
"Appa!!! teriak Anggar shock dan hampir saja ponsel nya terjatuh.
"Sekarang kondisi nya gimana kak? Kalau gitu aku sekarang kesana" jawab Anggar.
"Jangan kesini sekarang, sebentar lagi malam, bahaya kalau kesini malam-malam apalagi kondisi saat ini hujan, adek pasti marah sama kakak kalau kamu kesini malam ini, jadi kamu sabar dan berdo\*a saja, dan besok pagi kamu langsung kesini" Ibra pun mencoba memberi pengertian sama Anggar.
Anggar pun hanya diam membisu, "bisa dialihkan ke video call ngga kak aku pengen lihat Anya" kata Anggar menahan sesak di dadanya.
Ibra pun mengalihkan ke video call, terlihat Anya sedang berbaring dengan selang infus dan selang pernafasan terpasang belum lagi suara monitor detak jantung membuat hati Anggar hancur sehancur hancur nya, tanpa pamit kepada Ibra Anggar pun memutuskan panggilan nya.
Anggar pun menangis sambil melihat poto Anya yang lagi terbaring memejam kan matanya, yang sempat dia ss pas video call bareng Ibra tadi.
"Gue harus berangkat sekarang juga, ngga bisa nunggu lagi" gumam Anggar yang langsung pergi ke Jakarta sore itu juga.
"Yang, tunggu aku, kenapa kamu sakit ngga bilang ma aku Yang? Bodoh nya aku yang ngga peka sama kamu" gumam Anggar sambil memukul setir mobil, matanya mulai mengembun mengingat kondisi istrinya saat ini.
*
*
*
"Mas aku ngga tenang ini, gimana kalau sekarang aja kita pulang, sudah selesai kan kerjaan nya? Tahu gini aku kemarin ngga ikut sama mas" Mery pun sudah ngga sabar menunggu hari esok.
"Ya udah kamu siap-siap aja dulu, mas mau kasih laporan kerjaan dulu" jawab Hary sambil membereskan kerjaan nya.Mery pun langsung dengan gesit membereskan barang-barang mereka.
Sementara Putri baru saja datang ke rumah sakit dan langsung menghampiri Ibra suaminya dan Pak Baskoro.
"Mas" panggi Putri sambil berjalan cepat kearah Ibra dengan di kedua tangan nya mementeng baju ganti Ibra, selimut dan makanan dari mertua nya.
Ibra pun langsung memeluk istrinya, Ibra menangis pilu dalam pelukan istrinya, Putri yang belum pernah melihat suami nya menangis seperti ini pun merasa sedih, dia tahu kalau suami nya lagi rapuh dan hancur hatinya.
"Adek Yang,, adek,,, aku ngga sanggup Yang lihat dia seperti ini," kata Ibra sambil sesenggukan.
"Sabar mas, kita perbanyak berdo\*a ya? siapa tahu ada keajaiban buat adek" jawab Putri sambil mengelus punggung Ibra dengan lembut.
__ADS_1
Ibra pun sedikit demi sedikit mulai tenang dan duduk di kursi khusus penunggu pasien.
Pak Baskoro hanya duduk diam sambil menunduk kan kepala nya, seakan-akan dia sudah ngga mampu untuk berdiri.
"Sebenarnya adek sakit apa mas? Tanya Putri sambil menyimpan barang bawaan nya.
"Adek sakit Cancer otak stadium akhir" jawab Ibra sambil duduk lemas dan menghapus air mata nya.
"Adek,,,,ya Allah adek,,," bagaikan disambar petir tengah hari Putri pun langsung terduduk dan menangis pilu, Ibra pun memeluk istrinya kembali dengan erat, mereka tumpahkan kesedihan mereka berdua dengan tangisan pilu mereka. Pak Baskoro pun ikut menangis kembali melihat tangisan anak dan menantunya.
Setelah mereka berdua sudah tenang Putri pun melepaskan pelukan nya dari Ibra. "Pak, Mas, kita makan dulu ya? Soalnya kata ibu tadi bapak belum makan dari pagi, mas juga pasti belum makan siang" kata Putri sambil sesenggukan dan mengambil makanan yang dia bawa tadi.
"Bapak ngga lapar, kalian saja yang makan" jawab pak Baskoro sambil menghapus air mata nya.
"Pak, bapak harus makan walau pun sedikit ngga apa-apa, kalau nanti bapak juga ikut sakit gimana? Siapa yang jagain adek, kalau bapak sayang sama adek bapak harus makan, adek nanti marah kalau tahu bapak ngga makan, bapak ngga mau kan kalau adek marah? Putri pun terus membujuk mertua nya supaya mau makan.
*
*
*
"Yang mas sudah beli tiket pesawat tadi dengan keberangkatan malam ini jam delapan, jadi sekarang kita siap-siap pergi kebandara" kata Hary sambil mempersiapkan semuanya.
"Beneran mas kita naik pesawat, terus mobil kita? Jawab Mery yang senang karena dengan naik pesawat maka dia akan cepat sampai ke Jakarta.
"Mobil nanti biar dianter sopir bos, mas sudah izin juga untuk beberapa hari ngga masuk kerja" jawab Hary.
Mery pun dengan cekatan mempersiapkan semuanya, "Ayo mas, aku sudah siap" kata Mery sambil berjalan keluar hotel di ikuti Hary.
*
*
*
__ADS_1
Anggar yang sudah ada di perjalanan pun sudah ngga sabar pengen cepet sampai, dia mengemudi sudah kaya pembalap, dia ngga peduli dapat cacian dan makian dari pengendara lain, yang ada di pikiran nya sekarang hanya istrinya yang terbaring sakit di rumah sakit.
"Sayang kamu pasti sembuh, kamu kuat, nanti kita jalan-jalan ke paris sama Zila, itu kan keinginan kamu, apapun yang kamu inginkan aku akan berusaha mengabulkan nya" gumam Anggar sambil terus menangis.
Hilang semua rasa capek Anggar, hilang semua rasa ngantuk Anggar yang tersisa sekarang hanya keinginan nya cepat sampai di Jakarta dan bertemu secepat nya dengan istri yang sangat dia cintai.
*
*
*
Malam itu pun Zila menangis mencari ibu nya, bu Aisyah dibantu Abang dan Vio menenangkan Zila.
"Unna, unna ana nek, hik,,,hik,,,hik,,," teriak Zila sambil nangis.
"Zila kangen bunda sayang? Nanti kita ketemu bunda ya? Bunda nya lagi beli permen buat Zila" jawab bu Aisyah sambil menitik kan air mata nya.
"Sekarang Zila main sama abang ma kak Vio ya? jangan nangis, nanti bunda sedih lihat Zila nangis" Sungguh bu Aisyah sudah ngga kuat lagi menahan air mata nya dia pun pergi ke kamar meninggalkan Zila bersama Abang dan Vio, bu Aisyah pun menumpahkan airmata nya sendirian.
Di rumah sakit Anya pun sadar dan mencari kakak nya, "Kak Ibra" panggil Anya pelan, suster yang menjaga Anya pun sigap memanggil Ibra yang sedang menunggu diluar.
"Saudara Ibra dipanggil pasien, silahkan pake ini" kata suster sambil memberikan baju warna hijau khusus pembesuk diruang icu.
Ibra pun memakai nya lalu menghampiri Anya, dengan sekuat tenaga Ibra menahan airmata nya, dia berusaha tersenyum di depan adek nya.
"Adek, kakak disini, kenapa sayang? Ada yang adek butuhkan? Adek mau apa? Ibra pun terus bertanya sambil berusaha tersenyum.
"Adek mau lihat Zila kak, adek kangen Zila" jawab Anya yang sangat menyayat hati Ibra.
Ibra pun mengeluarkan ponsel nya lalu melakukan video call bersama Zila dan ibu nya.
β. β. β. β
***Jujur aku dilema, lanjut nulis tapi aku nulis nya ditemanin air mata.
ngga di lanjut kalian juga pasti nungguin.
__ADS_1
Nulis di part-part ini aku ikut sedihπππ
Love u allπ***