Sang Playboy Mencari Cinta

Sang Playboy Mencari Cinta
Bab 17


__ADS_3

Hari menjelang tengah malam, ada beberapa mahasiawa/wi sudah kembali ke kamar masing-masing dan ada juga masih dengan kegiatan mereka. Berhubung hari pertama jadwal mereka belum padat, hanya acara pembukaan maka anak-anak yang lain masih memanfaatkan kesempatan.


"Hai, anak junior!. Elu, yang gue panggil!." Alan memanggil junior yang mengatur pembagian kamar, awal mereka tiba pagi tadi.


"Ya kak!, ada apa?."


"Senior elu yang bernama Arini itu, elu tempatin dia di kamar mana?."


"Oh, kak Arini!. Sepertinya kamar pada full, saya sisipkan ke salah satu kamar tapi kak Arini ga mau, katanya terlalu sempit jika tiduran."


"Lalu di villa mana Arini sekarang?."


"Di Villa 3 kak!."


"Emang masih muat di sana?."


"Ga tahu juga kak!. Soalnya saya di villa 2. Apa perlu saya check?."


"Ga usah!. Gue aja, jangan bilang-bilang senior elu kalau gue nyari tahu tentang dia."


"Sip kak, beres!."


Alan memang sengaja membuat Arini tak kebagian kamar, supaya nanti urusannya Arini dengannya. Eh, malah sebaliknya Si Bento yang sekarang menjadi tamengnya, hal ini membuat Alan menjadi kesal.


"Hai Lan, aku temanin ya!."


Silvi langsung merangkul tangan Alan dan bergelayut. Alan tak bisa berbuat apa-apa karena Alan tahu jika semakin di tolaknya Silvi akan menjadi agresif.


"Silvi, elu juga ada disini?."


"Demi dirimu beib!. Tumben kamu sendiri aja!. Tapi baik juga sih kamu sendiri, kita bisa berdua-duan donk!."


"Hmm, elu ga pernah kapok ya!. Sudah berulang kali gue tolak tetap aja elu nempel. He, Silvi gue bilangin ama elu kalau jadi cewe tu jual mahal dikit napa?."


"Kan gue jual murah cuman di kamu Lan!. Mana berani aku sama pria lain. Aku kan selalu bilang bahwa aku cintanya sama kamu Lan!."


"Jangan berlebihan deh!. Elu pikir gue akan jatuh hati atau pun tertarik dengan elu!."


Tak lama muncul Nagita dan Bento, Nagita melihat Silvi sedang menggandeng Alan, air mukanya menjadi memerah.


"Elu, kan yang tadi numpahin bumbu sate di baju gue?." Nagita memastikan.


Silvi memasang muka angkuh tak perduli.


"Oh, jadi karena ini!."


"Siapa dia Lan?." Nagita beralih ke Alan karena melihat tingkah Silvi yang semakin mendekap Alan dan itu di sengaja. Herannya bukannya Alan mengelak atau menghindar dari kelakuan Silvi malah membiarkannya, sehingga membuat Nagita sebel.


"Sekalian kenalan aja!. Kenapa pake nanya sih?,"


jawab Alan tanpa beban.

__ADS_1


Bento hanya tersenyum melihat kelakuan 2 wanita yang memperebutkan playboy gila kayak Alan.


"He, Rony dimana?. Tak terlihat batang hidungnya sedari tadi. " Bento berusaha menengahi keadaan yang kurang kondusif.


"Pada duduk kenapa?. Ini ada hidangan ayo kita nikmati aja!."


Nagita langsung menghadang Silvi.


"Bisa ga elu lepasin tangan elu dari Alan?."


"Apa sih hak elu bule kampungan?. Alan aja ga merasa terganggu kok!."


"Gue pacarnya!. Jelas terganggulah buat gue!."


"Ya, terserah elu!. Emang gue pikirin!, gue juga pacarnya Alan!."


"Lan, kenapa sih elu diam aja!." Nagita merengek minta dibelain.


"Gue pusing dengar kalian nyolot!. Gini, kalian beradu mulut di sini gue pergi sebentar nyari udara segar. Hai Ben, elu jadi wasitnya!." Alan sedikit bergurau.


Alan jadi tak betah berlama-lama dengan keadaan itu pergi menyusuri arah pantai menuju gazebo/ tempat duduk santai tepat di atas batu karang yang di buatkan sengaja mengarah ke laut. Di situ memang sepi karena lampunya remang-remang.


Deburan ombak membuat malam semakin mencekam, ternyata di situ ada Arini yang menikmati suara malam sambil berbaring di atas kursi panjang berbahan rotan di atasnya di lapisi bantal empuk. Matanya terpejam, telinga di sumpal dengan headset sehingga kedatangan Alan tak di sadarinya.


Alan duduk dihadapan Arini sambil memandangi wajahnya. Alan lirih, "Nekat banget Ar!. Kamu berencana mau tidur disini, sampai selimut pun kamu bawa!."


Alan mulai merasa bersalah, karena perbuatannya Arini sampai tidur di luar.


Alan sedikit pun tak beranjak dari tempat itu, terus menemani Arini karena kuatir Arini benar tiduran di situ. Pandangan Alan tak pernah lepas dari wajah Arini, sewaktu-waktu Alan hampir kebablasan, bibir mungil Arini di sentuh dengan jemarinya. Gejolak yang di rasakan dalam dadanya seakan menyuruhnya untuk memdekap gadis itu. Semakin di tatap Arini, terlihat jelas ada guratan-guratan kesedihan yang di sembunyikan. Arini ternyata benar-benar ketiduran, dan nyenyak. Alan pastikan itu dengan sengaja mengelus ujung kepalanya tak ada reaksi apapun, ataupun memegang tangan Arini pun tak ada pergerakan. Alan tersenyum tipis, melihat wajah asli Arini ketika tidur. Sampai jam larut, Arini semakin menikmati tidurnya tak perduli dengan keadaan sekitarnya. Alan terus terjaga, tak sedikit pun berpindah matanya masih melek tak ingin malam ini cepat berlalu.


Ayah Armando Ferdian tiba di Paris, langsung menemui anaknya Hendra di rumah sakit kanker.


"Ayah, kak Alan dimana?," tanya Hendra. Ketika ayahnya tiba, sepertinya Hendra sangat merindukan saudara tua-nya itu.


"Kak Alan, kuliah nak!. Kalau libur, pasti kakakmu mengunjungimu!." Ayah berusaha menghibur Hendra sekalipun itu sebuah kebohongan untuk kebaikan anaknya. Karena ayah Armando tahu Alan sebentar lagi akan lulus kuliah jadi biar dia fokus sama kuliahnya dulu sehingga mereka belum bisa memberitahukan kalau adiknya sakit kanker.


Ibu Dian langsung ikut nimbrung dalam pembicaraan itu dan mengubah topik pembicaraan.


"Ayah, sudah selesai urusan bisnis di Singapura?."


"Sudah mom!. Ayah punya kabar baik, ternyata teman bisnis ayah di Singapura adalah teman dekat ayah waktu SMA dulu!."


"Oh ya, bagus donk!. Berarti sukses buat ayah!."


"Mom, teman ayah itu punya anak gadis, kuliahnya di Indonesia katanya satu kampus sama Alan."


"Maksud ayah, mau di jodohin sama Alan!."


"Emang kenapa?."


"Ayah kan tahu, Alan kayak gimana?, apa dia mau?."

__ADS_1


"Kita buat perkenalan aja dulu!. Kalau ga cocok ya ga usah!."


"Terserah ayah aja!. Apakah anak perempuannya cantik juga baik menurut ayah?."


"Ayah punya fotonya, mommy mau melihatnya!."


"Iiih ayah, kok sampai segitunya simpan foto cewe yang belum di kenalnya." ledek Hendra yang hanya mendengar percakapan itu kini ikutan juga.


"Ini calon anak mantu nak!. Ayah harus benar-benar di seleksi, " balas ayah pada Hendra.


"Hendra hanya becanda yah!." Ayah Armando hanya tersenyum melihat anaknya mulai ceria dan Mommy Dian juga turut tersenyum melihat Hendra godain ayahnya. Mommy Dian menghampiri ayah untuk melihat foto gadis itu di layar ponselnya.


"Kok, bule yah!."


"Ya, iyalah!. Teman ayah ini memang bule dari Australia. Ibunya orang Bandung. Cuman satu masalahnya, keduanya sudah bercerai. Masing-masing sudah nikah lagi. Teman ayah ini sekarang tinggal di Singapura sedangkan mantan istrinya masih Australia."


"Ayah, aahh.... !. Mommy ga suka aja Alan di jodohin sama bule. Mommy pengen Alan sama gadis asli indonesia aja!."


"Kan yang beda cuma kulit dan ras mommy!."


"Ya, tapi mommy tetap ga suka aja!."


"Lalu gimana donk?. Ga enakan sama teman ayah, soalnya ayah sudah setuju untuk tahap awal perkenalannya."


"Ayah atur aja deh!. Tapi feeling mommy, Alan pasti suka sama gadis asli indonesia."


"Mommy and ayah ga usah bertengkar!. Yang bersangkutan aja belum tahu mau atau tidak, kalian sudah pada ribut!." Hendra menengahi.


"Ya, ya..., ayah salah, maaf deh!. Tapi kita coba ya mommy!. Daripada Alan pacaran sana-sini ga jelas!."


"Ok deh, ayah atur aja!," jawab mommy Dian memelas mengikuti kemauan ayah.


Setelah pembicaraan singkat itu, mommy Dian mempersiapkan sarapan pagi anaknya, dan mengurus semua keperluan pribadi Hendra. Dan setelah semua di lakukan Hendra pun tertidur pulas. Mommy dan ayah akhirnya punya waktu berdua untuk mengobrol tentang kesehatan anaknya.


"Lalu apa kata dokter mom mengenai kondisi Hendra?."


"Hendra harus melakukan beberapa kali kemotrapi lagi, sel kankernya belum bisa di tindak lanjuti ke tahap operasi!."


"Kenapa demikian mommy?."


"Karena dokter masih melihat proses perkembangan dari kemotrapi tersebut. Jika tidak memungkinkan Hendra akan di operasi."


"Kalau menurut dokter itu yang terbaik, kita ikuti saja mom, di barengi dengan berdoa."


"Mommy kemarin sore ada minta bantuan pastor di gereja untuk mendoakan Hendra yah!."


"Itu bagus donk mommy!."


"Lalu bisnis mommy gimana?, ada yang handle?."


"Itu mah ayah jangan kuatir!. Mommy punya orang kepercayaan, mommy selalu monitor kok!."

__ADS_1


"Syukur deh!."


Itulah kekompakan keluarga Armando Ferdian, walau bergelimang kekayaan, mereka selalu bersyukur dan berdoa pada Tuhan dalam keadaan apapun. Keluarga mereka sudah terbiasa juga dengan bersedekah. Perusahan mereka pun masing-masing punya Yayasan untuk santunan. Herannya Alan kok bisa jadi ga percayaan sama cinta, padahal di keluarganya di penuhi cinta dan keharmonisan.


__ADS_2