
akhirnya kami sudah sampai di kota yang senior katakan, setelah di lihat-lihat kota ini sangat di penuhi dengan gedung-gedung yang sangat besar, akan tetapi, pepohonan disini sangat sedikit sekali, berbanding terbalik dengan kota di tempat senior tinggal.
" hey cepat, kau lama sekali ".
ucap senior dengan wajah kesal karena telah menungguku dari tadi.
" baiklah-baiklah, kau tidak sabar sekali ".
ucapku dengan wajah kesal.
" dari mana saja kau?".
tanya senior dengan wajah serius.
" eee, tadi tas ku tertinggal di dalam kereta ".
jawabku yang mencoba mencari alasan.
" astaga ".
ucap senior sambil menepuk dahinya.
" yasudah, ayo kita pergi ".
ucap senior sambil melangkahkan kakinya.
" baiklah ".
jawabku.
" mmm, ngomong-ngomong, kau mau mengajakku ke mana?".
tanyaku dengan rasa penasaran.
" ada saja ".
jawab senior dengan singkat.
" kau pelit sekali ".
ucapku dengan wajah kesal.
" aku ingin mengajakmu berbelanja ".
ucap senior dengan tatapan datar.
" berbelanja?, tapi, kenapa tidak di tempat mu saja, atau tempatku?".
tanyaku dengan ekspresi heran.
" aku jarang sekali bermain di tempatmu ".
jawab senior dengan tatapan datar.
" dan di tempatmu?, apa tidak ada pasar?".
tanyaku dengan rasa penasaran.
" tentu saja ada, hanya saja di tempat tinggalku tidak ada yang menjual produk-produk yang bernilai modern ".
jawab senior sambil menepuk dahinya.
" memangnya kenapa?".
tanyaku dengan heran.
" aku tidak tahu, sepertinya karena keadaan krisis ekonomi yang membuat mereka tidak mampu mengimpor barang-barang dari luar ".
jawab senior dengan detail.
" jadi itu alasanya kenapa aku jarang sekali melihat gedung-gedung ataupun bangunan mewah di tempat tinggalmu ".
ucapku sambil mengingat-ingat saat aku berkunjung ke rumah senior.
" yah, itulah salah satu alasanya ".
jawab senior dengan singkat.
" tapi ada yang mengatakan kalau mereka lebih menyukai barang-barang tradisional di bandingkan modern ".
ucap senior dengan tatapan datar.
" jadi, kau pasti sering sekali berbelanja disini?".
tanyaku mencoba untuk menebak.
" yah, mungkin jika ada waktu luang saja ".
jawab senior sambil mengelus-elus kepalanya.
" senior, aku tidak tahu nama kota tempat tinggalmu ".
ucapku sambil melangkah lebih dekat dengan senior.
" nama kota tempat tinggalku ada Houston ".
jawab senior dengan wajah semangat.
" kakek mengatakan kalau kota ini di bangun oleh para pasukan Jepang setelah usai perang dunia ke dua ".
jawab senior dengan detail.
kenapa jadi belajar sejarah gini yah?.
__ADS_1
" jadi, apa kau keturunan orang Jepang?".
tanyaku dengan raut wajah semangat.
" tidak, aku asli keturunan sini, memangnya ".
jawab senior dengan tatapan datar.
" ti, tidak apa-apa ".
ucapku sambil membuang muka.
" ngomong-ngomong, kenapa kau mengajakku berbelanja disini?".
tanyaku dengan pikiran yang di penuhi tanda tanya.
" aku sudah bilang, ini akan menjadi sebuah kejutan ".
jawab senior sambil menghela nafas.
" hmmmm ".
" baiklah, kita sudah sampai ".
ucap senior sambil menghentikan langkah kakinya.
aku sangat terkejut saat melihat sebuah gedung besar yang berdiri tepat di depanku, tapi kalau di lihat-lihat, ini sepertinya adalah sebuah mall.
" wah!, aku baru pertama kalinya melihat mall sebesar ini ".
ucapku dengan rasa kagum.
" ini belum seberapa, ayo masuk ".
ujar senior sambil menggenggam tanganku.
" ayo!".
saat masuk di dalam, ternyata mall ini jauh lebih luas dan besar dari yang ku kira. teknologi disini juga canggih-canggih.
" ayo, kita kesana ".
ucap senior sambil menarik tanganku.
kami berhenti sebuah tempat yang berisi pakaian-pakaian untuk wanita dan pria.
tapi senior hanya melirik-lirik sekeliling seperti sedang mencari sesuatu.
" kau sedang mencari apa senior?".
tanyaku sambil menepuk pundak senior.
" hmm, itu dia!".
ucap senior sambil berjalan menuju tempat yang berisikan gaun-gaun yang cantik.
tanyaku dengan heran.
" hey Sherla, kau suka warna apa?".
tanya senior sambil memilih-milih gaun yang bertumpukan itu.
" hmmm, putih, ini dia!".
ucap senior sambil menunjukan gaun putih yang berhasil ia temukan.
" woah!, gaun ini sangat indah sekali ".
ucapku dengan rasa kagum.
" kau mau mencobanya?".
ucap senior sambil memberikan gaun itu padaku.
" mmm, senior, di sini tertulis kalau kita tidak boleh mencoba gaun yang belum di beli ".
ucapku sambil menunjuk ke sebuah poster di dinding ruangan.
" astaga, bagaimana aku tidak menyadarinya ".
ujar senior sambil menepuk dahinya.
" aku ingin lihat harga gaun itu ".
ucapku sambil mencari harga gaun itu.
namun, saat aku mengetahui harga gaun itu..
" HAAA!!! ".
aku sangat terkejut saat melihat harga gaun itu yang sangat mahal sekali.
" ada apa?!".
ucap senior dengan wajah cemas.
" lihat ini ".
jawabku sambil menunjukan kertas lembar yang berisi harga dari gaun tersebut.
" Du, dua ratus dolar?!".
senior langsung syok saat melihat harga gaun tersebut.
__ADS_1
( 200 dollar \= 2.978.460 rupiah )
" jadi, bagaimana ini?".
ucapku dengan wajah kecewa.
" wajar saja, di tempat yang bagus seperti ini, sudah semestinya barang-barang disini juga mahal ".
jawab senior yang mencoba untuk tenang.
" sepertinya, kita batalkan saja untuk belanjanya hari ini ".
ucapku sambil tersenyum meskipun itu palsu.
" tidak, aku akan tetap membelinya ".
ucap senior sambil menggenggam erat gaun itu.
" kau bercanda?, apa kau tidak melihat berapa harga gaun itu?!".
ucapku dengan ekspresi marah.
" aku punya tiga alasan untuk membelikan gaun ini untukmu ".
ucap senior dengan wajah serius.
" apa itu?".
ucapku dengan wajah heran.
" pertama, ini adalah keinginan dari kakek, Kedua, karena aku ingin berterima kasih padamu, dan ketiga, kau akan sangat cantik sekali saat memakai gaun ini ".
ucap senior dengan tatapan serius ke arahku.
aku hanya terdiam dan menganggukan kepalaku dengan pasrah.
" maaf tuan, kami ingin membeli gaun ini, apa kau bisa membantu?".
ucap senior sambil memberikan gaunya pada kasir itu.
" gaun ini?"
ucap pak kasir itu dengan wajah terkejut.
" kalian, mendekatlah ".
ucap pak kasir itu sambil menarik kami agar lebih dekat denganya.
" kalian bisa mendapatkan gaun ini secara gratis, jika kalian mau menjadi model produk baru kami ".
ucap Kasir itu sambil membisik.
" benarkah?".
ucap kami bersamaan.
" tentu saja, kalian mau menjadi relawanku?".
ucap Kasir itu sambil mengulurkan tangannya.
" bagaimana?".
ucap senior sambil membisik padaku.
" bukanya ini terlalu mencurigakan?".
ucapku sambil membisik balik.
" kita ikuti saja ".
ucap senior mencoba meyakinkan ku.
aku hanya menganggukan kepalaku.
" baiklah, kami setuju ".
ucap senior sambil menjabat tangan kasir itu.
" bagus, kalau begitu ikutlah denganku ".
ucap kasir itu sambil membawa kami ke sebuah ruangan.
" disini ada beberapa perias yang akan mendandani model kalian, jika sudah selesai, beri tahu aku ".
ucap kasir itu sambil pergi meninggalkan kami.
aku terpaksa mengikuti ajakan senior demi mendapatkan gaun gratis ini, tapi entah mengapa aku merasa gaun ini seperti gaun pengantin. apa memang Iyah ya?.
setelah selesai berdandan, aku langsung di bawa ke sebuah tempat dimana kita akan ber swapfoto, di saat yang bersamaan aku melihat senior dengan pakaian Jas putih yang mempunyai warna yang sama dengan gaunku.
" baiklah, kalian sudah selesai?, mari kita mulai untuk swapfotonya ".
ucap kasir itu sambil menyiapkan kamera miliknya.
" hey, kau sangat cantik sekali dengan gaun itu ".
ucap senior sambil tersenyum di sampingku.
" ka, kau juga cocok sekali dengan jas itu ".
ucapku sambil menahan rasa malu.
entah mengapa rasanya tegang, gugup, dan malu sekali, apa lagi aku harus terpaksa memakai rambut palsu ini.
__ADS_1
" baiklah, katakan cis!".