
Ep 72
.
.
"Dari mana Jinan dengar kata itu ??" Tanya Brian keheranan.
"Papa jawab dulu."Jinan malah balik menekan sang papa.
Brian menghela nafas panjangnya.
"Setidaknya katakan alasannya ?? Tidak mungkin kan kau langsung tau kata itu ??" Brian mulai serius.
Jinan mengalihkan pandangannya. Bukan apa-apa, meski terkenal lebih dekat dengan sang Papa, namun Jinan selalu takut jika sang papa menatapnya dengan tajam seperti itu.
"Temanku disekolah. Dia bilang orangtuanya mau cerai"
Brian baru bisa bernafas lega saat putrinya sudah jujur.
"Pa.. Kata temanku, orangtuanya setiap hari bertengkar terus.. Jadi mereka akan bercerai. Temanku jadi sedih."tambah Jinan.
"Papa dan mama nggak pernah bertengkar kan ??" lagi, Jinan menambah pertanyaan.
"Apa selama ini Jinan pernah lihat mama dan papa bertengkar ??" Tanya Brian balik.
Dan Jinan terdiam sesaat lalu menggeleng.
Seketika Brian mengulas senyumnya. "bercerai itu kata lain dari berpisah. Orangtua temanmu itu akan berpisah. Tidak tinggal bersama lagi, dan menjalani hidup sendiri-sendiri."
"Kenapa berpisah ??"
__ADS_1
"Iya mungkin seperti kata temanmu Itu, Orangtuanya sering bertengkar, ada kalanya orang dewasa yang egois ya seperti itu."balas Brian lagi.
"Kasihan sekali Rara..pantas sejak pagi dia sedih sekali.."
Brian mengusap rambut panjang putrinya. "Jika besok dia masuk. Kau harus memberi dia semangat. Jangan memikirkan urusan kedua orangtuanya, berikan dia motivasi atau kata-kata yang menguatkan hatinya.."
"Iya pa.. Papa dan mama jangan sampai seperti itu ya ?? Karna Jinan akan marah nanti."Pesan Jinan.
Brian kembali tersenyum lebar. "Tidak akan sayang.. Papa pastikan itu tidak akan terjadi."
"Ya sudah. Aku mau pulang laper soalnya."ucap Jinan seraya turun dari sofa.
"Pulang ?? Cepat sekali ?? Tidak menunggu papa ??" tawar Brian.
"Tidak.. Aku kesini memang hanya ingin menanyakan itu saja. Bye papa.."Sembari mencium tangan Brian Jinan berpamitan dan melenggang keluar dengan dua kaki mungilnya.
Brian hanya menggelengkan kepalanya, ada-ada saja pertanyaan anak kecil itu.
.
.
"Benarkah ?? Tapi kata paman Pengawal Jinan sudah pulang sejak tadi ma..dengan sopir. Aku sama paman pengawal saja tadi naik taksi." balas Anggara.
"Apa ?? Lalu kemana anak itu ??" wajah Ayumi berubah serius.
ia segera menghubungi sopirnya. Namun baru saja Ayumi menempelkan benda pipih ditelinganya, Suara Jinan terdengar.
"Kakak naik apa tadi ??"
Semua mata menatap Jinan yang baru masuk rumah, bahkan ia masih mengenakan seragam sekolahnya.
__ADS_1
"Nah. Tuh dia pulang ma.."Tunjuk Anggara.
"Jinan.. Kau dari mana Nak ?? Kenapa baru pulang ??"Ayumi buru-buru menghampiri Jinan.
"Aku kekantor papa sebentar."balas Jinan.
"kantor papa ?? Buat apa Nak ??" ayumi keheranan.
"Nggak buat apa-apa. Cuma.pengen kesana .."balas Jinan dengan mudah.
"Kenapa nggak nungguin kakak.. Kau ini.."protes Anggara.
"Habisnya sekolah kakak lama keluarnya. Aku bosan nungguin."Timpal Jinan.
Anggara nampak terlihat kesal sekali
"Sudah.. Sudah, ayo kekamar masing-masing terus ganti baju ya.. Mama tunggu dimeja makan. Anggara, nanti sekalin ajak kakek ya, kakek dikamar sebelah kamarmu."
"Iya Ma.."Anggara segera melenggang menuju kamarnya. Jinaan pun juga demikian. Sementara Ayumi memilih menghubungi Brian saat tiba didapur.
"Halo.. Ada apa sayang ??" Balas Brian saat sambungan telfon terhubung.
"Benar tadi anak perempuanmu kesitu ??" Ayumi memastikan.
"Iya sayang. kenapa memangnya ?? Dia cerita apa ??"
"Tidak cerita.. Aku hanya kawatir sudah lewat waktu kok belum.pulang.. Ya sudah, aku tutup dulu.. Bye.. Eemmuach.."Ayumi buru-buru mengakhiri panggilannya dan segera menyiapkan makan siang untuk kedua buah hatinya.
.
.
__ADS_1
.