
Ep 78
.
.
"Tapi willy sudah membawa dia keluar loh.. Bagaimana bisa dimelihat itu ??!!" Brian seolah tak percaya.
"Itu aku juga tidak tau. Tapi Pa.. Kau harus sadar, anak-anak kita masih terlalu kecil untuk tau siapa kau sebenarnya..Jangan gampang terpancing emosi dan melakukan sesuatu tanpa tau kondisi seperti itu.." tutur Ayumi
"Bahkan aku dengar tadi putrimu sangat ingin berlatih bela diri, Akan jadi apa Pa putri kita kalau nanti dia jadi wanita Bar-bar bagaimana ??" ayumi terus mengungkapkan kegundahannnya.
"Ayumi.. Kau jangan terlalu mengekang putrimu."Suara kakek Yusuf terdengar.
"Ayah.."UcaP Ayumi dan Brian bersamaan. Entah sejak kapan pak Yusuf sudah mematung disana.
"Biar bagaimanapun Jinan adalah keturunan seorang Mafia, Kau harusnya sudah faham jika Jinan itu mewarisi sifat dan sikap papanya. Biarkan dia melakukan apapun sesuai keinginan dia, asal itu tidak merugikan dirinya dan orang lain.. Mau dia perempuan atau bukan, Jinan tetaplah Jinan.. Biarkan dia memilih apapun yang baginya nyaman dan menyenangkan."Nasehat Pak Yusuf.
"Tapi Yah.. Aku tidak mau jika Jinan sampai menjadi tomboy.."balas Ayumi.
"Tidak akan Nak.. Kau tenang saja. Iya kan Brian.."Pak Yusuf menatap Brian.
__ADS_1
" pasti akan aku usahakan Yah.. Terima kasih sudah memberi arahan kepada kami.. Kami belum bisa menjadi orangtua yang bijak dalam menyikapi apapun.."Balas Brian.
Pak Yusuf mengangguk pelan seraya mengembangkan senyum dalam wajah yang mulai berkerut.
.
.
Setelah diperbolehkan pulang oleh dokter. Sore hari Jinan dibawa kembali kerumah mereka. Sebelum itu Jinan hendak menemui rara yang katanya juga dirawat dirumah sakit itu. dengan diantar Ayumi Jinan sampai diruang rawat Rara.
"Rara.."Jinan langsung masuk tanpa permisi. Nampak Rara masih tergeletak lemas.
senyum Jinan luntur seketika.
"HB Rara turun terus Jinan. Jadi rara masih harus dirawat. " balas mamanya Rara.
"Kasihan sekali.. Semoga segera naik ya HB nya supaya bisa cepat pulang."Ucap Ayumi.
"Terima kasih Nyonya. Maaf sudah membuat putri anda ikutmenjadi korban."Balas mamanya Rara.
Ayumi mengangguk dengan mengulas senyumnya. "Jangan dibahas lagi, Saya harap kita harus lebih waspada lagi menjaga anak-anak kita."
__ADS_1
"Ra.. Kau kenapa ?? kefikiran papamu ya ?? jangan difikirkan..Kau kan sudah bersama Mamamu sekarang " Jinan mencoba bicara pada Rara.
"Aku tidak tau Jinan. Kejadian kemarin terus saja mengganggu fikiranku.. Aku jadi sulit tidur dan terus gelisah."Balas Rara.
"bagaimana kalau dibantu psikiater Buk ??" Tawar Ayumi.
"Saya ada rekan psikiater, siapa tau Rara bisa lebih baik."Tambah Ayumi.
"Tapi Nyonya..saya.. Saya.. Tidak punya cukup uang untuk membayar psikiater.." Mamanya Rara menunduk karna cukup malu. Sebab semua harta sudah diambil papanya Rara setelah perceraian.
"Jangan difikirkan Buk.. Akan saya bantu sampai rara sembuh."Balas Ayumi.
Mamanya Rara menatap Lekat Ayumi dengan mata berkaca. "Terima kasih Nyonya.. Anda sangat baik sekali.. Biaya rumah sakit sudah anda tanggung juga.. dan sekarang Anda menambah menyewakan psikiater.. Saya tidak tau harus mengatakan apa.."
"Saya hanya tidak mau Rara teebelenggu ingatan hitam seperti itu. Akan mengganggu tumbuh kembang anak buk.."Balas Ayumi.
"Terima kasih nyonya.."Rara ikut berkata.
"Iya sayang.. Kau harus semangat sembuh ya. Kasihan mamanya Rara harus sedih terus karna melihat Rara seperti ini. Lawan rasa takut didalam hati Rara ya.."Balas Ayumi dengan kelembutannya.
Rara mengangguk dan tersenyum dalam wajah pucatnya.
__ADS_1
.
.