
tak terasa, jam sudah menunjukan pukul 12.00, sedangkan aku masih berbaring di teras rumah kakek dengan tubuh yang kelelahan akibat latihan bela diri yang di ajarkan senior.
" hhh, padahal kau baru berlatih dasar bela diri, tapi baru dua jam saja sudah KO ".
ucap senior dengan nada mengejek.
ini adalah sisi lain dari senior yang sangat ku benci, sifat angkuhnya. .
" tapi, aku kan wanita, dan kau pria, dan lagi pula, ini adalah hari pertamaku berlatih bukan?".
ucapku dengan nada yang tenang dan mencoba untuk tidak memanaskan situasi.
" hhh, kau lemah, aida bahkan tidak mengeluh sedikitpun saat berlatih ".
ucap senior sambil menatap dingin padaku.
" baiklah, memang aida jauh lebih kuat dari pada aku, memangnya apa!".
ucapku dengan emosi yang tertahankan.
" hhh, baguslah kalau kau mengaku ".
ucap senior sambil membuang mukanya dariku.
" apa!, senior!, kau yang memulai!".
ucapku dengan wajah marah.
" kau seharusnya tidak boleh marah, inikan kenyataanya ".
ucap senior sambil tersenyum sinis ke arahku.
" hey, kalian tidak perlu bertengkar seperti itu ".
ucap aida mencoba untuk menenangkan kami.
" dia yang duluan!".
ucapku dengan wajah yang kesal.
" hah?, kau yang marah-marah tidak jelas ".
ucap senior dengan wajah kesalnya.
" itu karena kau yang terus mengejekku!".
ucapku dengan tatapan kesal.
" kalian semua!, cepat kesini, sudah waktunya makan siang!".
ucap kakek dengan lantang dari ruang makan.
kami berdua saling berpaling dan pergi ke ruang makan ke arah yang berbeda.
" hey sherla, sudahlah, seniormu itu pasti hanya sedang bercanda saja ".
ucap aida sambil mencoba menenangkanku.
" yah, tapi bercandanya kelewatan ".
ucapku dengan wajah yang masih kesal.
" apa kalian memang sering bertengkar seperti ini?".
tanya aida.
" entahlah sebenarnya, aku dan senior jarang sekali bertengkar ".
ucapku dengan sambil menatap aida.
" dulu, aku dan senior juga jarang sekali berbicara satu sama lain ".
ucapku sambil mengingat-ingat masa-masa bersama senior.
" lalu, apa yang menyebabkan kalian sering bertengkar akhir-akhir ini ".
ucap aida dengan wajah heran.
" aku juga tidak tau, senior mempunyai banyak sisi lain dari dirinya, aku tidak bisa menebak kapan dia akan bercanda dan kapan dia serius ".
ucapku sambil menunduk.
" hm, tapi, kalau dilihat-lihat, kalian berdua ini sangat cocok ".
ucap aida sambil tersenyum ke arahku.
" eh, a, a, apa yang kau bicarakan ".
ucapku sambil membuang muka.
" yah, entah mengapa meskipun hubungan kalian terlihat dingin, tapi aku merasa perasaan kalian ini sama ".
__ADS_1
ucap aida sambil menghentikan langkahnya.
" hmm, apa maksudmu?".
ucapku dengan wajah bingung.
" yah, aku merasa kau mempunyai perasaan terpendam yang ingin kau ungkapkan padanya, begitu juga seniormu ".
ucap aida sambil tersenyum.
" hm, tidak ada yang bisa mengetahui perasaan manusia selain manusia itu sendiri ".
ucapku sambil lanjut pergi ke ruang makan.
" hihi, itu baru sherla yang ku kenal ".
ucap aida sambil berjalan menyusulku.
saat diruang makan, tanpa sengaja aku dan senior duduk berhadapan, kami terkadang saling membuang muka satu sama lain.
dan terkadang aku melihat aida selalu tersenyum-senyum saat melihat kami.
" berhentilah seperti itu aida ".
ucapku dengan wajah kesal.
" hihi, kalian sangat lucu sekali ".
ucap aida sambil menahan tawanya.
" sudah, sudah, kalian berhenti dulu bicaranya, cepat habiskan makananya selagi hangat ".
ucap kakek sambil mengambil nasi miliknya.
" baik kek, selamat makan ".
ucapku sambil melahap hidanganku.
" oh yah, sherla, apa kau sudah pernah berkunjung ke kota ini?".
tanya kakek sambil mengunyah makananya.
" mmm, belum pernah kek ".
ucapku sambil menganggukan kepala.
" kalau begitu, Kevin, kau ajak dia keliling kota yah ".
" baiklah kek ".
ucap senior sambil fokus mengunyah makananya.
" eh, tunggu kakek, bukanya ini cukup merepotkan ".
ucapku dengan wajah terkejut.
" sudah, kau kan pernah mengajak kevin keliling saat menginap di rumahmu, sekarang gantian dia yang mengajakmu berkeliling ".
ucap kakek sambil menatap kami berdua.
" ba, baiklah kek ".
ucapku sambil melirik ke arah senior.
setelah selesai makan, tiba-tiba senior langsung datang menghampiriku, aku langsung membuang muka darinya karena masih merasa kesal.
" hey, kakek menyuruhku untuk mengajakmu keliling ".
ucap senior sambil menatap datar padaku.
" yah, aku tau ".
ucapku dengan nada singkat.
" yasudah, ayo kita berangkat ".
ucap senior.
" baiklah ".
ucapku dengan nada yang malas.
di perjalanan, aku terus membuang mukaku dari senior, meskipun terkadang senior melirik ke arahku, kami tidak mempunyai topik pembicaraan apapun, kami hanya fokus melihat-lihat pemandangan saja.
" hey, apa kau masih marah padaku?".
ucap senior sambil menatap wajahku.
" tidak, aku tidak marah ".
ucapku dengan wajah kesal.
__ADS_1
" hm, bisa terlihat jelas dari wajahmu ".
ucap senior sambil tersenyum.
" tidak ".
ucapku sambil membuang muka.
" ayo, kita ke taman sana ".
ucap senior sambil memegang tangan dan mengajakku ke arah taman.
" eh ".
aku hanya bisa mengikuti kemauan senior saja, dia yang mengajakku.
aku langsung terkagum saat memasuki taman itu.
" wah, taman ini indah sekali ".
ucapku dengan perasaan kagum.
" yep, taman ini hampir sama bukan dengan taman di kotamu, hanya saja tidak seluas itu ".
ucap senior sambil tersenyum.
" kau benar, tapi, tempat ini mempunyai banyak sekali pepohonan yang rindang, tidak seperti tamanku yang di penuhi dengan papan mainan ".
ucapku sambil melihat-lihat sekeliling.
" hm, baguslah kalau kau menyukainya ".
ucap senior sambil tersenyum.
" kak Kevin!, kak Kevin!".
tiba-tiba saja anak-anak itu datang menghampiri senior.
" kak Kevin, nanti ajarin kami latihan karate lagi yah ".
ucap anak-anak itu sambil memeluk kaki senior.
" hhh, Iyah tentu saja, nanti kakak akan ajarkan jurus karate pada kalian ".
ucap senior sambil mengelus-elus kepala anak itu.
" horeee!!".
anak-anak itu langsung gembira dan lanjut bermainnya.
" wah, kau sangat terkenal yah ".
ucapku dengan kagum.
" hhh, dulu saat aku kecil, ayahku selalu mengajakku ke taman ini untuk bermain, bukan hanya denganku, tapi juga dengan anak-anak di taman ini ".
ucap senior sambil tersenyum-senyum.
" hm, berarti ayahmu itu sangat mirip sekali sepertimu ".
ucapku sambil menunjuk ke wajah senior.
" yang benar, aku yang mirip ayahku ".
ucap senior sambil tersenyum.
" hahaha, yah itulah maksudku ".
ucapku yang cukup kebingungan.
" hey sherla, soal tadi, aku benar-benar minta maaf ".
ucap senior sambil menatapku dengan wajah bersalah.
" eh, ti, tidak, aku juga yang seharusnya minta maaf karena membentakmu tadi ".
ucapku sambil malu-malu.
" jadi, kau masih marah padaku?".
ucap senior sambil menatapku dengan serius.
" tentu saja tidak, lagian aku-".
tiba-tiba saja senior mencium jidatku.
aku langsung terdiam membeku dengan tubuh setengah mati.
lalu senior langsung tersenyum menatap wajahku dengan dekat.
" terima kasih ya, sherla ".
__ADS_1