Sang Playboy Mencari Cinta

Sang Playboy Mencari Cinta
Bab 36


__ADS_3

"Bu..., Arini ada berita bagus!"


Perbincangan ini terjadi ketika keluarga kecil ibu Yanti sedang bersantai.


"Oh ya! Apa dong?"


"Bu, seandainya Arini minggu depan jadi berangkat ke Italia, gimana jadinya ibu dan Tara?"


"Apa sih maksud perkataanmu nak?"


"Nantinya Arini magang ke Italia, waktu itu ada kompetisi desain fashion, Ibu Dekan menyarankan Arini untuk ikutan, eh Tuhan berkehendak lain, Arini ternyata menang. Dan karya Arini akan di ikutkan dalam Italia Fashion Week 3 bulan ke depan"


"Apa? Ini benar yang kamu katakan nak!"


"Ya, Iyalah bu! Masa Arini bohong sih!"


"Puji Tuhan nak!" Ibu Yanti sampai terharu setitik air mata bening tanda kebahagian dan kebanggaan mengalir di pipi sambil dipeluk erat Arini dengan kasih sayang.


"Terima kasih bu! Ini juga berkat doa ibu"


"Tapi....!!" Wajah Arini tersirat kekuatiran


"Ada masalah nak?"


"Iya bu, Arini dituduh plagiat oleh teman kampus atas karya Arini sendiri, ga masuk akal kan bu!"


"Kalau kamu ga melakukan hal demikian untuk apa kamu takut nak, Tuhanlah yang menjadi pembelamu, jadi kamu ga perlu cemas sayang!." Ibu Yanti mengelus kepala Arini untuk tidak terlalu memikirkan hal itu.


"Sebaiknya kamu fokus, dan persiapkan semuanya mulai besok apa yang perlu kamu bawakan!"

__ADS_1


"Sip bu,...!"


"Arini berat meninggalkan Ibu dan Tara sendirian di rumah!"


"Kamu ga perlu kuatir sayang, kami selalu baik-baik saja asalkan kamu pun demikian disana!"


"Heemm"


"Oh iya! Arini minta bantuan ka Rendra aja, untuk jagain ibu dan Tara"


"Rendra pasti sibuk nak! Tapi kalau ibu butuh bantuannya, ibu pasti minta bantuan sama dia!"


"Nah gitu dong bu! Arini jadi legah, Ka Rendra pasti ga keberatan kok!"


"Iya.. Iya nak!" Arini sudah tiduran dipangkuan ibunya. Menikmati sisa waktunya bersama keluarga karena moment seperti ini pasti sangat membuatnya merindu ketika sudah berada jauh dari mereka.


...****************...


"Bagus,.. Terima kasih nanti saya calling lagi jika saya butuh bantuan!"


"Baik tuan muda, selamat malam!"


Panggilan berakhir antara Alan dan anak buahnya itu.


Alan akhirnya mengetahui ini semua ulah teman kelas Arini sendiri yang bernama Ririn itu.


"Oh jadi, ayahnya salah satu anggota yayasan dan donatur kampus, pantesan dia berlagak sok kuasa! Harus diberi pelajaran ini orang!" Alan bercoleteh sendiri setelah tahu identitas Ririn. Apalagi Alan juga sempat menonton video Arini yang mengalami kekerasan fisik dari Ririn.


"Mak siti, kalau ayah nanyain Alan, kasihtau kalau saya ke rumah teman ya!"

__ADS_1


"Baik tuan muda!" Alan sudah bersiap-siap mengambil kunci mobilnya.


Malam ini Alan ingin menemui Arini dirumahnya, hanya ingin memastikan keadaannya baik-baik saja setelah mengetahui masalah yang dihadapinya. Dalam perjalanan ke rumah Arini, tiba-tiba saja cuaca berubah, hujan sudah mulai turun membasahi bumi, Alan berhenti sejenak di sebuah toko kue, untuk di jadikan buah tangan untuk ibu dan adik Arini di rumah.


Alan sedang menunggu pesanan kuenya dibungkus, pemandangan di depan toko kue itu membuatnya tak berhenti memandang, ternyata itu adalah Arini dengan pria yang dilihatnya di kampus. Mereka sedang berteduh dari hujan, karena Arini ternyata keluar bersama Rendra untuk mencari jajanan.


"Siapa juga pria itu? Mereka sepertinya sudah lama saling kenal!"


Alan perhatikan Arini dan Alan begitu akrab, apalagi Alan melihat tatapan Rendra terhadap Arini sangat teduh dan ada cinta didalamnya sehingga membuat Alan gelisah, dan tak tahu lagi menilai perasaan apa yang sedang dirasakannya.


"Arini... susah sekali aku membuatmu menjadi tenang seperti itu, dihadapannya kamu bersikap manis, bahkan tak ada batas!. Baiklah aku ikuti permainanmu, aku atau kamu yang akan menang!"


Setelah Alan mendapat bungkusan kuenya, bukannya langsung pergi malah ikut menunggu. Hujan agak meredah, Arini dan Rendra akhirnya bersiap pergi, Alan mengikuti dari belakang dengan tidak menimbulkan kecurigaan. Tapi namanya seorang anggota kepolisian, Rendra akhirnya curiga juga, dan menyadari bahwa mereka sedang diikuti, Rendra berinisiatif mengekor di kaca spion untuk menghafal plat mobil itu.


Sampai dirumah Arini, Alan sengaja memarkirkan mobil agak jauh sekitar lima kapling rumah jaraknya. Rendra ternyata cuma sebentar mampir dirumah Arini setelah menyapa ibu Yanti, Rendra pun pulang. Ketika Rendra melewati jalan pulang, dilihat mobil dengan plat yang sama parkir dekat rumah Arini, Rendra jadi kuatir akan terjadi sesuatu dengan Arini kelak. Tapi karena ada callingan dari kantor kalau malam ini ada razia di hotel-hotel dan penginapan, maka Rendra harus segera balik, jabatan Rendra adalah sebagai Kasat Reskrim, pantesan Rendra sangat sibuk dengan tugas sebagai abdi negara.


"Hai Arini!," panggil Alan ketika melihat Arini beranjak masuk pintu rumah.


"Alan..,Kamu!! Kamu selalu gitu, datang dan pergi seenaknya saja tanpa kabar kalau mau kesini!"


"Kamu harus ikut aku sekarang!!" Alan menarik tangan Arini dan memaksanya masuk mobil, Arini memberontak tapi percuma, cengkraman tangan Alan begitu kuat.


"Alan..., Kenapa kamu selalu seenaknya?"


"Urusan kita belum selesai!"


"Tapi ini sudah malam, aku belum beritahu ibu!" Arini hampir keceplosan bahwa Rendra barusan mengajaknya keluar, percuma Arini berusaha sembunyi Alan sudah mengetahuinya.


"Urusan ibumu, aku yang bertanggung jawab!"

__ADS_1


Gawat ketika Alan menyuruh Arini masuk kedalam mobilnya, terlihat Rendra sedang berada di belakang. Rendra balik lagi karena merasa kuatir, dengan mobil yang mengikuti mereka adalah orang jahat.


Rendra memperhatikan sepertinya Arini dengan sukarela menaiki mobil itu, dan pria bersamanya bukanlah orang asing. Ingin hati Rendra memanggil Arini tapi di urungkan niatnya, dan membiarkan mereka pergi. Lagipula Rendra harus buru-buru balik untuk tugasnya itu.


__ADS_2