Separuh Nyawaku

Separuh Nyawaku
Separuh nyawaku


__ADS_3

Ep 64


.


.


.


"Maksudnya apa pa ??" Winda menatap sang papa.


"Iya Win. Papa sudah menjodohkan kalian. Karna saham papa kemarin dalam ambang kebangkrutan."Balas papanya Winda.


Winda membulatkan kedua matanya. Aldo menyeringai.


"Dan kau, sebaiknya pulang saja. Winda sudah menjadinmilikku !!"Usir Aldo.


"Iya.. Lagian Win, Kau kan belum lama mengenal pria itu. Jika dengan Aldo hidupmu akan terjamin."Tambah mamanya Winda.


"Ma...nggak bisa gini dong, Aku sudah katakan aku tidaknmau dijodoh-jodohkan !!?" protes Winda.


"Apa kau mau papa dipenjara ??!! Hutang papa banyak pada papanya Aldo."Timpal papanya Winda.


Mahendra hanya bisa diam tanpa berkata. Ia ingin sekali menolong Winda dalam perjodohan aneh itu, namun Mahendra tak memiliki cukup uang yang pasti sangat banyak itu.


"papa jahat !!!" Winda berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Kau sebaiknya pergi saja. Mengertilah keadaan Winda."ucap papanya Winda pada Mahendra.


"Tuan.. Jika saya bisa membantu anda melunasi hutang anda. Apa anda memberi saya ijin menikahi Winda ??" Mahendra bertanya.


"Melunasi ?? Bukannya kau hanya penjaga rumah makan biasa ?? Jangan memberi kami harapan !!" Timpal Mamanya Winda.


"mama !!" Sentak Papanya Winda.


Mamanya Winda langsung terdiam seketika.

__ADS_1


"Itu pasti akan membebanimu. Lebih baik kau cari saja wanita lain."Ucap papanya Winda.


"Tapi saya benar-benar mencintai Winda tuan.. Dan saya akan berusaha untuk itu."Balas Mahendra.


"Kau fikir hutang mereka sedikit. 3.5M. Dengar tidak !!!" Sentak Aldo.


Mahendra terdiam seketika. Dari mana ia mendapatkan uang sebanyak itu.


Dari atas, Winda menahan isak tangisnya. Winda sangat yakin Mahendra tidak akan bisa memberikan uang sebanyak itu.


.


.


Mahendra kembali kerumah Brian dengan wajah lusuh tak bersemangat. meski kembali dari rumah Winda masih siang, namun Mahendra tak langsung kembali, ia tidak tau bagaimana menjelaskan pada Ayumi dan Brian mengenai Batalnya acara lamaran yang ingin ia lakukan.


Karna memang sudah malam, Ayumi sudah tidur bersama baby Anggara. Sementara Ayah Yusuf juga sudah masuk kedalam kamarnya..


Sepi sekali, saat Mahendra meneliti sekeliling.


"Tidak usah bik.. Saya akan cari sendiri nanti."Balaw Mahendra.


"Baiklah.. Kamar tuan diujung lorong sana ya... Sudah kami siapkan."Pelayan menunjuk.


Mahendra mengangguk pelan dan pelayan segera berlalu dari hadapannya.


Mahendra bukannya menuju kamar. Melainkan memilih duduk diDepan kolam renang merenungi semuanya.


Mahendra duduk bersandar. Menatap langit yang bertabur dengan indahnya bintang. Seharusnya itu bisa ia nikmati bersama Winda,namun semuanya sirna seketika.


beberapa kali Mahendra mengusap wajahnya. Kenapa disaat ia memberanikan diri mengenal wanita, Ia harus menerima kenyataan seperti ini.


"Kau kembali juga. Dari mana saja ??" suara Brian membuat Mahendra langsung membenahi duduknya.


"Brian.."

__ADS_1


"Kau bilang akan melamar wanitamu malam ini kenapa baru kembali sekarang ?? Ayumi sudah bersiap sejak magrib bahkan hantaran juga sudah siap semua."Tutur Brian.


Mahendra menunduk seketika. Ia.harus mengatakan apa.


Melihat Mahendra nampak bersedih Brian melirik sekilas rekannya itu.


"Ada masalah ??"


"Brian aku sepertinya tidak jadi melamar dia."Ucap Mahendra lirih.


"Kenapa ?? Kau mau.jadi pria pengecut ??" Timpal Brian dengan cepat.


"Bukan begitu.."


" Lalu ??"


Mahendra mengusap kasar wajahnya. "Winda sudah dijodohkan papanya sebagai bayaran hutang papanya pada rekan bisnisnya. Aku harus mengeluarkan uang sekitar 3.5M untuk bisa menebus Winda."


"Aku dapat dari mana uang sebanyak itu Brian..Tabunganku juga tidak lebih dari 300juta."Mahendra tertunduk lemah.


Brian seketika turut duduk disisi Mahendra.


"Kenapa tidak bilang dari tadi ??!!"


"Aku malu Brian.. Pasti nanti Ayumi memarahimu.."balas Mahendra.


Brian mendegus seketika. "Jika memang kau serius padanya Ayumi tidak akan marah. Kau menganggap kami keluarga, tapi giliran ada masalah seperti ini kau malah simpan sendiri."


"Maaf..."Ucap Mahendra lirih.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2