
"Tara panggilkan kakakmu! apa hari ini dia ga kuliah?"
Tara sudah bersiap hendak ke sekolah, karena diperintahkan ibunya, Tara segera ke kamar kakaknya itu.
"Kak Arini dipanggil ibu!!!"
"ya dek! kamu pergi sekolah gih nanti telat! "
Mendengar jawaban dari kakaknya Tara pun berpamitan pada ibunya. Arini menghampiri ibunya diruang tengah yang sedang menunggunya. Batinnya "ibu pasti mau menanyakan kejadian kamarin".
" selamat pagi bu!"
" selamat pagi, duduk sini Ar! ada yang ibu mau tanyakan"
Arini mengambil duduk tepat berhadapan dengan ibunya.
"tolong ceritakan pada ibu sebenarnya apa yang terjadi kemarin sampai motormu bisa diantar dan kamu pulang selarut itu?"
" ibu jangan kuatir, Arini baik-baik saja! kemarin motor Arini mogok kehabisan bensin dan teman Arini bantuin... eh malah motornya diantar ke rumah! "
" kemudian kamunya kemana sampai jam 10 baru pulang ke rumah?"
Arini jadi puyeng apa yang harus dikatakan pada ibunya masa mau dibilangin ketiduran di mobil si playboy gila itu, bisa runyam urusannya.
" maaf bu! Arini kali ini sedikit berbohong, Arini malu bila mengatakan yang sebenarnya" batin Arini
"oh.. itu, Arini ada kerja project bareng teman dikampus, dan lusa Arini ikut camping rohani ke Bali jadi perlu membuat persiapan bu!"
" Ar.. ibu bukannya mau melarang kamu, kalau ada masalah atau kamu mau pergi kemana pun kabarin ke ibu, supaya ibu tidak kuatir! "
" maafin Arini bu!! Arini tidak bermaksud membuat ibu jadi kuatir"
" ok.. kamu pergi mandi sana! hari ini kuliahkan? "
" terima kasih bu!" Arini memeluk ibunya dengan penuh kasih.
"hari ini Arini ga ada kuliah, matkul juga sudah selesai semua!"
Pembicaraan singkat itu berakhir karena ibunya akan bersiap pergi ke kantor. Arini pun sendiri dirumah, kerjaannya pasti tidur menyiapkan stamina lusa akan berangkat ke Bali.
...****************...
Suasana keadaan rumah Alan Ferdian, rumah yang bak istana itu terlihat sepi hanya ada beberapa pelayan dan ART yang tampak sibuk. Alan juga tampak bosan dirumah, teringat juga dirinya pada Nagita sudah hampir dua hari kabar darinya tak ada, dilirik hp miliknya tak ada tanda- tanda dari orang yang ditunggu itu.
Alan mencoba beberapa kali mendial no hp Nagita tapi tak ada jawaban. Malah muncul dilayar monitor panggilan dari Agung sahabatnya itu.
"Halo bro! posisi? "
"why? i'm in home"
"nongkrong ditempat biasa bro!"
"sama siapa aja? "
"udah ada Bento dan Rony di sini sama gue!"
" ok.. "
Alan ikut bergabung dengan sobat-sobatnya itu. Pikirnya dari pada bosan dirumah.
Alan memutuskan untuk pergi menggunakan motor Ducati miliknya.
Dalam perjalan menuju resto tempat mereka nongkrong ada sebuah mobil yang tampak terlihat mogok mengeluarkan banyak asap. Alan pun melewati jalan itu, sehingga kejadian terlihat olehnya awalnya Alan berusaha mengabaikannya berpura-pura untuk tidak mau menolong tapi setelah dilihat dengan saksama ternyata seorang ibu paruh baya yang menggunakan seragam ASN. Muncul juga rasa iba dalam dirinya untuk membantu.
"pagi bu!!! mobilnya mogok ya? "
"ya dek, biasa mobil tua sering kali bermasalah kayak gini!"
__ADS_1
"mobil tua mah bukan jadi masalahnya bu, justru semakin tua mobil semakin antik dan mahal cuma perawatannya kurang tepat sehingga sering bermasalah"
"oh.. gitu!! mana ibu tahu dek! "
"boleh saya bantu memeriksanya sebentar!"
"boleh! tapi gimana ya ibu harus buru ke kantor soalnya udah telat, ibu juga sudah telepon anak ibu untuk urusin mobilnya supaya ibu lanjut naik bus aja!"
"oh.. gitu!!"
"tapi kayaknya anak ibu lama banget, gimana ya? "
"biar saya yang nungguin anak ibu, mobilnya saya yang urus! "
"tapi..... " ibu itu tak bisa melanjutkan kata-katanya karena belum bisa mempercayakan mobilnya pada orang yang tak dikenal. Alan pun mengerti dan melihat keraguan itu di wajah ibu itu.
"gini aja bu, ambil kartu nama saya dan ibu tinggalin nomor hp anak ibu!" mendengar jawaban Alan ibu itu seketika legah, saran dari Alan masuk akal juga apabila terjadi sesuatu ibu mudah mencari informasi.
"terima kasih dek! " ibu itu mengambil kartu nama dari Alan.
"cekrek... sorri dek! ibu ambil foto kamu sebagai bukti aja! "
melihat tingkah ibu itu, Alan tertawa kecil sambil menyimpulkan senyum ramah.
Alan masih berkutat dengan mobil mogok itu, sedangkan ibu yang ditolongnya sudah pergi. selang 10 menit berlalu yang ditunggu pun belum muncul.
"Alan Ferdian,... ngapain kamu obrak-abrik mobil ini!?"
"Arini... kenapa juga kamu tiba-tiba muncul disini?"
"jawab dulu pertanyaan aku! " tanya Arini heran
"aneh...! kamu ga lihat aku lagi ngapain!"
"Alan Ferdian yang kamu obrak-abrik itu mobil ibu aku"
"jangan ngelantur deh!!"
"ibu dan anak sama aja, kemarin habis tolong anaknya sekarang ibunya!"
"ya.. ya deh!!! untuk saat ini kamu dewa penolong untuk kami, thanks ya! "
"wah... hanya segitu reaksi kamu!!"
"lalu aku harus gimana? "
"you are my girl friend Ar, dikasih kiss ke atau...."
"enak aja!! ingat syarat no 1...don't touch me, it means no kiss... " tanggap Arini sebelum Alan melanjutkan kata-katanya yang membuatnya memerah.
"aaahhh Ar... kenapa sih kaku banget? "
"kamu niatnya mau nolongin atau mesum sih!! dasar playboy gila!! " umpat Arini
Mendengar Arini mengumpatnya dengan istilah playboy gila, langsung Alan mendekatinya sampai Arini tersandar di dinding mobil itu, sehingga membuat Arini seketika kaget di ikuti getaran jantung yang terpacu karena wajah Alan hampir menyentuhnya.
"Ar... please don't call me playboy gila! yes.. i'm playboy, so wanita kayak kamu mudah untuk aku taklukan,"
Arini langsung mendorong Alan hampir saja terjerembab, untung saja keseimbangannya kuat. Arini kesal karena Alan menganggap dirinya sama seperti wanita-wanitanya.
Arini memamg tak bisa membantah omongan Alan, kenyataannya memang benar Arini dengan mudahnya menyetujui menjadi pacarnya, pikirnya itu merupakan langkah awal permainannya tapi malah sebaliknya.
Tak lama kemudian mobil derek dari pihak bengkel yang menjadi langganan keluarga Arini pun tiba. Sehingga Alan tak berlama - lama lagi mengecek kondisi mobil itu.
"sebaiknya kamu pergi aja Lan!! terima kasih sekali lagi udah bantuin aku dan ibu... "
"ok-lah.. aku bilangin ya... silakan bagi kata terima kasih mu itu ke orang lain aja, soalnya punyaku sudah full..."
__ADS_1
Alan pergi dengan wajah dingin, berpura-pura marah, mencari empatik Arini agar penasaran dengan dirinya, trik seorang playboy.
"hi.. tuan muda!! kemana aja? lama banget.. "
ungkap Agung ketika Alan tiba ditempat tongkrongan mereka.
"Ada situasi mendesak aja!! "
Alan berbisik pada Agung "kenapa ada 2 wanita ini disini?"
"katanya mereka mau ngomong sesuatu pada kamu!!"
Dua wanita yang dimaksud Alan itu adalah si Silvi dan Ratna yang pernah jadi gebetannya.
Tanpa disuruh lagi, Silvi dengan agresif duduk bersebelahan dengan Alan. Reaksi Alan hanya dingin "apa yang elu mau ngomong Silvi? so to the point jangan pake bertele-tele"
"ok.. kemarin aku lihat Nagita sama seorang pria bule mesra banget di sebuah pusat perbelanjaan"
"lantas... aku harus percaya kata-kata elu"
"kamu ga percaya Lan? tanya tu sama si Ratna!"
Silvi langsung beralih pandangan pada Ratna untuk mendapat dukungan darinya agar Alan percaya.
"ya, benar apa yang dikatakan Silvi!"
Alan tak bereaksi apa-apa pikirnya "ini pasti akal-akalan Silvi". Alan sudah paham sifat dan karakter Silvi, wajah memang cantik tapi hatinya kayak iblis.
Bagi Alan selama berpacaran tak pernah seorang wanita yang pernah menjadi pacarnya akan berpaling darinya, hanya karena pria lain. Karena Alan tahu pesonanya berkharismatik semua wanita pasti takluk padanya sehingga gelar playboy disematkan pada dirinya.
"sudahlah terserah dia aja!! i don't care.. "
"tapi Lan.. kamu harus putus dengannya.!"
" bisa ga elu sehari aja tidak ganggu hidup gue Silvi, kita juga putus dengan baik-baik kan!"
"tapi aku masih sayang banget sama kamu Lan!"
"itu urusan lo.. gua ma sudah end! aaahhh... gua balik aja!"
Alan beranjak pergi, teman-temannya menjadi penonton dari awal pembicaraan mereka hanya diam saja, soalnya ketika tuan muda itu sedang berbincang serius dengan orang lain tak boleh seorangpun menjadi pengganggu, bisa-bisa hancur isi ruangan itu.
Hanya Bento berlari mengikuti Alan dari belakang. Dan memberi kode pada wanita-wanita itu agar tidak turut mengikutinya karena bisa jadi perang dunia 3.
"bro.. elu mau pulang benaran, atau ketempat Nagita!"
"ga tahu!! Nagita 2 hari ga ada kabar" ungkap Alan
" oh... jadi ini membuat elo kesal"
Alan diam tak berkata-kata karena Bento sepertinya sudah tahu penyebabnya. Bento menepuk pundak Alan "elu sudah insyaf jadi playboy, biasanya elu ga peduli!!"
"gua benci aja diabaikan!"
"entar gua coba cari info mengenai Nagita... kalau elo mau balik boleh deh, kita mau bubar kok, hanya mau ngobrolin besok ke Bali!"
"pergi aja, emangnya siapa yang melarang bro!"
"ga..bukan soal itu! Agung ajak kita kesana pake private jet keluarga mereka, gua pikir elu pake punya elu juga!!"
"punya agung aja! soalnya ayahku ada perjalanan bisnis! jadi gua bareng kalian"
" sip deh!! "
"gua balik! ingat jangan ada wanita lain disana!! "
" beres tuan muda!!"
__ADS_1
Alan pergi mengendarai sepeda motornya, Alan jadi malas untuk pergi ke apartemen Nagita. Moodnya sudah rusak, Alan kembali kerumah dan meminta mak siti mempersiapkan keperluannya untuk berangkat ke Bali besok. Alan juga memberi informasi kepada penjaga vila mereka di Bali, agar vila itu dapat diberesin dan dibersihkan.