
sepertinya aku akan menemani aida lagi malam ini, ternyata ada banyak sekali perubahan di rumah ini, sepertinya Aida sudah menjadi wanita seperti biasanya, mungkin...
berbeda dari malam sebelumnya, yang dimana saat itu kami lebih banyak menonton film horor, sekarang Aida lebih mengajakku untuk bermain video game, jujur saja, dulu aku pandai dalam memainkan itu.
" baiklah, apa kau sudah siap?".
ujar Aida yang sudah siap memainkan stick control miliknya.
" tentu saja, kali ini aku akan menghajarmu habis-habisan ".
jawabku sembari mengambil stick control milikku.
aku dan Aida langsung memainkan kan game tersebut, game Tekken biasanya di mainkan sebagai pertarungan duel satu lawan satu, dan yang mampu memenangkan pertarungan akan dicap sebagai pemenang.
" PLAYER 1 WIN!!".
lagi-lagi Aida berhasil mengalahkanku, bahkan dalam permainan ini, dia lebih pantas dipanggil sebagai ratu permainan, tapi aku tidak akan menyerah!.
" kau kalah lagi, lebih baik kau menyerah saja sherla, hihi ".
ucap Aida sambil tersenyum angkuh ke arahku.
" orang menyerah adalah orang yang gagal, itu yang kudengar dari nenekmu ".
ucapku dengan wajah santai.
" baiklah, kalau begitu kau akan menghadapi kegagalan lagi sebanyak seribu kali ".
ucap Aida yang sudah bersiap untu ronde kedua.
hhh, sepertinya Aida terlalu meremehkan ku, aku sudah cukup lama memainkan game ini, dan aku sudah mempunyai trik untuk mengalahkan lawanku, dengan cara membiarkanku kalah agar bisa mengetahui pergerakannya, bagaimana, hebat bukan?.
" PLAYER 2 WIN!!".
" eh?".
" kau terlalu meremehkan ku Aida, tadi itu baru pemanasan ".
ucapku dengan wajah santai.
sudah kubilang bukan, aku sangat pandai dalam bermain game ini, kita hanya perlu mengetahui pergerakan yang biasa di lakukan lawan kita, kalianya saja yang tidak percaya.
" hm, boleh juga, tapi kau masih belum bisa tersenyum karena masih ada ronde ketiga ".
ucap Aida sambil memegangi sticknya dengan wajah serius.
di ronde ketiga jauh lebih berbeda dari sebelumnya, sepertinya Aida sudah mengubah taktik bermainya, hhh, tapi aku juga tidak akan kalah, mungkin aku hanya lebih fokus untuk bertahan dan mengamati taktik barunya, lalu aku akan langsung mengakhiri ronde ini.
tapi, taktik baru Aida selalu berubah-ubah, sepertinya dia sudah membaca pikiranku, bahkan serangan kami selalu mengenai bersamaan.
Dann...
" DRAW!!".
" eh?".
" hahahaha!!!".
kami hanya tertawa sambil menatap satu sama lain, ternyata akhir dari pertarungan kami adalah seri, benar-benar sulit sekali untuk di tebak.
" astaga, tadi itu benar-benar kebetulan ".
ucapku sambil tertawa terbahak-bahak.
" baiklah, kau mau bertanding lagi?".
ucap Aida sambil memegang kembali sticknya.
__ADS_1
" baiklah ".
ucapku dengan siap mengambil stick milikku.
" DUAARR!!!".
tiba-tiba saja terdengar suara petir yang sangat kencang sekali, sampai membuat listrik di rumah ini menjadi mati.
" Haaa!!!".
dengan Refleks aku langsung menjerit ketakutan saat mendengar gemuruh tadi, kalian tahu kan, aku takut dengan petir.
" hey, aida dimana kau?".
ucapku sambil meraba-raba di sekelilingku karena aku tidak bisa melihat ruangan yang gelap.
" baaa!!".
lalu tiba-tiba saja Aida mengejutkan ku dengan menampakan wajahnya yang disorot oleh senter.
" Haaa!!".
aku langsung terpental jauh sambil memeluk banyak guling dengan erat.
" hehehe, Sherla, apa kau takut?".
ucap Aida dengan senyuman jengkelnya.
" jujur saja, itu tidak lucu, kau hampir membuat jantungku berhenti ".
ucapku dengan wajah kesal.
" maaf-maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi ".
jawab Aida sambil menenangkanku.
ucapku sambil menatap jendela yang jatuhi gemelitik hujan.
" sepertinya aku masih menyimpan lilin di lemari ku, coba aku cek dulu ".
ucap Aida sambil membuka lemari bajunya.
" ini dia ".
" kau menemukanya?".
tanyaku sambil memeluk bantal guling dengan erat.
" yah ".
jawab Aida sambil menyalakan lilin tersebut
" fuh, sekarang lebih baik ".
ucapku sambil mengusap keringat di dahiku.
" kau sepertinya sangat takut sekali dengan petir, dan juga gelap ".
ucap Aida sambil mendekat ke arahku.
" yah, aku sudah mengalami hal itu sejak lama sekali ".
ucapku sambil membaringkan tubuhku.
" apa yang kau rasakan ketika hal itu terjadi?".
ucap Aida menatapku dengan serius.
__ADS_1
" aku, merasa takut dan cemas sekali, perasaanku menjadi sangat gelisah ".
jawabku dengan wajah gelisah.
" dan ada satu lagi hal yang selalu menghantuiku ".
ucapku sekali lagi.
" apa itu?".
tanya Aida yang sangat penasaran.
" ketika kegelapan menyelimutiku, aku selalu bermimpi hal-hal buruk yang tidak ingin kulihat kembali, aku takut sekali ketika hal itu terjadi ".
ucapku sambil menundukkan kepalaku.
" hal buruk apa itu?".
ucap Aida yang semakin penasaran dengan ucapanku tadi.
" kau ingat, aku pernah menyebut nama seseorang saat pertama kali menginap disini ".
ucapku sambil memandangi wajah aida.
" merlina?".
jawab Aida dengan wajah terkejut.
" benar ".
jawabku dengan singkat.
" sebenarnya apa yang terjadi, dan apa hubungan orang yang kau sebut itu dengan mimpimu?".
ucap Aida yang semakin penasaran atas apa yang ku katakan tadi.
" dulu aku mempunyai seorang teman yang sangat mirip sekali denganmu, wajah, tingkah laku, bahkan sifat ".
ucapku sambil mengalihkan pandanganku ke arah Aida.
" dia adalah Marlina, dia adalah orang pertama yang menjadi temanku, dia sangat baik dan pemaaf, akan tetapi, dia mempunyai kekurangan pada kondisi fisiknya, dia tidak bisa melihat, dan itulah alasan orang-orang selalu memanfaatkannya, aku ingin sekali memarahi mereka yang mengganggu merlina, tapi merlina selalu menyangkalku, dia hanya bilang kalau orang-orang itu hanya membenci ya, dan itu tidak ada urusanya denganku, dan mau bagaimana lagi, aku tidak bisa apa-apa, bahkan aku selalu menemukan Aida dengan kondisi yang mengenaskan ".
ucapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
" lalu apa yang terjadi?".
ucap aida dengan tatapan yang sangat penasaran.
" hingga suatu saat, aku mendapatkan kejadian terburuk dalam hidupku, merlina, dia telah membunuh dirinya sendiri untuk menghentikan semua penderitaanya, dan di saat itu aku mulai menyadari, kalau aku lah penyebab kenapa merlina mati, jika aku tidak mengenalnya, mungkin dia masih hidup saat ini ".
ucapku dengan air mata yang menetes.
" Sherla?".
" hiks, dan semuanya berakhir dengan penyesalan, penyesalan yang selalu menghantui hidupku ".
ucapku sambil menatap wajah Aida dengan air mata yang berlinang.
" Aida, apakah semua ini adalah salahku?".
ucapku sambil menggenggam erat tangan Aida.
tapi Aida malah tersenyum dan memeluk tubuhku.
" tidak, kau salah sherla, merlina sangat mencintaimu, begitu juga aku, kau tidak sendirian Sherla, aku akan selalu menjadi lentera untuk menerangi kegelapan di hatimu, begitu juga dengan yang lain, kau masih mempunyai orang-orang yang selalu berada di samping mu Sherla, jika kau melihat merlina di belakang mu, maka alihkan pandanganmu kedepan dan datanglah padaku ".
" aku akan selalu di sampingmu ".
__ADS_1