
Anggar pun dengan begitu enteng nya mengangkat dan menggendong tubuh Anya ala bridal, dia berjalan ke parkiran menuju mobil nya, terlihat para karyawan memandang kearah nya, ada yang menatap iri, ada juga yang menatap kagum, dan ada tatapan penuh kebencian seolah-olah dia tidak rela Anya digendong pria lain, apalagi yang menggendong nya itu rival nya sendiri.
"(*Anya kenapa tuh, sampe segitu nya pengen digendong pak Anggar, sampe pura-pura pingsan segala*)." Kata karyawan yang iri pada Anya.
"(*Wahhh, pak Anggar keren, dia kayak enteng banget yah gendong Anya, akh aku pun mau* **d***ong di gendong kayak gitu*)," Karyawan itu malah fokus sama Anggar dan dapat jitakan dari teman-teman nya.
"(Ah, pak Anggar gagah nya minta cium ini mah)," sambil senyum-senyum ga jelas.
Anggar tidak menghiraukan omongan para karyawan lainnya, dia fokus sama Anya yang ada dalam gendongan nya, Mulan dan Denis masih setia mengikuti Anggar dari belakang.
Mereka berempat pun sudah ada di dalam mobil Anggar, dan kali ini yang mengemudi adalah Denis, Anggar duduk di kursi belakang bersama Anya yang masih pingsan, Anggar tetap saja bertahan dengan wajah cuex, datar dan dingin nya, padahal dalam hati nya dia cemas melihat keadaan Anya.
Denis melihat ke kursi belakang lewat spion depan, Denis tersenyum, "(*Cemen lu bro, gue ga bisa dibohongin, lo itu udah jatuh hati sama Anya, tapi gengsi mu mengalahkan semua nya*)." Gumam Denis sambil menggelengkan kepalanya.
*
*
__ADS_1
*
Dan disini lah sekarang Anya berada, disebuah ruangan yang bernuansa kan putih, Sedangkan Anggar dan Denis sudah kembali ke perusahaan, Mulan memilih tinggal menunggu Anya sadar, dan dia juga sudah minta izin ke perusahaan.
Anya mengerjapkan matanya perlahan, dia melirik kesamping, terlihat Mulan yang setia menunggunya. "Mbak, aku dimana?" Tanya Anya sambil mengerjapkan matanya.
"Alhamdulilah kamu udah sadar," Mulan pun tersenyum pada Anya. Sambil mengambil makanan yang sudah tersedia disana. "Ayo makan dulu, kamu belum makan yah sampe pingsan seperti itu," Tanya Mulan sambil menyodorkan sendok yang sudah terisi makanan ke mulut Anya.
"Ya Allah mbak, aku lupa, aku kan tadi belum sempat sarapan di rumah karena pagi-pagi banget berangkat nya, terus bekal juga belum sempat aku makan karena insiden pagi itu." Jawab Anya sambil ngunyah.
"Terus mbak gimana cerita nya aku sampai kesini?, siapa yang bawa aku?, Mbak?, tapi ga mungkin mbak kan?, secara mbak pasti berat dong gendong aku, he,,he,,,he,." Cerocos Anya sambil cengengesan.
"Baru juga sadar, udah nyerocos aja tuh bibir, satu-satu napa nanya nya, udah kaya emak-emak yang lagi ngomelin anak nya aja," Mulan pun dibikin gemas sama Anya.
Anya cuma nyengir aja sambil meneruskan makan nya, "Maaf mbak, kan aku penasaran, eh terus kerjaan kita gimana mbak?, yahh dipotong deh pas gaji han."
__ADS_1
"Tenang aja, mbak sudah minta izin kok ke kantor, jadi kamu bisa istirahat dulu disini, besok kalau udah segeran baru balik kerja." Anya pun merasa tenang setelah mendengar penuturan Mulan.
"Terus yang bawa aku kesini siapa?" Anya masih penasaran dengan orang yang membawa nya ke rumah sakit.
"Pak Anggar." Jawab Mulan santay. "Appa!!, teriak Anya, hampir saja piring yang dia pegang tumpah, saking kaget nya dengan jawaban Mulan.
β. β. β. β
***Ya udah bestie, sampai disini dulu yah, soalnya aku mau nengok Anya ke rumah sakit.
Tapi aku bingung pergi nya sama siapa?
Aku ajak Anggar apa Denis yah?, apa Rico?
Ada yang mau nitip sekuntum mawar ga buat Anya, atau secangkir kopi mungkin.
Aku menunggu nya yah.
Makasih all udah mau dukung karya recehan aku ini.
Kalau masih banyak yang salah mohon dimaafkan, karena aku masih belajar.
Love u all π***
__ADS_1