
" fiuh, akhirnya aku bisa pulang juga, didalam kereta tadi sangat panas sekali, tubuhku sampai berkeringat ".
gumamku sambil mengipas-kipasi tubuhku.
saat aku sudah sampai didepan rumah, perjalananku langsung berhenti setelah melihat aida yang sedang berdiri didepan rumahku.
" Aida?, apa yang kau lakukan disini?, kau sedang menunggu siapa?".
tanyaku sambil berjalan mendekati aida.
" tentu saja kau ".
ucap aida sambil menunjuk padaku.
" aku?".
tanyaku dengan wajah heran.
" hey, apa kau lupa dengan janjimu?, kau bilang akan berkunjung ke rumahku bukan?".
ucap aida dengan tatapan sinis ke arahku.
" baiklah, tapi aku pergi mandi dulu yah ".
ucapku sambil masuk kedalam rumah.
" kau mandi saja dirumahku ".
ucap aida sambil menarik tanganku.
" eh, kenapa?, rumah kita cuman berjarak 10 kaki, jadi kau tidak usah repot-repot ".
ucapku sambil mencoba melepas tanganku perlahan-lahan.
" rumahmu dikunci ".
ucap aida dengan nada datar.
" eh?, apa!!!".
aku langsung terkejut saat aida mengatakan itu.
mula-mula aku tidak percaya dengan perkataan aida, namun, saat aku mencoba membuka pintu rumahku, ternyata benar, pintunya terkunci.
" huhu ".
aku hanya menahan rasa sedih bercampur kesal.
" kau sudah percaya?".
ucap aida dengan wajah bangganya.
pasti ibuku belum pulang dari rumah temanya, tapi kenapa dia harus mengunci pintu rumahnya!!.
" sudahlah, jangan bersedih, kau boleh menginap dirumahku dulu ".
ucap aida mencoba menenangkanku.
" tapi, apa orang tuamu tidak kerepotan?".
tanyaku malu-malu.
" tentu saja tidak, lagi pula orang tuaku sedang tidak ada di rumah ".
ucap aida sambil menunjukan kunci rumahnya.
" eh, memangnya, dimana orang tuamu?".
ucapku dengan rasa penasaran.
" mereka sedang menjenguk nenek dirumah sakit ".
ucap aida sambil berjalan pergi.
mau tidak mau, aku harus setuju dengan ajakan aida, dari pada aku tidur dluar.
" wah!, rumahmu sangat besar sekali ".
ucapku dengan wajah terkejut.
ternyata, rumah aida sangat luas rapi saat masuk kedalamnya.
" hm, anggap saja rumahmu sendiri ".
ucap aida sambil tersenyum.
" ngomong-ngomong, apa aku boleh meminjam kamar mandimu sebentar?".
ucapku dengan perasaan malu.
__ADS_1
" tentu saja, kau gunakan saja kamar mandiku, aku akan menyiapkan malam ".
ucap aida sambil pergi meninggalkanku.
" eh tunggu, aku tidak tau kamar mandimu?".
ucapku dengan wajah panik.
" ouh, kau naik saja ke atas tangga, lalu, tinggal lurus saja, kamarku ada di paling ujung, kau juga bisa meminjam pakaianku dulu ".
ucap aida sambil menunjuk keatas.
" ti, tidak usah repot-repot, aku juga masih mempunyai bajuku ".
ucapku sambil menunjukan tas milikku.
saat aku masuk kedalam kamar aida, aku sangat terkejut melihat ruangan itu dipenuhi dengan foto-foto yang menyeramkan dan juga aneh.
" hiii, kenapa aida menyimpan foto-foto seperti ini?".
ucapku dengan nada ketakutan.
aku mencoba untuk memberanikan diri dan tetap fokus untuk mandi.
bahkan, dikamar mandi pun auranya jauh lebih menakutkan, kenapa lampunya harus warna merah sampai membuat air ini terlihat seperti darah.
" hey merlina, apa dulu kau juga seperti ini?".
ucapku sambil menahan rasa takut.
setelah beberapa menit di kamar, akhirnya aku bisa keluar dari ruang penyiksaan tadi.
" kau sudah selesai?".
ucap aida sambil menaruh makanan yang sudah dia siapkan di meja.
" i, Iyah ".
ucapku mencoba untuk menyembunyikan rasa takutku.
" kau pasti lapar, makanlah, sherla ".
ucap aida sambil menghidangkan makanan
yang dia buat.
aku menjadi sedikit ketakutan saat melihat aida menghidangkan kepala gurita yang masih utuh.
ucapku dengan wajah ketakutan.
" kenapa, ini kan sudah dimasak, apa rasanya tidak enak?".
ucap aida yang tiba-tiba saja ekspresinya berubah.
" ti, tidak, hanya saja terkesan sedikit menyeramkan ".
ucapku sambil mencoba menenangkan aida.
" kau, takut dengan makananku?".
ucap aida dengan wajah yang kecewa.
" eh ti, ti, tidak, mmm, sambal, Iyah hanya aku takut dengan sambal ".
ucapku dengan wajah panik.
" ouh, kalau begitu, aku akan membuat makanan lain untukmu ".
ucap aida sambil beranjak dari tempat
duduknya.
" eh tidak-tidak, aku hanya takut dengan sambal, bukan berarti aku tidak suka ".
ucapku sambil mengambil piringku.
" kau yakin?".
ucap aida dengan wajah cemas.
" Iyah tentu saja, masakan mu pasti sangat enak ".
ucapku sambil memotong daging gurita itu.
huh, ternyata merlina dan aida cukup berbeda, bahkan dari segi makanan, tapi, wajahnya yang saat mengkhawatirkan orang lain, benar-benar mengingatkanku dengan merlina.
" enak!".
ternyata, masakan aida tidak seburuk yang ku bayangkan, aku tidak menyangka aida bisa masak Sejago ini.
__ADS_1
" wah, ternyata kau sangat pintar sekali dalam hal memasak ".
ucapku dengan wajah kagum.
" ah, kau terlalu memujiku, ini semua berkat kerja kerasku ".
ucap aida dengan wajah bangga.
setelah selesai makan, aida mengajakku untuk menonton tv dikamarnya.
tapi, entah mengapa aku mempunyai firasat buruk akan hal ini.
" fi, film horor?!".
ucapku dengan wajah terkejut.
" yah, ini pasti sangat seru ".
ucap aida dengan wajah tanpa dosa.
aku hanya bisa menelan ludah dan menyetujui ajakan aida.
saat menonton film horor, aku melihat aida yang begitu menikmatinya, sedangkan aku?, aku hanya bersembunyi di balik selimut.
setelah dua jam menonton, akhirnya selesai juga, tapi rasa takut masih menempel di otakku.
" wah, tidak terasa sudah jam 22.00, ayo, kita tidur ".
ucap aida sambil mengambil selimutnya.
" i, i, iya ".
ucapku dengan tubuh gemetar.
aku mencoba untuk tidur, tapi tetap saja tidak bisa, pikiranku dipenuhi dengan cerita horor itu, sepertinya aida sudah tidur lelap.
" sherla?".
ucap aida sambil membuka selimutnya.
" eh, kau, belum tidur?".
ucapku dengan wajah terkejut.
" hihi, aku tidak bisa tidur jika tubuhmu tidak terus gemetar ".
ucap aida sambil tersenyum.
" ma, maaf, aku masih ketakutan karena cerita horor tadi ".
ucapku dengan rasa bersalah.
" hhh, tidak, kau tidak perlu minta maaf, tapi, jika kau merasa ketakutan, bangunkan saja aku, aku akan terus menemanimu sampai kau kembali tidur ".
ucap aida sambil tersenyum ke arahku.
" hhh, aku ini benar-benar merepotkan yah, untuk senior, bahkan kau ".
ucapku sambil menatap ke langit-langit.
" kau tidak benar-".
" tidak, aku benar, aku benar-benar tidak berguna, bahkan aku tidak bisa apa-apa saat di serang para berandalan, aku hanya terdiam ketakutan, sedangkan kau, kau melawan mereka tanpa merasa takut sedikitpun ".
ucapku dengan mata berkaca-kaca.
" sherla ".
" aku selalu berlindung di belakang kalian, aku hanya bisa menangis saat dalam masalah ".
ucapku dengan air mata yang menetes.
" sherla ".
" bahkan akulah yang membuat merlina mati, akulah yang membuat dia pergi untuk selamanya, aku hanyalah beban ".
" sherla!!!".
aida langsung berteriak dan menatap wajahku.
" kau salah, kau benar-benar salah, saat melawan para berandalan itu, aku juga merasa sangat takut, tapi kau lah yang membuat rasa takutku menjadi hilang, kau tidak berlindung di belakang kami, tapi kaulah yang membuat kami menjadi kuat, kematian merlina bukan karena mu, tapi melainkan karena dia sendiri, karena dia hanya ingin kau bebas, sherla, rasa peduli mu lah yang membuat kami ingin terus di samping mu, begitu juga aku, kau, adalah orang yang sangat berharga bagi kami ".
ucap aida sambil meneteskan air matanya di hadapanku.
" a, aida ".
ucapku dengan nada gemetar.
air mataku benar-benar tidak bisa terbendung lagi, aku langsung memeluk tubuh aida dan sambil menangis.
__ADS_1
" terima kasih!, terima kasih!, terima kasih! ".