
Hari demi hari dilalui Anya, dan Anya pun sudah benar-benar melupakan Ardie dalam hidup nya, Anya sudah benar-benar mengubur dalam-dalam semua tentang Ardie.
Seperti biasa Anya masuk kedalam ruangannya, dan lagi-lagi Anya mendapatkan setangkai mawar merah dimeja nya.Anya pun menghembuskan nafas nya dengan secara kasar dan mengambil bunga mawar itu lalu membuang nya ke tempat sampah.
"Dapat bunga lagi?" Kata Mulan yang baru datang dan langsung duduk di tempat nya.
"Yah begitulah mbak, jujur mbak aku muak dengan semua ini, aku muak dengan orang yang tidak ada kejelasan sama sekali." Jawab Anya penuh dengan emosi.
Anya kesal dan muak sama yang memberikan bunga tiap pagi, karena sikap nya mengingat kan Anya pada Ardie, padahal Anya sudah mengubur dalam-dalam tentang Ardie, tapi dengan adanya bunga setiap pagi dan pengirim nya yang ngga jelas, itu semua mengingatkan nya kembali pada sikap Ardie yang ngga jelas. Anya benci sama yang namanya tidak kejelasan.
"Kamu kayak nya pernah trauma Nya, ya sudah begini saja," Mulan pun berjalan menghampiri Anya lalu membisik kan sesuatu padanya, Anya pun manggut-manggut dan meng iya kan usulan Mulan.
*
*
*
Sementara diruangan lain, nampak sekali Anggar sedang sibuk dengan kerjaan nya, suara pintu pun terdengar ada yang mengetuk nya.
"Tok,,,tok,,,tok,,,"
__ADS_1
"Masuk." Denis pun masuk kedalam ruangan Anggar, tanpa disuruh Denis langsung duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Ada apa, kamu udah ke ruanganku, emang kamu ngga ada kerjaan apa?" Tanya Anggar yang masih setia dengan kerjaan nya.
"Lo tahu ngga?, ternyata selama ini ada pengagum rahasia Anya lo," Denis mulai gibah ala emak-emak komplek. Bukan apa Denis rela jadi kompor, cuman Denis pengen tahu aja akan perasaan sahabat nya ini. Denis pengen membuktikan kalau sebenarnya Anggar menyukai Anya.
Anggar meletakkan kerjaan nya lalu menatap kearah Denis tajam. "Apa peduli gue, dia mau ada pengagum rahasia, dia mau jalan ama si playboy Rico pun gue ga peduli." Jawab Anggar dengan menahan rasa sesak di dadanya. Entah rasa apa yang tumbuh pada hati Anggar, Anggar pun bingung, dia benci perempuan, dia benci Anya, tapi dia merasa marah kalau denger Anya ada yang mendekati.
Semua raut wajah Anggar dikala bicara Denis menilai nya, Denis pun tersenyum penuh arti. "(Lo, cemburu kan bro)," Kena kau Anggar, Bathin Denis.
"Oh iya yah, lo kan ga bakalan peduli, kalau gitu gue aja lah yang perdulikan dia, sayang banget kalau ngga peduli sama wanita cantik seperti Anya. " Jawab Denis sambil melangkah pergi meninggalkan Anggar dalam ruangan nya.
Sepeninggal Denis, Anggar pun memikirkan yang baru saja Denis sampaikan. "Ngapain juga gue mikirin tuh cewek, kaya ngga ada kerjaan aja." Gumam Anggar sambil melanjutkan pekerjaa. nya yang tertunda.
*
*
*
"Nya, ayo kita ke kantin, udah waktu nya makan siang nih." Ajak Mulan sambil membereskan meja kerja nya.
__ADS_1
"Ayo mbak," Jawab Anya. Mereka pun keluar bersama menuju kantin dan turun ke bawah menggunakan lift.
Ternyata di dalam lift sudah ada Rico dan Sani. "Siang Pak?" Sapa Mulan dan Anya barengan.
"Siang juga hai para cewek yang cantik dan jelita." Jawab Sani dengan tatapan mendamba pada Anya.
Anya merasa risih di perhatikan sama dua cowok playboy itu, dan pengen cepat keluar dari lift, tangan nya pun langsung menggenggam tangan Mulan, Mulan yang paham akan keadaan Anya pun mengusap tangan nya lembut sambil tersenyum, seakan-akan bilang, ga apa-apa.
Rico terus menatap Anya dari belakang, ingin rasanya Rico memeluk Anya detik itu juga, tapi Rico dengan sabar menunggu waktu itu pun tiba.
"Tunggu waktunya tiba, kamu akan berada dalam dekapanku, Zievanya." Bathin Rico sambil tidak melepaskan pandangan nya kepada Anya.
Lift pun terbuka, Anya dan Mulan langsung keluar yang diikuti Rico dan Sani. Tanpa disadari mereka, ada sepasang mata menatap tajam ke arah mereka terutama ke arah Anya.
⭐. ⭐. ⭐. ⭐
***Segitu dulu yah bestie aku nya mau makan siang dulu bareng Anya dan Mulan.
Boleh pesenin kopi buat aku yah bestie biar habis makan aku ga ngantuk🤭🤪
Love u all 😘***
__ADS_1