
Setelah Alan menyelesaikan masalahnya dengan beberapa anak buahnya, Alan kembali keruang kerja.
“Permisi tuan muda! Didalam ada tamu “Tuan Daniel Pearl”, sudah sedari tadi menunggu!” Lydia langsung mencegat Alan
“Daniel Pearl? Emangnya sudah ada janji dengannya?”
“Katanya tuan muda sendiri yang menyuruhnya datang! Baiklah,terima kasih! Tolong perhatikan lagi schedule saya untuk besok!” Alan mencoba mengingat sekretarisnya.
“Selamat siang tuan Alan Ferdian!” Daniel langsung menyambut Alan ketika baru saja dilihat Alan di depan pintu. Seketika Alan langsung mengingat wajah Daniel ketika waktu itu bertemu di airport. Alan tak memberi tangannya ketika Daniel mau menyalaminya, pandangan Alan malah mencari sosok Nagita yang tidak terlihat di ruang kerjanya. Alan masih terlihat cuek, bahkan menghampiri set meja kerjanya dan mengambil gagang telepon memanggil sekretarisnya, hanya semenit Lydia sudah berada diruangan itu,
“Lydia, kamu tidak melihat nona Nagita kemana?” tanya Alan
“Maaf tuan muda, saya tidak tahu! Tapi setahu saya sedari tadi nona disini menemani tuan Daniel, bahkan nona Nagita keluar dari ruangan ini tak pernah saya melihatnya.” Jelas Lydia
“Maaf, Apa mungkin tuan Daniel tahu?” tanpa sungkan langsung bertanya pada Daniel karena Lydia tahu mereka lumayan akrab ketika ngobrol tadi. Daniel seketika menjadi gugup.
“Yang anda maksud tunangan tuan Alan! Oh..barusan aja pergi sebelum tuan Alan masuk ke ruangan ini.!”
“Terima kasih saya sudah di jamu ditempat ini, tunangan anda sangat ramah menyambut tamu!” sambung Daniel lagi.
“Kamu boleh pergi Lydia! Oh, tunggu! Apakah Ronny sudah datang?”
“Sudah tuan! Tuan Ronny ada di Devisi Penjualan dan Pemasaran untuk memeriksa dan mengawasi project yang sedang berjalan bersama investor Dubai.” Lydia menjawab pertanyaan Alan dan mengangguknya dengan perasaan legah karena Ronny sudah tahu akan tugasnya sebelum mendapat perintah darinya. Lydia pun segera keluar dari ruang kerja Alan.
Alan tak mungkin terus cuek dengan tamunya, harus profesional. Sikapnya tadi hanya untuk memberi kesan elegan bahwa dirinya bukanlah orang biasa.
“Silakan duduk, tuan Daniel!” Daniel memang belum duduk ketika Alan memasuki ruangannya dan inilah sebuah etika. Walau hal kecil tapi respect terhadap orang lain yang belum kita kenal membuat kesan positif.
“Terima kasih!”jawab Daniel karena melihat Alan tampak ramah dan mau menyambutnya.
__ADS_1
Maka dari itu, Daniel pun mula-mula tidak langsung berbicara maksud kedatangannya tapi berusaha menjalin keakraban sambil membicarakan perihal mengenai pertemuan mereka yang tidak di sengaja waktu di bandara yang mungkin terkesan buruk.
Daniel akhirnya mendapat sikon yang pas antara mereka dan menyampaikan inti permasalahannya. Daniel ternyata ingin mempromosikan perusahannya kepada Alan untuk mau berkerja sama dengannya bahkan menawarkan Alan untuk menjadi investor diperusahannya yang baru dibuka cabang di Indonesia. Pembicaraan antar kedua pengusaha ini awalnya terdengar ramah namun semakin kesini semakin alot, karena bagi Alan tak segampang itu menjalin kerja sama dengan perusahan asing yang belum dikenalnya. Dari pembicaraan itu Alan tak bisa memberi banyak pada Daniel seperti keinginannya.
Daniel agak kecewa, panjang lebar mereka berbincang ternyata tak ada hasil. Alan sulit diajak kerja sama. Tapi Daniel tetap positif thinking, suatu saat kesempatan itu pasti diperolehnya. Karena waktunya memang tidak pas berbicara bisnis saat ini. Daniel perlu mengenal dan mempelajari calon rekan bisnisnya.
...****************...
Keadaan Nagita yang masih berdiam diri dalam toilet, untuk menghindar dari Daniel yang berada diruangan kerja Alan. Nagita memang tak bisa menyembunyikan wajah takutnya apabila mereka bertiga akan bertemu dalam satu kondisi yang sama. Maka dari itu secepat kilat Nagita langsung berlari ke toilet ketika tahu Alan akan datang.
“Sejak kapan Daniel mengenal Alan? Apa sih rencananya sekarang?” Nagita bertanya pada dirinya sendiri tepat didepan cermin. Nagita menjadi curiga akan rencana buruk Daniel pada Alan atau bahkan pada hubungan mereka kelak.
Tak lama handphone milik Nagita berdering, dilihat di monitor ternyata Alan memanggil. Tak segera Nagita mengangkatnya malah membiarkan berdering beberapa kali.
“Hai sayang!” Nagita langsung menyapa
“Na, kamu dimana? Aku lapar, yuk kita makan dulu, sebelum kamu ke kampus!” Alan menyampaikan maksudnya
“Hemm” Alan singkat membalas tanpa berbasa-basi lagi. panggilan pun ditutup Alan sambil menunggu Nagita.
Nagita bersiap hendak keluar dari toilet, ternyata sesosok tubuh tinggi dan besar menyergapnya mendorong tubuhnya untuk masuk kembali ke toilet itu. Pintu langsung dikunci rapat oleh pria itu yang ternyata adalah Daniel Pearl.
“Daniel,...” suara Nagita takut ketika dia tahu yang menyergapnya adalah Daniel.
“Sayang,....Kamu mau lari kemana?” Daniel sudah mendorong tubuh Nagita sampai bersandar di tembok bak serial drama korea bahwa sang pria sudah dengan pose yang selalu di impikan pasangan kekasih. Karena Daniel tentu mulai menggoda Nagita sambil menyentuh dagu Nagita mengangkatnya perlahan agar kedua pandangan sejoli ini saling bersitatap.
“Nagita sayangku!” Nagita tak bisa bergerak
“Daniel, please biarkan saya pergi sekarang!”
__ADS_1
“Kenapa? Kekasih mu menunggu ya? Katakan padanya bahwa kamu adalah milikku”
Nagita tak bisa membalas lagi hanya menatap wajah Daniel penuh selidik.
“Ingat malam ini aku menunggu kamu!” Tak pake lama, langsung di pagut bibir Nagita, dicium dengan penuh gelora. Nagita berusaha melepaskan diri tapi tak bisa karena cengkraman Daniel begitu erat. Semakin Nagita berontak maka akan semakin erat, oleh karena itu Nagita akhirnya menyerah malah mengikuti instingnya untuk membalas ciuman Daniel sehingga keduanya semakin terlena dan semakin masuk kedalam gelora asmara Daniel yang mengebu-gebu. Karena mendapat balasan dari Nagita tentunya hatinya bergembira bahwa Nagita memang tak bisa melepaskan dirinya.
“I miss you, sayang!” Daniel melepaskan ciumannya dan membisikan kata ini ditelinga Nagita, yang membuat hatinya menjadi goyah.
“Ingat, tak ada yang bisa menyentuh kamu selain aku bahkan kekasihmu itu”
“Tapi Daniel....kita tak mungkin bersama, karena sebentar lagi aku akan bertunangan dan juga aku tak bisa mencintai kamu lagi!” jelas Nagita pada Daniel.
“Kamu jangan terlalu terburu-buru sayang untuk mengatakan bahwa kamu tak cinta!”
“Karena nanti kamu akan benar-benar cinta nantinya” dengan percaya diri Daniel mengatakah demikian karena Nagita selalu tak menolak untuk bersama dirinnya.
“Sudahlah Daniel! Ga perlu halu, aku tak perlu menjelaskan karena sikapku akan sama bahwa aku tak mencintai kamu lagi!”
“Hahahaha...Nagita Wilson! Semakin kamu menolak aku, terlihat jelas isi hatimu sebenarnya sayang! ”
“Aku tahu kamu menolak perasaan itu karena masa lalu kita yang buruk,atau karena aku yang sudah berubah menjadi lebih baik kan?”
“Sudahlah Daniel, Aku harus pergi!” Nagita tak mau membahas lebih dalam lagi, dalam hatinya takut, apa yang dikatakan benar adanya. Tak lama pintu toilet itu di di gedor dari luar, gagang pintu berulang kali dipaksa digoyangkan untuk di buka.
Dengan begitu Nagita punya waktu untuk menghindar, dan segera mau membuka pintu itu tapi segera di cegat oleh Daniel.
“Kamu mau kekasihmu tahu kalau kita berduaan disini, kalau mau silahkan!” Daniel berlagak membiarkan mencoba keberanian Nagita.
“Aku sih mau aja, Silahkan sayang!” Daniel terus menggoda Nagita
__ADS_1
Nagita kembali berpikir, “benar juga, kalau aku keluar sekarang berarti akan ketahuan bahwa Nagita bersama Daniel”. Nagita menghentikan langkanya dan keduanya diam sejenak sambil berjaga bahwa orang yang mengedor pintu toilet akan pergi ketika dia tahu pintu tidak dapat dibuka.
Dan selang beberapa menit berlalu tak ada lagi suara, maka dengan cepat Nagita langsung pergi menghilang dari pandangan Daniel. Malah sebaliknya untuk Daniel melepas kepergian Nagita dengan senyum penuh kemenangan karena telah mengintimidasi perasaan Nagita untuk sekedar mencari tahu yang sebenarnya untuk terus mengambil kembali miliknya yang pernah hilang dan disia-siakan oleh dirinya dulu.