
"Ar, kamu di panggil Dekan Fakultas!." Seorang teman kelas menyampaikan pesan itu. Arini sedang berada di ruang desain untuk menyelesaikan project kompetisi fashionnya karena ada beberapa hal yang harus di perbaiki pada karyanya itu.
"Thanks ya!," jawab Arini.
Kebetulan Ririn si usil yang selalu mencari masalah mendengar bahwa Arini di panggil dekan tentunya membuatnya mewanti-wanti Arini akah di pilih menjadi pemenang kompetisi fashion itu, sehingga membuat Ririn timbul rencana buruk untuk menggagalkannya.
"Selamat pagi bu!."
"Selamat pagi. Hai Arini, ada berita bagus buat kamu!."
Arini langsung mengambil duduk di kursi yang ada dekat meja dekan itu. Arini menjadi gugup dan deg-degan akan mendapat berita baik itu.
"Portofolio desain fashion mu di terima oleh perusahan Mode and Design Italy dan selanjutnya desainmu akan di ikutkan dalam ajang Italy Fashion Week yang di laksanakan 3 bulan ke depan," jelas ibu dekan itu penuh kebanggaan pada Arini.
"Puji Tuhan, apa ini mimpi bu?."
"Ya, ini mimpimu yang menjadi nyata Arini!."
"Terima kasih bu!."
"Perusahan Mode & Design Italy akan mengirim kontrak 2 hari lagi, setelah itu kamu akan ke Italy untuk merancang design mu itu sendiri bersama timnya, selamat ya!." Ibu dekan memeluk Arini yang di penuhi senyum kebahagian.
Setelah Arini menerima kabar gembira tersebut, semangatnya tersulut untuk melanjutkan karyanya, sehingga Arini menghabiskan hari ini di perpustakaan untuk mencari referensi yang dapat menguatkan karya desainnya itu, secara teori. Untuk prakteknya Arini sudah mahir.
...****************...
Di toilet wanita, ada Ririn dan seorang mahasiswi bayaran untuk berbuat curang. Toilet itu sudah di kunci Ririn dari dalam dan di pastikan tak ada orang lain selain mereka berdua.
"Elu ke ruang dekan, dapati portofolio milik Arini setelah itu elu copy filenya kemudian elu kirim ke gue!."
__ADS_1
"Tapi Rin,..." Mahasiswa bayaran takut juga.
"Kalau gue ketahuan elu harus nyelamatin gue!," lanjut mahasiswi itu.
"Tenang!, Rektor di kampus ini teman bokap gue, dan juga mereka ga akan bisa berbuat lebih sama elu!."
"Elu jamin kan Rin?."
"Ya gue jamin!, gue bayar elu mahal deh!." Ririn meyakininya lagi sehingga mahasiswi bayaran itu akhirnya percaya dan mau melakukannya. Setelah Ririn selesai dengan urusannya, mereka segera keluar dari toilet. Tapi ternyata tanpa di sadari percakapan rahasia itu, ada seseorang yang mendengarnya dari bilik WC. Yang menyesalnya orang itu adalah Nagita Wilson. Dan pastinya Nagita menjadi senang, ada orang yang memusuhi Arini di kampus ini, sehingga Nagita sumringah di depan cermin toilet.
"Sepertinya gue ga perlu mengotori tangan ini untuk membalas dendam pada Arini, Tuhan memang baik tahu yang gue mau!," lirih Nagita merasa menang.
Setelah Nagita di touch up wajahnya, bibir merahnya di perbaiki, selanjutnya Nagita mencari kekasihnya Alan di Fakultas Bisnis. Tapi tidak di temukan olehnya karena memang Alan sedang berada diruang Pak Abas, untuk membuat hasil laporan dari kegiatan camping rohani mereka di Bali. Besok akan dijadwalkan untuk rapat evaluasi. Pak Abas menyuruh Alan karena tahu Arini sedang sibuk membuat persiapan kompetisinya yang sudah diketahui beberapa dosen. Justru alasan ini yang tidak diketahui Alan kalau Arini sebentar lagi akan ke Italy.
...****************...
Alan mendapat tugas dari Pak Abas, langsung saja dikerjakannya. Di hubungi beberapa panitia kegiatan via WA agar dapat berkumpul di Perpustakaan untuk mengumpulkan file tiap seksi yang sudah dijalankan.
"Kamu Lan, hampir saja kamu membuatku malu tahu!."
"Jangan berpura-pura Ar, kamu mau kan?."
"Bisa diam ga!, kamu ganggu yang lain pada belajar loh!." Walaupun suara mereka pelan tapi menimbulkan suara berisik.
"Kenapa leher kamu di plester Ar?."
"Ini gara-gara kamu, sampai hari ini ******* itu tak hilang!," ungkap Arini agak malu, Alan semakin menggoda Arini.
"Itu tanda kalau kamu itu milik Alan Ferdian!."
__ADS_1
Arini tak terima di pukuli pundak Alan dengan buku yang agak tebal. Sakit sih, cuman Alan berpura-pura kuat aja depan Arini supaya di anggap kuat dan perkasa.
"sssssssssttttttttt." Suitan panjang dari pengunjung Perpus lainnya yang merasa terganggu. Arini mengalah kalau di ladeni terus pasti tak akan selesai perdebatan mereka.
Arini kembali fokus dengan apa yang di pelajarinya. Alan melihat Arini sudah serius, tentunya dirinya pun demikian lanjut menyusun tugasnya sambil menunggu teman panitia lainnya membawa laporan mereka masing-masing untuk di padukan jadi satu.
Setelah 2 jam lebih, Arini selesai juga dengan bahan referensinya. Ada beberapa buku yang harus di kembalikan ke rak buku seperti semula. Di lirik Alan ternyata juga serius. Malah Arini acuh tak acuh, dan bangun dari duduknya menuju rak penyimpanan buku.
Ketika Arini di dekat rak bertema Fashion di abjad Y, Arini bermaksud menyusun buku itu namun seketika Alan sudah berada di hadapannya.
"Kamu suka sekali ngagetin sih!."
Alan menatapnya dengan dalam membuat Arini merasa terhimpit karena Alan berusaha mendekatinya.
"Apaan sih Lan?, elu pikir ini drama korea, mau mengambil kesempatan dalam kesempitan!."
Alan malah diam saja, terus mengintimidasi Arini sampai Arini mundur berlahan untuk menghindar.
"Lebay deh!, mau ngerayu kok ngejiplak drakor, ga mempan aku sudah tahu akting kamu!."
Dan tiba-tiba Alan langsung mendekap Arini masuk kedalam pelukannya.
"prrraaak." Sekumpulan buku jatuh berhamburan di tempat awal Arini berdiri. Arini jadi tahu alasannya Alan mengikutinya ke rak buku itu karena tahu buku-buku itu akan jatuh. Dengan kejadian itu beberapa pengunjung Perpus langsung berdatangan menghampiri mereka untuk memastikan tak ada korban dan Arini segera melepaskan pelukan Alan. Ada yang membantu beresin buku yang berantakan tersebut. Namun Arini sudah bertekad tak lagi termakan rayuan Alan.
"Ini setingan kamu kan?, supaya terkesan natural!."
"Hei Ar, ini benaran bukunya mau jatuh!." Alan menjelaskan karena Arini bersikap aneh. Arini berlalu pergi dengan terburu-buru tak mau berdebat lagi. Arini sengaja membuat jarak dengan menciptakan pertengkaran kecil ini. Alan tak bisa menyusul Arini karena harus membantu merapikan buku-buku itu.
Sudah hampir sore, Arini mendapat pesan dari Rendra kalau dirinya dalam perjalanan ke arah kampus mau menjemput Arini sesuai janjinya semalam sehingga Arini tidak mengendarai motor maticnya. Malahan tadi pagi Arini menggunakan transportasi umum. Arini berjalan menuju ke depan kampus, melewati parkiran mobil biasa Alan memarkirkan mobilnya. Pastinya pemiliknya juga ada disitu. Alan berada di mobil itu tapi tidak sendirian sudah bersama Nagita didalamnya. Arini berusaha menghindar dengan di percepat jalannya tapi entah kenapa Arini sempat menoleh sebentar ke arah mereka, wow daebak....!!!, pemandangan yang menyakitkan mata. Alan dan Nagita terlibat dalam ciuman panas di mobil.
__ADS_1
"Dasar playboy mesum, gila, breng***!." Semua umpatan keluar dari mulut Arini. Hatinya terluka, terasa sesak dadanya. Dan adegan itu ternyata di sengaja Nagita karena sudah melihat sosok Arini dari kejauhan yang pastinya akan melewati mereka. Alan tidak menyadari kalau adegan mesra mereka di lihat Arini. Nagita tersenyum bahagia.