
rumahmu adalah istanamu, itu adalah pepatah yang biasa orang-orang katakan ketika mereka sedang berada jauh dari rumah mereka, begitu juga aku, tinggal di rumah sakit benar-benar membuatku tersiksa dan tidak nyaman, meskipun hanya dua hari tapi rasanya seperti di penjara selama satu Minggu.
apalagi aku harus di rawat sendirian disana, sebenarnya waktu itu aku agak sedih sih, karena teman-teman ku tidak datang menjengukku. yah, setidaknya mereka bisa datang menjengukku sekarang.
tapi jujur saja, saat kejadian itu, aku tidak merasakan apapun, aku malah seperti pindah ke alam lain, sepertinya banyak hal yang ku lewati waktu itu.
" Na, na, nafas buatan?!".
aku tidak tahu ini benar atau tidak, tapi dari ekspresi senior, sepertinya dia berkata jujur.
" yah mau bagaimana lagi, kau sudah seperti orang yang kejang-kejang waktu itu ".
ucap senior dengan ekspresinya yang begitu meyakinkan.
" a, aku akan pergi ke ruang makan dulu ".
ucapku sambil melangkahkan kakiku dari kasur.
" eh, haaaa!".
kakiku langsung terkilir dan hampir jatuh ke lantai.
" awas!".
senior langsung melompat ke arahku dan menarik tanganku dengan keras sampai membuat tubuh kami tergeletak di atas kasur, tiba-tiba saja seluruh tubuh ku menjadi hangat, saat aku membuka mataku, aku sangat terkejut ketika melihat senior yang berada tepat di atas tubuhku.
gawat, sekarang aku sudah berada dalam puncak masalah, siaall, bagaimana aku bisa lupa kalau kakiku sedang sakit, aku terlalu terbawa suasana setelah mendengar perkataan senior tadi. bahkan bibir kami saling berdekatan, mungkin hanya berjarak beberapa centi saja kami bisa saling berciuman.
" maaf, tadi itu hanya Refleks ".
ucap senior sambil mengebas-ebas bajunya.
" ti, tidak perlu minta maaf, seharusnya aku yang berterima kasih padamu ".
gawat, kok aku malah jadi salting begini yah, bagaimana ini, lebih baik aku ganti topik saja.
" eee senior, apa kau bisa membantuku turun ke bawah?".
" baiklah ".
senior langsung mendekat dan menawarkan punggungnya padaku, sepertinya dia ingin menggendongku.
" naiklah ".
" ba, baik ".
mungkin, ini sudah ketiga kalinya senior menggendongku, yah aku memang sudah banyak sekali merepotkan dia.
" hey, kalian lama sekali, dari mana saja kalian?".
ucap Sofia dengan wajah kesal menatap ke arah kami.
" oh, kami sedang mengobrol sebentar dikamar, hanya itu ".
ucapku sambil melirik ke arah senior.
" masa?, dari wajah kalian, aku merasakan ada hal yang telah terjadi diantara kalian ".
Sofia terus menatap sinis ke arah kami, gawat sepertinya dia tahu apa yang yang terjadi pada kami saat di kamar tadi.
" hey sudahlah, lihat makananya sudah mau dingin, sampai kalian hanya memandanginya terus?".
ucap aida mencoba meleraikan perdebatan kami.
bagus aida, kau memang satu-satunya temanku yang bisa di andalkan. baiklah, aku harus bersikap seperti biasanya, jangan sampai membuat mereka curiga.
" oh yah ngomong-ngomong, aku tidak melihat ibu, dimana dia?".
__ADS_1
ucapku sambil melirik-lirik sekeliling ruangan.
" ibumu sedang pergi keluar, katanya sih mau berbelanja ".
jawab Sofia.
" hey kalian sudah dengar tidak tentang kabar yang sudah meluas?".
ucap Sofia dengan nada membisik.
" kabar apa?".
tanyaku.
" banyak yang bilang tentang rumah kosong yang letaknya tidak jauh dari hutan ".
" rumah kosong?, aku tidak tahu apapun tentang hal itu, dan kalau hal itu memang ada, apa untungnya buatku ".
tapi, rumah kosong ini sepertinya tidak asing dari pendengaran ku. oh yah, aku pernah melihatnya saat memasuki jalan 13 killer trajectrory kalau tidak salah, tapi, bukanya jalan itu sudah di tutup oleh pemerintah.
" bagaimana kalau kita pergi kesana?".
lagak Sofia.
" apa?, untuk apa kita kesana?, lagian apa istimewanya rumah itu, hanya rumah tua biasa ".
aku langsung menolak tawaran Sofia, bukan karena aku takut yah, kalian tahu saja kan kakiku sedang sakit. lagian buat apa mendatangi rumah tua itu, hanya buang buang waktu saja.
" rumah itu sangat angker, banyak yang bilang kalau siapapun yang masuk kesana tidak akan kembali lagi ".
jujur saja, kalian saja tahu kan ini zaman sudah modern, sudah banyak orang-orang yang melupakan bahkan tidak percaya akan hal mistis seperti itu. begitu juga denganku.
" sudah tahu rumah itu angker bukan, terus ngapain orang-orang masih saja tetap mau masuk kesana ".
ucapku sambil menepuk dahiku.
" itu dia, agar percaya kita harus masuk kedalam rumah itu dan memastikan kalau rumah itu angker, bagaimana?".
astaga, bagaimana caranya aku agar Sofia bisa mengubah isi pikirannya itu, lebih baik aku pakai alasan yang sudah ku persiapkan saja.
" eee, sepertinya aku tidak bisa, kalian tahu sendiri kan kalau kakiku sedang sakit ".
" astaga, saking semangatnya aku sampai lupa ".
ucap Sofia sambil menggaruk-garuk kepalanya.
" kau bisa mengajak aida dan senior bukan?".
ucapku mencoba untuk memberi usul.
" tidak, tidak enak rasanya kalau kita tidak pergi bersama, mungkin lain kali saja kalau kau sudah sembuh ".
bagus!, akhirnya Sofia membatalkan rencananya, aku sudah menebak kalau caraku ini pasti berhasil, feeling ku tidak pernah gagal.
" tidak apa-apa Sofia, kita bisa pergi ke tempat yang lebih seru bukan?".
ujar aida sambil mencoba menenangkan hati Sofia.
" ide yang bagus, tapi, kemana kita akan pergi?".
jawab Sofia kembali semangat.
" ummm, bagaimana kalau kita pergi ke bioskop?".
usul aida.
" boleh juga, sudah lama sekali aku tidak pergi ke bioskop ".
__ADS_1
sepertinya menyenangkan, terakhir kali aku pergi ke bioskop adalah semenjak aku masih masuk bangku smp, merlina lah yang mengajakku waktu itu.
" kapan kita akan pergi?".
tanya Sofia
" bagaimana kalau malam ini saja ".
jawab aida.
astaga, kenapa harus malam, ibu pasti tidak akan setuju, kalau aku melanggar dia pasti akan marah dan menghukum ku, beda dengan ayah, kalau dia datang dia pasti akan mengizinkanku.
" bagaimana denganmu sherla?".
ucap aida sambil menatap ke arahku.
" aku, sepertinya aku harus meminta izin dulu pada ibu ".
" yasudah, kalau begitu kita akan berkumpul seperti biasa, di depan taman jam 7 malam, jangan sampai terlambat yah ".
tegas aida.
" baiklah!"
aku akan berusaha untuk merayu ibu agar bisa mengizinkanku pergi.
" astaga ini sudah jam 10, aku harus segera pulang ".
ucap Sofia sambil menatap ke arah jam dinding rumahku.
" aku juga ".
lanjut aida.
" kalau begitu kami pergi dulu yah, semoga kau lekas sembuh yah sherla ".
ucap Sofia sambil melangkahkan kakinya.
" Iyah, terima kasih yah sudah menjenguku!".
" sama-sama!, ingat yah jangan sampai lupa nanti malam!".
ucap Sofia sambil melambaikan tanganya dan pergi meninggalkan kami.
" aku juga akan pergi ".
ucap senior yang dari tadi diam saja.
" baiklah, oh yah apa kau juga akan ikut nanti malam?".
" jika kau ikut, aku juga akan ikut ".
" ouh, hati hati di jalan yah ".
ucapku sambil tersenyum tipis.
" tunggu, aku ingin memberimu ini ".
ucap senior sambil menunjukan sebuah gelang dengan hiasan kupu-kupu.
" tidak-tidak, kau sudah memberikanku banyak sekali hadiah, aku tidak bisa menerima ini ".
aku langsung menolak dengan tegas.
" ambil saja, ini akan sangat membantumu, jika kau merasa kesepian, genggamlah gelang ini dengan erat, maka dia akan memberikanmu sebuah keajaiban ".
ucap senior sambil memberikan gelang itu dan pergi meninggalkanku.
__ADS_1
aku Sudah banyak sekali menerima hadiah dari senior, rasanya aku seperti selalu merepotkan dirinya, kau sudah banyak sekali membantuku.
" Terima kasih, Senior ".