
Ep 74
.
.
.
"Anggara.. Kenapa tidak dimakan nasinya ??" tegur kakek Yusuf
Anggara menatap lekat sang kakek. "Kek, Apa Jinan sudah ditemukan ??"
Kakek Yusuf tau betul apa yang dirasakan cucunya kini. Ia menghampiri Anggara dan duduk disisi Anggara, mengusap lembut kepala Anggara.
"papaMu masih berusaha. Kau harus bantu dengan doa. Tapi kau juga harus menjaga kesehatanmu, nanti Jika Jinan kembali kau sakit, dia pasti akan mengomel padamu."Tutur Kakek Yusuf.
Anggara tersenyum tipis seketika. Benar kata sang kakek, meski terkenal tak perhatian namun ada Rasa sayang yang begitu dalam didalam hati gadis kecil itu.
.
.
Disebuah gedung yang bercahaya temaram Jinan membuka kedua matanya, Ternyata Rara juga mulai sadar. Seketika melihat suasana yang begitu menyeramkan membuat Rara histeris.
"Kita dimana Jinan ??!! Hu..hu..hu.. Aku takut.."
"Diamlah Rara.."Balas Jinan yang mengenali tempat terlebih dahulu.
__ADS_1
Tak lama masuklah dua pria bertopeng hingga membuat Rara sangat ketakutan. Jinan malah terus memperhatikan kedua mata Pria-pria itu.
"Diam dan jangan menangis !! Jika kalian tidak mau dilukai."Ucap salah satu pria.
"kenapa paman menculik kami ?? Paman butuh uang ?? Paman tau kalau papaku orang kaya ya ??" Jinan berani bertanya dengan celotehannya.
"Jinan.."bisik Rara yang takut sekali, bisa saja mereka akan terkena masalah jika berani seperti itu.
"Kami hanya disuruh. Dan kalian harus diam disini sampai bos kami datang."Balas salah seorang lagi.
Keduanya hendak pergi, namun Jinan segera mencegah.
"paman tunggu !!!"
"Ada apa lagi ??"
"Astaga.. Kau ini.."Pria itu sedikit frustasi.
"Cepat ambilkan roti kita didepan. Jika Bos tau mereka kelaparan kita akan kena masalah."Perintah pria yang satu.
Dengan mendesah kesal pria itu melangkah kedepan. Tak lama ia kembali, lalu melempar beberapa bungkus roti dihadapan rara dan Jinan.
"Kalau dilempar seperti ini bagaimana kami.makannya ?? Tangan kami saja diikat ??!" Protes Jinan.
"ya ampun.. Kau rewel sekali sih.."balas pria itu yang segera berjongkok mendekat lalu membuka ikatan Jinan dan Rara, Kemudian ia membukakan roti untuk Jinan dan rara.
"Ini ambil.. Makan sepuas kalian. Tapi ingat, jangan berani-berani kabur jika kalian tidak takut mati."ancam pria itu yang kemudian memilih keluar diikuti rekan lainnya.
__ADS_1
Sepeninggal mereka, Rara mendekati Jinan. "Bagaimana kau seberani itu jinan ??"
"Itu hanyantopeng. Sebenarnya aku juga takut.."Balas Jinan seraya menikmati makan Rotinya.
"Kau ini bisa-bisanya makan disituasi seperti ini.."Omel Rara.
"Aku beneran Lapar Rara, Makanya harus makan. Kau juga makanlah,"Timpal Jinan.
"Kita ini sedang diculik Jinan.. Bukan camping, yang harus difikirkan bukan lagi makan, melainkam cara kabur dari sini."tutur Rara.
"Kau ini.. Paman tadi kan sudah bilang kita dilarang kabur. Jadi diam saja disini. Nanti papaku akan menjemput kita secepatnya kok."Ucap Jinan dengan santai.
"Bagaimana papamu tau kita disini ?? Kau jangan aneh-aneh deh !!?"
Jinan meneguk air minum terlebih dahulu lalu menunjukkan sesuatu. "Lihatlah. Kau lupa aku bawa ponsel ??"
"Kau ?? Jadi itu ponsel sungguhan ??!" Rara tak percaya.
"Tentu saja. Aku juga mencurinya dari kantor papa kemarin."balas Jinan dengan santai.
"Dengan ini aku bisa menghubungi papaku. Tapi kau harus menurut ya, jangan katakan apapun."Tambah Jinan.
Rara hanya mampu mengangguk. Merasa kagum dengan Teman satunya itu, Bisa memikirkan hal yang diluar nalar mereka sebagai seorang anak.
.
.
__ADS_1