
Sofia mengajakku ke suatu tempat, tapi aku juga tidak tahu kemana dia akan membawaku pergi, namun dalam setiap perjalanan, Sofia sedikitpun tidak pernah membuka mulutnya, dia hanya menundukan kepalanya sembari terus berjalan dengan tangan yang mengepal.
ini benar-benar membuat perasaanku menjadi tidak nyaman.
" he, hey sofia, kemana kita akan pergi kali ini?". tanyaku.
tapi dia sama sekali tidak menghiraukan ucapan ku tadi, sebenarnya apa yang ada didalam pikiran Sofia, dia membuatku menjadi sangat gelisah, apa semua yang dikatakan senior itu-, tidak-tidak, aku harus tetap berpikir positif, mungkin Sofia pagi banyak pikiran, lebih baik aku ikuti saja kemana dia akan membawaku pergi.
****
" eh, tempat ini?!". ternyata Sofia membawaku ke tempat yang tidak asing bagi mataku, ini adalah rumah tua yang pernah kami bicarakan dan kami lihat kemarin.
" baiklah, ayo kita masuk ". ucap Sofia dengan santai mencoba untuk membuka pintu yang telah rapuh tersebut.
" eh tunggu-tunggu, jadi kau membawaku ku kesini untuk menemanimu masuk ke dalam rumah ini?".
" kau sudah berjanji bukan waktu itu, kau akan mengajakku kesini kalau kakimu sembuh ". jawab Sofia sambil melipat kedua tangannya.
" kenapa harus aku saja?, kita bisa mengajak senior dan aida bukan?". ucapku dengan heran.
" yah, aku tidak mempunyai kontak dengan Kevin, dan aku tidak bisa menghubungi aida ".
jawab Sofia. benar juga, senior tadi pergi bersamaku, dan aida sepertinya sedang tidur dirumahnya.
" buka perlahan-lahan ". ucapku dengan tubuh merinding saat melihat Sofia membuka pintu rumah itu yang sudah mau rubuh.
" disini gelap sekali ". ternyata di dalam rumah ini sangat luas, hanya saja saat melihat dinding rumah ini membuatku menjadi takut, bukan takut karena horornya yah, tapi karena aku takut dinding rumah ini bisa ambruk kapanpun waktunya.
" astaga, aku lupa membawa senter ". ucap Sofia sambil merogoh-rogoh tasnya.
" bagaimana kau bisa lupa?"..
" hehe, aku tidak mengira rumah tua ini begitu gelap ". jawab Sofia sambil menggaruk-garuk kepalanya.
__ADS_1
" BRAAKK!!".
Tiba-tiba saja pintu yang sebelumnya terbuka langsung tertutup begitu kencang, aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi, tapi yang jelas pintu itu tidak tertutup dengan sendirinya, seperti ada orang yang sengaja menutupnya.
" hey sofia bagaimana ini, pintunya tidak bisa dibuka ". ucapku sambil mencoba terus untuk membuka pintu ini dengan sekuat tenaga. tapi pintu itu tidak bergerak sedikitpun, seperti ada yang menguncinya dari luar.
" Sofia, pintu ini tidak bisa dibuka, apa yang harus kita laku- ". saat menoleh ke belakang, aku sangat terkejut karena Sofia sudah tidak ada lagi tempat itu, penglihatan ku di sangat terbatas, aku tidak tahu keberadaan Sofia di dalam ruangan yang luas ini.
" Sofia!, dimana kau?!". aku mencoba untuk berteriak dengan keras, meskipun suaraku bergema, tapi tidak ada balasan apapun dari Sofia.
" apa jangan-jangan telah terjadi sesuatu padanya, eh-". aku sangat terkejut saat merasa ada sesuatu yang menusuk di kakiku, setelah ku tarik, ternyata ini adalah panah bius.
tubuhku langsung lemas dan tergeletak di lantai, penglihatan ku juga sudah mulai kabur dan kepalaku menjadi sangat pusing. tapi di tengah penglihatanku itu, aku melihat samar-samar wajah Sofia di balik kegelapan, namun dengan ekspresi yang berbeda, dia menatapku dengan ekspresi kosong.
" so, fi, a?".
****
" Sofia, apakah semua yang dikatakan senior itu benar?, kenapa kau melakukan ini semua padaku?". aku hanya bisa pasrah karena tidak ada hal lain lagi yang bisa kulakukan selain berharap, tapi ini adalah tempat yang terbengkalai, tidak ada yang mau masuk kerumah tua ini.
" wah lihat siapa yang datang!". suara itu, sangat tidak asing sekali, aku seperti pernah mendengarnya. dia.
" sudah lama tidak bertemu yah nona cantik ".
ternyata benar, pria itu adalah seorang berandalan yang pernah melawan kami sampai membuat aida harus di rawat di rumah sakit. tapi, bukanya dia sudah di tangkap?.
" kau?".
" yah!, akhirnya kita bisa bertemu denganmu lagi, bagaimana kabarmu hari ini hah?". pria itu terus mengoceh kepadaku, tapi di lihat-lihat dari wajahnya, sepertinya dia sudah di hajar habis-habisan saat di penjara.
" apa lagi yang kau inginkan dariku?!". ucapku dengan tegas.
" ow tenang-tenang, sebagai tamu kau harus lebih sopan sedikit padaku, aku hanya ingin bermain-main sebentar denganmu ". ujar pria berandalan itu dengan senyumanya yang licik.
__ADS_1
" cepat katakan padaku apa keinginanmu, dan kau apakan Sofia!". ucapku sambil mencoba melepas ikatan di tangan dan kakiku ini.
" dia?, kami tidak melakukan apapun padanya, dia hanya menjalankan tugasnya saja ".
" tugas?".
" yah, tugas sebagai seorang pembunuh bayaran!". jawab pria berandalan itu dengan mata melotot.
" pe,.pembunuh bayaran?". ini tidak mungkin, Sofia, dia memukul seekor hewan saja tidak berani, apalagi membunuh orang lain, mereka pasti sedang bercanda.
" aku tidak percaya dengan ucapanmu itu yang busuk!". ucapku dengan tegas.
" nchh, kau tanyakan saja sendiri padanya ". ucap pria berandalan itu sambil melirik ke sisi lain ruangan yang gelap.
ternyata orang itu adalah Sofia, aku harus mengatakan padanya kalau semua ini pasti hanyalah rekaan saja, aku harus memberitahunya kalau dia tidak mungkin melakukan semua ini.
" Sofia?!, aku tahu kau akan datang untuk menyelamatkanku bukan?". ucapku dengan senyuman yang dipenuhi dengan harapan. tapi Sofia tidak menyahut ucapanku sama sekali, dia hanya terus berjalan ke arahku, dengan pistol ditanganya.
" hahaha!, lihatlah, kau begitu polos sekali, dia bukanlah temanmu!". ucap si pria berandalan itu sambil tertawa terbahak-bahak.
" Sofia?, kenapa kau melakukan semua ini?, kita teman bukan?, kenapa kau membohongiku?". ucapku dengan air mata yang berkaca-kaca. namun Sofia sama sekali tidak peduli padaku, dia hanya terus melanjutkan langkahnya.
" semua senyuman itu, semua tawaan itu, dan semua candaan itu, apa semuanya hanya dramamu saja?!". semua emosi ke kerahkan untuk meluluhkan Hati Sofia, tapi hal itu tidak membuatnya mundur sedikit pun.
" kenapa?!, kenapa kau tidak menjawab semua pertanyaan itu, kau mengatakan kalau kita ini teman, kau mengatakan kalau kau bersyukur bisa mengenal diriku, kenapa Sofia?!!". ucapku dengan air mata yang mulai mengalir.
Sofia langsung menodongkan pistolnya ke arahku, namun ekspresi Sofia berubah kembali tersenyum seperti biasanya, namun dia tetap memasang kuda-kudanya untuk menembakan pelurunya tepat di kepalaku.
aku tidak punya pilihan lain selain berharap.
" Terima kasih, sherla ".
" DOORR!!!"...
__ADS_1