
Di rumah sakit Ibra dan pak Baskoro setia menunggu Anya berada diruang icu sekarang, semua alat di pasang di tubuh Anya.
Kini Anya lagi ditangani oleh dokter ahli, tidak berapa lama pintu pun terbuka dokter pun keluar.
"Keluarga pasien Zievanya" teriak dokter memanggil keluarga Anya.
"Iya dok saya ayah nya" kata Pak Baskoro sambil berlari menghampiri kearah dokter.
"Bapak ikut saya ke ruangan" ajak dokter Faisal kepada pak Baskoro. Mereka pun berjalan beriringan keruangan dokter Faisal.
"Silahkan duduk pak! Dr Faisal pun menyuruh pak Baskoro untuk duduk.
"Begini pak, setelah kami memeriksa pasien yang bernama Zievanya ternyata nyonya Zievanya mengidap cancer otak stadium akhir" kata dokter Faisal membuat pak Baskoro terhenyak.
Pak Baskoro pun diam seakan-akan dia ditimpa sebuah benda berat hingga dia sudah tidak mampu lagi untuk berbicara, pak Baskoro di buat shock dengan penuturan dari dokter Faisal.
"Apa masih ada harapan untuk sembuh dokter? Tanya pak Baskoro dengan suara gemetar nya.
"Kami akan berusaha semampu kami, tapi apa pun yang terjadi itu semua kuasa dari yang maha kuasa, soalnya ini stadium akhir jadi harapan untuk sembuh tipis" jawab dr Faisal.
"Saya minta dukungan dari keluarga buat pasien, dan jangan lengah menjaga dia, karena kita ngga tahu kemungkinan kedepan nya gimana" jawab Dr Faisal.
"Iya dok, saya mengerti, masih ada yang disampaikan? Kalau ngga ada saya pamit keluar" kata Pak Baskoro yang sudah ngga kuat menahan air mata nya.
"Iya silahkan pak, yang sabar ya pak dan juga terus lah berdo\*a, semoga ada keajaiban dari yang maha kuasa" jawab Dr Faisal.
Pak Baskoro pun pergi keluar menemui Ibra, Ibra pun memandang kearah Bapak nya yang terlihat lemas berjalan menuju kearah nya.
Pak Baskoro pun memeluk Ibra dengan erat sekali sambil menangis dalam pelukan Ibra, Ibra hanya bisa diam dan menunggu pak Baskoro tenang.
Pak Baskoro pun akhir nya tenang setelah meluapkan kesedihan nya dalam pelukan anak laki-laki nya.
"Sakit apa adek sebenar nya pak? Tanya Ibra pada pak Baskoro.
"Adek sakit cancer otak stadium akhir" jawab pak Baskoro terbata-bata, air matanya terus mengalir.
__ADS_1
"Appa!!! Ngga mungkin pak, ngga mungkin" teriak Ibra sambil menangis. Ibra pun duduk lemas mendengar penyakit yang di derita adik kesayangan nya.
Kedua lelaki yang selalu dibanggakan Anya pun hari ini hatinya rapuh, mereka terduduk lesu dengan pikiran masing-masing, mereka ingin teriak, ingin marah tapi bibir mereka kelu, mereka hanya bisa berontak di hati dan pikiran mereka.
*
*
*
Putri pun izin untuk pulang awal, setelah mengganti baju kerja nya putri pun menyiapkan yang diperlukan suami nya di rumah sakit.
Setelah dirasa semua sudah ngga ada yang tertinggal Putri pun menuju ke rumah orangtua Ibra untuk melihat keadaan Zila.
Sesampai nya di rumah pak.Baskoro Putri pun langsung masuk dengan terburu-buru.
"Assalamualaikum mah? Sapa Putri sambil masuk kedalam rumah.
"Waalaikumsalam nak? Bu Aisyah pun langsung memeluk menantu nya sambil menangis, Putri hanya bisa diam dan mengusap punggung mertua nya supaya tenang.
"Sabar bu, kita berdo\*a mudah-mudah han sakit adek tidak terlalu parah" kata Putri menenangkan bu Aisyah, mereka belum tahu penyakit yang Anya derita, karena Ibra maupun pak Baskoro belum ada yang ngasih kabar.
"Zila mana bu? tanya Putri sambil mengusap airmata nya yang ikut menetes.
"Kamu mau ke rumah sakit nak? Tanya bu Aisyah pada menantu nya.
"Iya bu, sekalian bawa baju ganti mas Ibra sama selimut buat nanti malam" jawab Putri.
"Sekalian bawa makan buat Ibra dan bapak ya? Soalnya dari pagi bapak belum makan" kata bu Aisyah sambil pergi kedapur dan menyiapkan bekal buat ke rumah sakit.
Ponsel Putri pun bergetar ternyata Ibra yang menghubunginya.
"Hallo Yang? Adek baik-baik saja kan? Tanya Putri dengan hati gelisah.
"Nanti saja mas ceritain di sini, sekarang kamu dimana? Ibra pun balik tanya.
"Masih di rumah ibu, mau sholat Ashar dulu nanti habis sholat ashar aku berangkat" jawab Putri.
"Pake motor aja Yang, biar ngga ribet, kuncinya di meja tadi kalau ngga salah, oh iya Zila gimana nangis terus ngga dia? Kata Ibra yang menghawatirkan keponakan nya.
__ADS_1
"Zila lagi tidur siang bareng Vio, tadi sempet nangis kata ibu, tapi Alhamdulilah ada Vio yang ngajak main hingga Zila tertidur" jawab Putri.
"Ya udah nanti hati-hati di jalan, jangan ngebut" kata Ibra.
"Iya mas" jawab Putri sambil memutuskan panggilan bersama suami nya, lalu berjalan ke kamar Anya buat melihat Zila.
*
*
*
Ibra bingung antara ngasih tahu Anggar sekarang apa nanti, dia pun milih menghunbungi kakak nya Mery.
"Hallo kak, kakak kapan pulang" tanya Ibra dengan suara bergetar menahan tangisan nya.
"Kakak masih di Yogya, besok pagi kakak pulang, gimana keadaan adek? Apa kata dokter? Mery pun terus bertanya pada Ibra.
"Cepet kesini ya kak? Eh iya kak, aku bingung buat ngasih tahu Anggar, menurut kakak aku kasih tahu sekarang apa gimana, soal nya tadi adek sempet bilang jangan bilang siapa-siapa dulu termasuk Anggar, soalnya dia lagi kerja katanya" Ibra pun menjelaskam kegelisahan nya pada Mery.
"Ya udah kamu telepon saja Anggar tapi besok pagi aja suruh kesitu nya, jangan malam ini bahaya, udah lah dia kalut pasti nya terus malam.hari kan rawan juga" Mery pun memberikan Ibra solusi.
"Oh iya kak kalau gitu, ya udah aku tutup dulu telepon nya mau lihat adek dulu bentar" Jawab Ibra.
"Ibra sebentar, sebenarnya adek sakit apa? Tanya Mery sama Ibra karena Mery belum dikasih tahu.
"Cancer otak stadium akhir" jawab Ibra dengan suara pelan.
"Appa!! Adek,,, hik,,,hik,,,hik,," Mery pun memutuskan panggilan dengan Ibra, dia pun menangis sejadi-jadi nya.
*
*
*
Ibra sudah ngga tahan melihat adek nya, dia pun langsung menghubungi Anggar.
"Hallo kak? Ada apa? Eh iya kak, kakak tahu ngga Anya dimana, soalnya aku telepon dari siang ngga diangkat-angkat, di chat pun ngga di read, telepon ibu dan bapak pun sama ngga diangkat" tanya Anggar.
"Gar, adek,,,,,adek di rumah sakit" dengan berat hati Ibra pun bilang ke Anggar.
"Appa!!!! teriak Anggar yang shock mendengar kabar istri nya.
β. β. β. β
***Part ini no komen, aku sudah mulai mello ngetik nyaπ
Love u allπ***
__ADS_1