnya keduanya berakhir dengan sebuah ciuman. Sentuhan ciuman pertama Arini menolak, tapi karena Alan terus menatapinya Arini pun berinisiatif mencium Alan duluan, tanpa disadari mereka begitu menikmatinya. Ciuman panas dan bergelora, Alan merasa kali ini ada yang berbeda dengan dirinya. Arini kini menjadi bayangannya malam ini. Tak berapa lama gerakan Alan sudah kemana-mana sehingga Arini menjadi tersadar, bayangan kemesraan Alan bersama Nagita di kamar villa membuatnya terbangun dari mimpi itu.


"Ini salah Lan, jangan!."


"Kenapa Ar?."


"Aku tahu sekarang!. Kamu sengaja mempermainkan aku!."


"Apa maksud kamu?."


"Kamu pikir aku mudah di ajak tidur, dengan kamu merayu aku dengan ciuman itu!."


"Kamu juga menginginkannya!."


"Tapi bukan begitu caranya!."


"So Sorry Ar!. Aku ga tahu kalau kamu akan semarah ini!."


Arini beranjak pergi, Alan mengikutinya dan berusaha membujuk Arini agar tak marah. Karena ciuman itu bukan di sengaja tapi karena ada sesuatu dorongan dalam dirinya yang tak bisa di kontrol olehnya yang belum bisa di pastikan oleh Alan "Apakah itu nafsu atau cinta?."


"Sebaiknya kamu antar aku balik ke Villa sekarang!."


"Baiklah, " jawab Alan pasrah.

__ADS_1


Keduanya kembali ke Villa, padahal di sana sedang berlangsung acara jamuan malam penutupan.


__ADS_2