
" Sherla, ada hal penting yang ingin kutanyakan padamu ".
ucap Niro dengan tatapan datar.
" apa yang ingin kau tanyakan dariku?".
ucapku dengan wajah serius.
" apa hubunganmu dengan anak itu?".
tanya Niro menatap tajam ke arahku.
" ma, maksudmu Kevin?, kami hanya sebatas teman ".
jawabku sambil membuang muka karena malu.
lalu tiba-tiba Niro mulai berjalan mendekat ke arahku.
entah mengapa perasaanku menjadi benar-benar tidak enak.
" he, hey, kenapa kau menatap ku seperti itu?".
ucapku dengan wajah ketakutan.
tapi niro hanya terus berjalan mendekat sambil menatap datar ke arahku.
" hey, apa kau mendengar ku?".
ucapku sambil mencoba berjalan mundur perlahan, namun langkahku langsung terhenti saat tubuhku mulai menyentuh tembok, aku benar-benar mulai terpojok, apa lagi saat melihat Niro yang sudah mulai dekat ke arahku.
" Sherla, aku hanya ingin memperingatkanmu, tetaplah berada di samping anak itu ".
ucap Niro menghentikan langkahnya dan menatapku dengan serius.
" eh, apa maksudmu?".
tanyaku dengan wajah heran.
" jika kegelapan sudah menyelimuti hatinya, dia akan menjadi seorang pembunuh, bahkan lebih dari itu ".
jawab Niro sambil membalikan badanya dariku.
" aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu!, sebenarnya, siapa kau!?, dan kenapa kau menolong kami tadi ?!".
ucapku dengan wajah serius.
" kau akan mengetahuinya nanti, dan aku mengingatkan mu satu hal lagi, menjauhlah dari FBI ".
ucap Niro sambil melirik ke arahku dengan tatapan yang mengerikan.
namun sebelum dia pergi meninggalkan ku, saat yang benar-benar tidak pas terjadi, tiba-tiba saja senior datang berhadapan dengan Niro.
" Sherla!".
ternyata senior juga mengajak Aida kesini untuk menjemputku.
" Sherla, kau tidak apa-apa?".
tanya Aida dengan wajah yang cemas.
aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku.
" hey, siapa sebenarnya kau, kenapa kau mendekatinya?".
ucap senior dengan tatapan tajam ke arah Niro.
perasaanku menjadi sangat tidak enak, hawa disini begitu panas sekali, aku harus melakukan sesuatu agar situasi ini tidak memanas.
" tunggu, senior, dia hanya ingin mengobrol sebentar bersamaku, tidak lebih ".
ucapku mencoba menenangkan suasana.
niro langsung pergi meninggalkan kami berdua tanpa mengucap sepatah kata sedikitpun.
" sebenarnya dia menginginkan apa darimu?".
tanya senior menatap tajam ke arah ku.
" entahlah, dia hanya mengajakku mengobrol saja ".
ucapku mencoba untuk menenangkan suasana.
" hmm, baiklah kalau begitu, kalian cepat pulang sana ".
ucap senior sambil pergi meninggalkan kami dengan raut wajah kesal.
" hey, kenapa kau berbohong padaku?, aku kira kita ini teman ".
ucap Aida dengan wajah cemberut.
" hmm, aku benar-benar minta maaf ".
jawabku sambil mengelus-elus kepala Aida.
" heee, kau tidak mengerti maksudku, bagaimana jika terjadi sesuatu padamu, kau membuatku sangat khawatir, kau jahat ".
ucap Aida sambil memarahiku dengan wajahnya yang lucu.
melihat ekspresinya yang seperti anak kecil membuatku menjadi tidak tahan, aku langsung mencubit pipinya.
__ADS_1
" aw!, sakit tau!".
ucap Aida memarahiku sambil memegang bekas cubitan di pipinya.
" hihi, lagian kau lucu sekali sih, kau membuatku gemazzz".
ucapku sambil mencubit-cubit pipi Aida.
" hentikan-hentikan, haaa!".
ucap Aida sambil melepaskan cubitanku dan lari meninggalkanku.
" hahaha!".
aku langsung mengejar Aida yang berusaha kabur dariku.
setelah kejar-kejaran tidak karuan, kami terhenti di depan gerbang masuk sekolah dengan tubuh penuh keringat.
" huh, huh, cukup Sherla, aku sudah tidak kuat lagi "
ucap Aida dengan nada yang lemas.
" yah, aku juga, huh ".
ucapku sambil duduk di samping Aida.
" haish, kalian ini seperti anak kecil saja ".
ucap senior yang tiba-tiba saja berdiri di depan kami.
" eh, senior, kau belum pulang?".
tanyaku dengan wajah terkejut.
" aku menunggumu ".
jawab senior dengan wajah tatapan datar.
" menungguku?".
tanyaku dengan wajah heran.
" iyah, ada hal penting yang ingin ku bicarakan denganmu ".
ucap senior menatapku dengan serius.
" wuuuh, sebaiknya aku pulang duluan, takut menganggu ".
ucap Aida melangkahkan kakinya meninggalkan kami.
" tunggu Aida, senior, kita bicarakan di tempat lain, jangan disini ".
" baiklah ".
ucap senior sambil menganggukan kepalanya.
kami bertiga memutuskan untuk pulang bersama, aku tidak tau apa yang ingin senior bicarakan padaku, tapi jika ini ada kaitannya dengan FBI, aku tidak bisa membiarkan Aida bersama kami, haduuh, semoga saja keajaiban muncul.
saat di tengah perjalanan, kami di hentikan sebuah mobil putih di depan kami.
" eh, itu seperti mobil milik orang tuaku ".
ucap Aida sambil menatap mobil itu dengan teliti.
saat kaca mobil itu terbuka, ternyata benar, itu adalah orang tua Aida.
" Aida sayang, cepat, masuk ke mobil, ajak Sherla juga ".
ucap ibu Aida dari kaca mobil yang terbuka.
" baik bu, Sherla, apa kau juga ikut?".
tanya Aida melirik ke arahku.
" mmm, maaf, ada hal yang ingin ku bicarakan dengan senior ".
ucapku sambil menunjuk ke senior.
" waw aku lupa, kalau begitu aku duluan yah, selamat bersenang-senang Sherla ".
ucap Aida sambil berlari masuk ke dalam mobil.
" apa yang kau maksud bersenang-senang ".
ucapku sambil melambaikan tangan.
" baiklah, kita bicarakan sambil berjalan saja ".
ucapku sambil melangkahkan kakiku.
" ngomong-ngomong, apa yang ingin kau bicarakan?".
" tentang anak itu ".
ucap senior dengan tatapan datar.
" aku sudah bilang bukan, kami tidak mempunyai hubungan apapun ".
ucapku dengan wajah kesal.
__ADS_1
" hah?, aku tidak menanyakan itu ".
ucap senior menatap sinis padaku.
" eh, lalu?".
" apa kalian pernah saling bertemu?".
tanya senior dengan tatapan serius.
" hmm, iyah, kau tau saat kita terkepung pada malam itu?, niro lah yang telah menyelamatkan kita ".
ucapku sambil melihat ke depan.
" benarkah?, lalu, apa yang dia bicarakan padamu tadi?".
tanya senior dengan. ekspresi serius.
" mmm, dia bilang ".
" dia bilang apa?".
" dia bilang ".
aku harus bilang apa!, apa aku harus bilang kalau dia menyuruh ku untuk menjaga senior.
" dia bilang padaku untuk menjauh dari FBI ".
ucapku sambil menunduk.
" bagaimana dia tau kalau kita anggota FBI?".
ucap senior dengan tatapan terkejut.
" mungkin karena baju yang kita gunakan malam tadi ".
" hmm, baiklah, sudah itu saja, terima kasih ".
ucap senior sambil menatap ke depan.
setelah itu kami tidak mempunyai topik apapun hingga sampai di depan rumahku.
" aku pulang duluan yah ".
ucapku sambil menatap senior dengan perasaan malu.
" yah, sampai jumpa lagi ".
ucap senior sambil tersenyum ke arahku.
" fiuh, entah mengapa perasaanku menjadi campur aduk gini yah ".
ucapku sambil berjalan ke pintu rumah.
saat aku mencoba membunyikan bel, sama sekali tidak ada respon apapun, apa ibu pergi keluar lagi yah?.
" bu!, aku pulang, ibu-".
aku langsung terkejut saat melihat sebuah kardus kecil yang berwarna merah lekat seperti darah.
aku langsung panik dan saat membuka pintu, ternyata pintu rumah sama sekali tidak terkunci.
" ibu!".
aku mencoba mencari ibu kemana-mana dengan panik.
hingga saat aku memeriksa ke kamar ibu, aku melihat ibu yang sedang menangis.
" ibu!, apa yang terjadi, kenapa ibu menangis ".
ucapku dengan wajah panik.
" Sherla ".
ibu langsung memelukku sambil menangis histeris.
" ibu, tenanglah, katakan apa yang sebenarnya terjadi ".
ucapku sambil mencoba menenangkan hati ibu.
" tadi saat ibu mau keluar, ibu melihat sebuah kotak yang menyeramkan tergeletak di depan rumah, ibu tidak tau siapa yang mengirimnya, saat ibu melihat isinya, ibu menemukan sebuah perekam suara, saat ibu membuka perekam suara tersebut, terdengar suara yang menyeramkan, dia bilang kalau ".
tiba-tiba saja ibu menghentikan perkataannya dan memelukku dengan sangat erat.
" apa yang dibilang bu?".
ucapku dengan perasaan yang tidak enak.
" dia bilang, kalau mereka telah menculik Ayah ".
ucap ibu sambil menangis histeris.
" a, apa ".
aku hanya terdiam dengan wajah terkejut.
lalu pandanganku teralih saat melihat alat perekam itu, saat aku mengambilnya, aku mencoba untuk mengecek alat itu.
dan di belakang alat perekam itu, terdapat sebuah logo yang sangat tidak asing bagiku, saat mengingatnya, tubuhku langsung gemetar, ternyata logo itu berasal dari.
__ADS_1
" RED, EVIL ".