
"Adek kangen zila kak" tatapan Anya pun tatapan memohon, Ibra pun melakukan panggilan video call kepada ibunya.
Begitu mendengar suara ponsel berbunyi bu Aisyah pun dengan cepat menggulir icon warna hijau.
"Kenapa nak? Gimana keadaaan adek mu? Tanya bu Aisyah pada Ibra, Ibra pun memberikan ponsel nya kepada Anya.
"Hallo bu? Zila mana? Sapa Anya sambil menatap ke layar ponsel yang menampakkan wajah ibunya.
Bu Aisyah pun langsung mendekati Zila yang lagi diajak main sama abang dan Vio.
"Dek ini bunda mau ke adek Zila katanya" kata bu Aisyah sambil menduduk kan Zila kepangkuan nya.
"Hallo Zila sayang nya bunda? Baik-baik sama nenek yah nak? Zila jangan rewel jangan bandel nurut sama nenek ya sayang? Kata Anya dengan menyunggingkan senyuman sama Zila.
"Unna dek tayang unna" Zila pun ngoceh sambil melihat kearah Anya, Anya pun tersenyum melihat anak nya ngoceh.
"Bu nitip Zila yah? sayangi Zila seperti ibu menyayangi adek" Bu Aisyah pun cuma mengangguk dan tersenyum, dia sudah ngga sanggup lagi untuk berbicara karena takut menumpahkan airmata nya di depan Anya, Bu Aisyah sekuat tenaga menahan air mata dan sekuat tenaga juga mempertahankan senyuman nya.
Anya pun menatap Zila anak tercinta nya, 'Dadah Zila sayang" Anya pun melambaikan tangan nya, dan mematikan sambungan telepon nya karena rasa sakit dikepala kembali menyerang nya.
Ibra yang melihat adek nya kembali kesakitan pun langsung memanggil dokter dan mengambil hp nya yang terjatuh.
"Dokter tolong adek saya dok" teriak Ibra hingga terdengar ke luar ruangan.
Dokter dan suster yang menjaga Anya dua puluh empat jam pun langsung sigap menangani Anya setelah mendengar teriakan dari Ibra.
Ibra pun ngga kuat melihat adek nya yang lagi kritis, dia pun langsung keluar menemui bapak dan istrinya.
"Yang, kamu yang di dalam nemenin adek ya? Aku ngga kuat lihat nya" Tangisan Ibra pun pecah diluar ruangan.
"Biar bapak dulu yang nemenin adek" kata pak Baskoro sambil melangkah masuk ke ruang icu.
Para suster dan dokter pun telah mengatasi Anya yang kritis, dokter pun memanggil pak Baskoro.
__ADS_1
"Pak salah satu dari keluarga harus ada yang stay menunggu disini, buat jaga-jaga saja, saya dan para suster hanya orang biasa, tapi kami akan melakukan yang terbaik, sebisa dan semampu kami.
Pak Baskoro pun mengangguk dan melangkah mendekati Anya, suara jantung pak Baskoro bedegub kencang seakan-akan mengalahkan suara jantung Anya yang berbunyi di layar monitor.
"Dek, ini bapak nak? maafkan bapak ya yang belum bisa ngebahagiain adek, adek cepet sembuh, biar kita nanti jalan-jalan bareng adek Zila ke pantai" kata pak Baskoro dengan tangan nya mengusap lembut kepala Anya, sekuat tenaga pak Baskoro menahan tangis nya.
Pak Baskoro pun sudah ngga kuat lagi dan dia langsung pergi keluar dan menyuruh Putri yang masuk ke dalam.
"Put, kamu saja yang masuk nak, bapak sudah ngga kuat melihat nya" kata pak Baskoro dengan deraian airmata nya.
Putri pun masuk kedalam, dia melihat Anya yang lagi tidur dengan tenang dengan semua alat medis terpasang di tubuh nya, membuat Putri sedih dan menahan tangisan nya
Putri pun duduk disamping Anya, dia terus berdzikir didekat telinga Anya dengan suara yang gemetar karena menahan tangisan nya.
*
*
*
Perjalanan yang seharus nya empat jam tapi kali ini Anggar menembus perjalanan hanya tiga jam saja, Anggar yang langsung ke rumah sakit langsung turun dari mobil nya lalu berlari masuk ke rumah sakit sambil terus berusaha menghubungi Ibra.
"Ya Gar kenapa? Tanya Ibra yang belum tahu kalau Anggar sudah berada di rumah sakit.
"Langsung aja keruang icu, kita masih disini, kamu tanyain aja sama satpam atau suster yang berada disana" jawab Ibra.
Anggar pun setengah berlari mencari rusngan icu, dia sempat bertanya pada suster yang kebetulan lewat depan dia,dan suster itu pun memberitahukan ruang icu.
Dari jauh Anggar pun melihat Ibra dan pak Baskoro yang sedang duduk dikursi tunggu pasien.Anggar pun berlari menghampiri Ibra dan Pak Baskoro.
"Pak? Kak? Adek gimana keadaannya? Tanya Anggar sambil sedikit mengatur nafas nya.
Pak Baskoro dan Ibra pun melirik kearah suara lalu mereka pun berpelukan sambil menitikkan airmata nya.
Ibra maupun pak Baskoro ngga ada yang sanggup untuk bicara, mereka diam menahan gejolak rasa sedih yang sangat dalam.
Anggar pun melepaskan pelukan nya pada Ibra dan pada Pak Baskoro, Anggar menatap kedua nya secara bergantian.
__ADS_1
Katakan kak adek sakit apa? Katakan yang sejujur nya sama saya pak? Saya mohon" kata Anggar sambil menitikkan airmata nya.
"Adek sakit cancer otak stadium akhir" jawab Ibra dengan deraian airmata.
"Sayang,,,,tidak.... ini tidak mungkin" jatuh sudah pertahanan Anggar dia pun terduduk dilantai rumah sakit sambil terus menangis.
*
*
*
Mery dan Hary yang sudah mendarat di Jakarta pun tidak membuang-buang waktu lagi, mereka langsung menuju rumah sakit tempat Anya di rawat.
Untung malam itu tidak terlalu macet mungkin karena hujan jadi yang berkendara tidak terlalu banyak, sesampai nya di rumah sakit Mery dan hary langsung berlari menuju ruang icu, karena sebelum berangkat tadi Mery sudah dikasih tahu sama Ibra.
Mery yang berlari tanpa memperdulikan Hary pun terus berlari mencari ruang icu, akhirnya Mery melihat bapak dan adik juga adik ipar nya Anggar
"Anggar? Kamu sudah ada disini? Tanya Mery sambil terus menghampiri mereka bertiga.
"Kak" Ibra pun langsung memeluk kakak nya Mery dengan erat dan tangisan yang pilu.
Mery yang memang anak pertama, dia lebih tegar dari mereka semua, Mery adalah orang yang selalu bisa menyembunyikan masalah atau rasa sedih nya dihadapan semua orang.
"Sudah kalian harus kuat, apalagi depan adek ngga boleh satu orang pun yang meneteskan airmata, kita kasih semangat adek, kita kasih senyuman buat adek" kata Mery kepada mereka semua termasuk bapak nya.
"Aku pengen liat Anya kak? aku pengen ketemu dia" kata Anggar sambil mengusap airmata di pipi nya.
"Masuk lah Gar,biar Putri kakak suruh keluar dulu" jawab Ibra sambil membuka pintu ruang icu lalu melambaikan tangan nya kepada Putri, Putri pun mengerti lalu menghampiri Ibra suami nya.
"Kamu diluar aja sama kita biarkan Anggar suaminya yang didalam nungguin adek" kata Ibra pada Putri.
Putri pun mengangguk paham, lalu memberikan baju khusus kepada Anggar.
Anggar pun melangkah dengan langkah yang sangat amat berat menuju Anya yang sedang berbaring lemah.
⭐ ⭐ ⭐ ⭐ ⭐
***Sudah ngga mau banyak komen bestie aku nulis nya sambil berderai airmata😭😭😭
Love u all 😘***
__ADS_1