
Bento membawa Arini berkeliling di kota Denpasar, Ubud, Seminyak, dsb. Serta kulineran Ayam Betutu Gilimanuk, Menega Cafe, dan Warung Bebek tepi sawah. Arini di ajak jalan-jalan karena kegiatan rohani mereka sudah selesai. Malam nanti ada jamuan malam penutupan. Arini memanfaatkan waktu di Bali untuk sekedar melepas penat berhubung Bento mau membantunya. Karena Arini juga sudah janji membawa ole-ole untuk ibu dan adiknya.
"Aduh, sorry sir!." Arini tak sengaja menabrak seorang bule, ketika mereka sedang di Menage Cafe yang letaknya tepat di pinggiran pantai. Reaksi bule itu hanya diam malah melototinya.
"Oh Tuan bule tampan ya!." Arini jadi ingat ternyata bule itu adalah Daniel Pearl. Terakhir Arini hampir mati di tangan anak buahnya hanya gara-gara Nagita Wilson.
"Siapa Ar?." Bento menghampiri Arini.
Daniel memperhartikan Arini dari ujung kaki sampe kepala. Kali ini Daniel yang jadi lupa ingatan, karena mungkin Arini berpenampilan agak beda lebih menarik dan cantik tentunya.
"Ga kenal Ben!. Gue ga sengaja nabrak!."
"Ho gitu!. Ya sudah Ar!, kita duduk yuk!." Bento mengajak Arini pergi dari situ. Daniel memang begitu enggan bersuara pada orang yang baru kenal alias bersikap dingin.
"Ben, elu tahu ga nona Nagita itu aslinya dari mana?."
"Memang kenapa?. Kok ke situ arah pembicaraannya!."
Arini memang terlihat aneh, banyak mikir. Sejak bertemu Daniel berbagai pertanyaan terlintas dalam otaknya "Ada hubungan apa Nagita sama bule itu?."
"Ga, mau tahu aja Ben!. Asli bule atau campur sih?."
"Yang gue tahu, Nagita ayahnya berasal dari Australia, ibunya orang Bandung. " Bento menjelaskan sambil di seruput secangkir kopi Americano yang di pesan, sudah tersaji di meja.
"Oh..., campuran!. Nagita terlihat bule banget ya?."
"Mungkin gen ayahnya lebih kental kali!." Bento menimpali sambil tersenyum, malah Arini menanggapi dengan serius.
"Sudahlah Ar!. Kita kesini kan mau makan, ngapain urusin orang sih?."
"Sorry, sorry...,gue penasaran aja!."
Masih terlintas di otak Arini ketika Nagita berciuman dengan bule itu depan Post Satpam di Villa. Tentunya mereka mempunyai hubungan istimewa dong!.
"Kenapa tuan?," tanya anak buah Daniel yang melihat bosnya menatap terus Arini.
"Itu kan gadis di Post Satpam?." Daniel memberi kode anak buahnya dengan mengekor mata ke arah Arini dan Bento.
"Benar tuan!. Apakah perlu saya cari informasi mengenai mereka?."
"Iya, secepatnya!. Gadis itu cukup membuat aku kesal dan pria yang bersamanya!."
"Ok, tuan!. Saya permisi!."
Daniel kembali menikmati makanannya namun sesekali memandang ke arah Arini yang membuat Arini terkadang menjadi takut batinnya "Tuan bule tampan itu sepertinya dendam, bisa gawat nih!."
"Kamu kenapa Ar?, terlihat gelisah?."
"Ben, apa tidak sebaiknya kita pindah restoran saja?."
"Makanannya kan sudah di order Ar!."
"Batalin aja Ben!. Kayaknya kita harus segera pergi dari sini, please!."
__ADS_1
Bento menjadi bingung akan sikap Arini yang menjadi ketakutan. Entah apa yang dilihatnya.
"Wait Arini!. Gue bayar dulu bill sekalian batalin order-nya!."
"Gue tunggu di depan Ben!."
Arini bergegas pergi karena Daniel seperti mengintimidasi keberadaannya. Sampai di depan restaurant Arini ketemu lagi sama bodyguard yang sama yang sempat menyekapnya. Arini menjadi kalang kabut mau berlari kemana?.
"Wah gawat nih!. Kenapa gue ga tunggu Bento aja si?," lirihnya.
Bodyguard berjalan seakan mendekatinya, karena memang Arini berdiri di depan pintu resto.
"Kamu mau apa?. Gue teriak!!!."
Bodyguard itu menjadi bingung karena memang dia mau masuk ke resto itu, tapi karena Arini terlalu parno makanya langsung bereaksi berlebihan. Sang bodyguard itu pun sebenarnya belum mengenali Arini dengan jelas.
"Are you crazy?. Gue mau masuk, excusme miss!."
Arini segera menghindar dan menjauh dan bodyguard terus menatapinya tapi tetap tak mengenali Arini.
"Ar, are you ok?. Why?." Bento kuatir akan keadaan Arini yang terlihat masih ketakutan.
"I'm ok, so let's go now Ben!."
Bento langsung merangkul pundak Arini, dan menggiringnya ke mobil.
...****************...
tanya bli Agung. Mereka ternyata sudah ngumpul di pantai untuk bermain wahana air/water sport
"Oh itu!. Gue ajak Arini jalan-jalan sekalian kulineran!."
"Dasar lu, ngajak-ngajak ke!."
"Gue pikir, kalian ga suka kalau Arini gue ajak!. Lagi pula gue temanin Arini beliin ibunya ole-ole kok!."
Mendengar Bento menemani Arini jalan bareng membuat Alan panas juga.
"Udah, udah..., kalian kesini mau refresing or ngobrol!," sambung Alan mengalihkan pembicaraan.
"Sayang, kita main jetski aja!," ajak Nagita sambil merayu. Alan menanggapinya dengan menganggukan kepala.
Bento dan Arini malah memilih main Banana Boat bersama turis domestik lainnya. Bli Agung dan Rony memilih yang agak ekstrem yang memacu adrenalin yaitu Parasailing dan Flyboard. Mereka sangat terlihat gembira, namun Alan terlihat was-was walau menggunakan kaca mata hitam tapi bola matanya tak pernah lepas dari pandangan terhadap Arini dan Bento yang akrab dan nyaman. Sehingga permainan jetski yang di kendarai Alan menjadi membosankan. Nagita terlihat dengan manjanya merangkul Alan dari belakang, begitu mesra dan hangat.
"Hi miss, mau sewa papan selancar?," tanya seorang pria pada Arini. Pria itu memiliki postur tubuh tegap, body six pack bagai atlet. Arini sudah mengambil waktu untuk beristirahat dan berjemur sebentar di pasir.
"Sorry, saya tidak bisa berselancar!," jawab Arini ramah.
"Oh..., ga apa-apa nona!. Untuk pemula, biasanya saya akan memberikan waktu untuk nona belajar tekniknya terlebih dahulu!!," jelas pemuda peselancar itu.
"Sekali lagi maaf tuan!. Saya kurang berminat!."
Alan yang melihat dari kejauhan bahwa Arini sedang di dekati pria itu, Alan langsung menghampirinya. Sedangkan Nagita sudah berpindah ke wahana bersama Rony dan Bli Agung yaitu Prasailing begitu pula Bento.
__ADS_1
"Ada apa ini?," tanya Alan datar.
"Hai Lan!." Arini ikut menyapa.
"Maaf tuan!. Saya hanya menawarkan nona ini untuk belajar berselancar!."
"Ga perlu!. Sebaiknya kamu pergi!." Alan memberi kode keras kepada pria itu.
"Maaf tuan sekali lagi, sudah menganggu pacar anda!."
Arini mendengar pernyataan dari pemuda itu, melambaikan tangannya dengan maksud menyampaikan kalau dirinya bukanlah pacar Alan. Seketika Alan menarik tangannya untuk tidak memberi penjelasan pada orang yang tidak di kenalnya itu.
"Lan, apa-apaan sih?. Kamu kasar banget!."
"Kenapa?. Terserah aku dong!, kamu ga suka kalau dia mengatakan kamu pacar aku!."
"Iya..!!"
"Jangan memutar balikan fakta Ar, kalau kamu adalah pacar aku juga, ingat itu!."
"Dan satu hal lagi, mulai hari ini bersikaplah seperti pacar aku!." Alan menimpali lagi.
"Ya ga bisa gitu dong!. Nagita mau kamu kemana kan?."
"Selama ini aku yang selalu menuruti semua persyaratanmu. Jadi kita ikuti saja itu!."
"Tapi Lan!!."
"Kamu harus menanggung konsekuensinya seperti persyaratan atau aturan mu yang ketiga itu?."
Arini menjadi bingung akan sikap Alan semakin agresif terhadap dirinya. Sebenarnya hal ini bagus buat Arini untuk mempermainkan keadaan ini, tapi entah kenapa tidak terpikirkan olehnya karena terbawa suasana akan sikap Alan.
"Kamu masih ingatkan!. Jangan berpura-pura lupa Ar!." Alan melanjutkan lagi kata-katanya.
Arini langsung teringat akan aturan itu bahwa mereka boleh pacaran asalkan tidak mencampuri urusan masing-masing. Arini jadi bingung, aturan itu di buat untuk Alan bukan sebaliknya.
"Kamu bawa aku kemana Lan?."
Alan sudah menarik Arini lagi untuk menjauh dari area pantai yang ramai itu.
"Mau memberi mu peringatan, supaya kamu selalu ingat bahwa kamu itu pacar aku!."
"Apa maksudnya?"
"Kamu cerna saja sendiri!."
Pikiran Arini sudah tak karuan, Alan pasti mau melakukan sesuatu di luar batas lagi. Arini berusaha melepaskan dekapan tangan itu tapi tidak bisa.
"Bisa ga kamu diam Ar!. Kalau kamu terus memberontak, aku gendong!."
"Ga...!. Kamu jangan keterlaluan Lan!."
"Ssssuuuut diam!. Kalau kamu nurut kali ini aku akan melakukannya dengan lembut!." Arini mengikuti saja kemauan Alan. Arini menjadi kalem, Alan tersenyum tipis, dalam hatinya girang akhirnya dia punya waktu berdua juga bersama Arini.
__ADS_1