Separuh Nyawaku

Separuh Nyawaku
Separuh Nyawaku


__ADS_3

Ep 71


.


.


.


"Dek, kalau didepan mama dan papa serta kakek kau harus lebih melembutkan suaramu. Itu namanya tidak sopan." Nasehat Anggara saat mereka diperjalanan kesekolah.


"Mana aku bisa ??!! Aku kan memang seperti ini.."Balas Jinan dengan mudah.


"ya coba dulu. Lagian kau ini perempuan. Seharusnya lemah lembut dong tidak kasar seperti itu. Seperti preman saja."Celoteh Anggara.


"Biarkan saja. Suka-suka Jinan dong !!? Weeeee..."Jinan menjulurkan lidahnya mengejek sang kakak.


Soopir serta satu pengawal yang duduk dibangku depan tertawa kecil, saat melihat perdebatan dua pewaris Besar itu.


Tiba disekolah mereka harus berpisah karna Anggara yang sudah ada diarea SD sementara Jinan masih harus ditaman kanak-kanak. Sebenarnya Jinan sudah tidak mau diTK, namun karna usianya yang memang belum mencukupi ia terpaksa menurut saja. Padahal IQ Jinan tidak bisa diragukan. Karna mewarisi semua sifat sang papa IQ Jinan pun turut mewarisi IQ papanya. Ia sangat ahli dan begitu mudah mengerjakan apapun.


Saat masuk diruangannya, Jinan melihat satu teman perempuannya sedang murung didalam kelas, sementara temannya yang lain sibuk bermain diluar.


"Kau kenapa ??" tegur Jinan setelah meletakkan tas sekolahnya.


"Jinan.. Kau tau arti dari Bercerai ??" balas Teman Jinan yang bersama Irma.


"bercerai ?? Memang kenapa ??"

__ADS_1


"Mama dan papaku katanya akan bercerai. Dan mereka setiap hari bertengkar. Aku takut."Curhat Irma dengan polosnya.


Jinan mengangguk mengerti. Tapi ia juga tidak tau arti dari kata itu.


"Nanti aku coba tanyakan papaku ya. Kau jangan sedih. Mungkin orang dewasa memang seperti itu."


"Apa papa dan mamamu suka bertengkar juga ??" Tanya Irma lagi.


"Sejauh ini sih tidak. Tapi aku tidak tau jika dikamar bagaimana."balas Jinan.


Irma hendak menceritakan keluh kesahnya lagi, namun Bel tanda jam pelajaran akan dimulai berbunyi.


.


.


Jinan kembali lebih awal dan meninggalkan sang kakak yang pulang sedikit siang. Dengan diantar sopir Jinan hendak pulang. Sementara pengawal yang satu menunggui Anggara disekolah.


"Tapi Nona. Kata Mamanya Nona, nona harus pulang dulu baru bisa pergi main lagi."balas sopir.


"Aku ini mau menemui papa, bukan mau main !!" sentak Jinan.


sopir itu kebingungan. Bosnya masih ada dimarkas. Bagaimana ini ??


"Cepat jawab paman !!!" Lagi Jinan bersuara cukup tinggi.


"Iya. Non.. Iya. Coba saya hubungi tuan dulu ada tidaknya dikantor ya.."balas sopir.

__ADS_1


Jinan diam seketika. Lalu buru-buru sopir itu menghubungi Brian. Setelah mendapat laporan dari Markas, Sopir segera melajukan mobil menuju markas besar dimana Brian berada.


Tak lama mereka tiba depan gedung besar nan megah. Jinan pun begitu menganggumi keindahan itu. Saat mobil berhenti, tanpa menunggu dibukakan pintu oleh Sopir, Jinan segera membuka dan turun sendiri.


Apalagi saat melihat sang papa yang berjalan keluar dari pintu besar itu.


"Papa.." panggil Jinan dengan semangat. Ia berlari menghampiri sang papa.


Senyum Brian seketika terbit. Dan membuka kedua tangannya. Namun sayang. Ternyata Jinan tidak mau dipeluk olehnya.


"Papa.. Jinan sudah besar.. Tidak perlu dipeluk !!" protes Jinan.


"Ah.. Iya. Papa lupa. Baiklah, Mau masuk ??" ajak Brian.


" tentu saja.."Dengan menggenggam Telunjuk Brian, Jinan menarik sang papa masuk kedalam.


"Papa.. Kenapa rumah kita tidak sebesar ini ??"Tanya Jinan saat mereka masih berjalan masuk.


"Karna ini tempat kerja dan banyak yang tinggal disini. Harus besar dong."balas Brian dengan enteng.


Brian mengajak Jinan kehalaman belakang, dimana terdapat pemandangan indah disana.


"Jadi.. Kenapa anak papa kesini ?? tumben sekali.." Brian menanggapi setelah duduk dengan nyaman.


"Pa.. Aku mau tanya. Cerai itu apa ??" Jinan menatap lekat papanya.


Sementara Brian cukup terkejut dengan pertanyaan Sang putrinya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2