Separuh Nyawaku

Separuh Nyawaku
Separuh Nyawaku


__ADS_3

Ep 70


.


.


.


Dirumah Brian tak kalah panas, bersama istri tercintanya, Brian menuntaskan hasrat yang selalu menggebu itu.


Bahkan kali ini,Brian mengajak Ayumi berganti-ganti gaya, hingga hampir satu jam lebih keduanya saling bersahutan Men de sah.


"Brian.. Ah.. Stop.. Aku sudah lemas sekali..Aanhhhh..."Pinta Ayumi sembari terus menahan de sa hannya, ia tak menampik jika ia juga menikmatinya, Namun Ayumi masih sadar jika sampai baby Anggara bangun akan berbahaya nanti.


"Tahan sebentar sayang, Aku hampir sampai. "Balas Brian yang mempercepat dorongannya.


ooooeeekkkk !!!


Tangisan Anggara terdengar melengking memekik telinga.


"Brian lepas Anggara bangun..Aaahhhh.."Ayumi meminta lagi saat rasa nikmat yang luar biasa hampir juga ia dapatkan.


"Sayang sebentar saja. Biarkan Anggara menunggu. Tanggung ini."Balas Brian yang terus memompakan senjatanya.


Oooeeekk... Oooeeekkk...

__ADS_1


"Aaawhhhhhhhh !!!" Brian dan Ayumi mele nguh bersama saat keduanya mencampai puncak kenikmatan bersama pula.


Ayumi lemas sekali dengan mengatur nafasnya. Ini memang penyatuan pertama mereka lagi setelah sekian lama Brian menunggu Ayumi siap kembali akibat melahirkan.


"Brian.. kau gendong Anggara dulu, aku harus mandi dulu.."Ucap Ayumi dengan suara lirih. Ia masih nampak lemas akibat penyatuan mereka barusan.


Brian segera bangkit dari atas Ayumi dan meraih Piyama tidurnya. "Iya sayang." Brian berjalan cepat menuju Box besar yang menjadi tempat tidur Baby Anggara.


"Anak papa kenapa nangis.. Haus ya.. Uuuhh.. Sayang.. Cup..cup.."Brian meraih Baby Anggara dan menggendongnya. Menimang-nimang beberapa kali hingga tangisan Anggara mulai mereda.


Senyum Ayumi terbit seketika. Dibalik keseraman suaminya yang dikenal banyak orang, Ternyata Brian adalah Suami dan Papa yang begitu hangat pada keluarganya. Hingga hanya dengan digendong saja, baby Anggara begitu cepat tenang.


.


.


.


Keduanya hidup dengan begitu ketat penjagaan mengingat status sang Ayah yang seorang Ketua Mafia.


Anggara mewarisi sifat sang ibu yang begitu ramah kepada siapa saja, Dan senang sekali menebar senyuman serta kebaikan. Sementara Jinan, wajah dan sifatnya sangat mewarisi sekali dengan sang papa. Bahkan Jinan tak pernah basa basi saat berbicara. Selali ceplas ceplos dan begitu tegas.


Seperti hari itu, Setelah melakukan ritual sarapan, keduanya segera berpamitan dengan Sang kakek, mama dan papanya guna berangkat kesekolah.


"Kakek kami berangkat dulu.."Pamit Anggara.

__ADS_1


"Iya. Hati-hati.. Jaga adiknya ya.."balas kakek Yusuf.


"Jinan sudah besar kek.. Tidak perlu dijaga."Timpal Jinan. Suaranya masih begitu menggemaskan.


"iya..iya.. Kakek lupa kalau cucu kakek yang satu ini sudah besar sekarang."Balas kakek Yusuf dengan sabar.


"Jinan.. Jangan bicara keras dengan kakek." tegur sang papa.


"Kalau tidak keras kakek nanti tidak dengar. Kakek kan sudah tua pa."Cerocos Jinan. Brian hanya tersenyum simpul saja. Ia sangat melihat dirinya sewaktu kecil pada Putri kecilnya itu.


"Jinan !!" sentak Ayumi


"Sudah.. Sudah.. Biarkan saja."Kakek Yusuf menyela


"Kalian segera berangkat gih.."Suruh kakek Yusuf.


Anggara dan Jinan melangkah keluar dengan diiringi pelayan menuju mobil mereka.


"Yah.. Jinan itu tambah besar. Kalau tidak diajari sopan sejak sekarang aku takut nanti dia melunjak jika dewasa."Tutur Ayumi pada sang Ayah.


"Dia bukan tidak sopan. Tapi memang cara bicaranya seperti itu. Kau ini Ibunya tapi kenapa tidak tau sih watak putrinya..."Balas Pak Yusuf dengan santai.


"Huh.. Ini yang aku tidak suka. Tidak suami tidak Ayah selalu membela mereka berdua. Akan jadi apa anakku nanti.." omel Ayumi seraya berdiri dari duduknya dan meninggalkan Brian serta pak Yusuf.


.

__ADS_1


.


__ADS_2