
Ep 76
.
.
.
"Tu..tu..an B..brian..."Salah satu penculik mengenali Brian. Ia pun langsung ketakutan dan mundur seketika.
Tatapan bak elang yang ingin memangsa siapa saja dihadapannya begitu terlihat sekali.
Sudut bibir Jinan terangkat saat melihat sang papa benar-benar datang.Tubuhnya lemah sekali hingga Jinan tak bisa beranjak ia hanya berusaha terus menyadarkan diri.
"Kau mengenal dia ??" Tanya rekan penculik itu.
"Dia..dia ketua Mafia terbesar dikota kita.."Bisik Penculik itu.
"Dia hanya sendiri, Kita pasti bisa melawannya."balasnya yang segera maju mendekati Brian dengan berani.
Brian pun mendekat seketika. Sesaat Brian melirik Jinan yang tak berdaya. tangannya seketika terkepal cukup kuat.
"Kau salah memilih lawan bajingan !!" Ucap Brian pelan namun penuh penekanan.
"Banyak bacot." penculik itu segera menyerang Brian. Dengan santainya Brian melawan. Tak butuh waktu lama Brian bisa melumpuhkan dua pria itu. Seolah tak ada ampun, Brian tak menghentikan serangannya. Bahkan ia yang sudah sangat kalap mengeluarkan belatinya.
Willy yang memang sejak tadi ikut segera berlari masuk menolong Jinan. Jangan sampai anak itu melihat kekejaman sang papa yang begitu terkenal baik dimata Anak-anaknya.
" Paman.."Jinan sudah tidak bisa berkata keras.
"Iya.. Kau aman Nak.. Kita keluar dulu ya.."
"Tapi papa.."
__ADS_1
"Papa pasti baik-baik saja.. Ayo.."Willy pun segera menggedong Jinan dan membawa gadis kecil itu berlari keluar.
Srekkk !!!
Sreekkk !!!
Sreekkk !!!
Belati Brian menghunus Tubuh dua penculik itu.
"Aakkhhh !!!" pekik mereka.
"Mana tangan yang kau pakai melukai putriku !!! Mana ??!!!" bentak Brian yang sudah kesetanan.
"Ampun.. Tuan.. Jangan tuan.. Saya mohon.."Pinta penculik itu.
"Cih.. Menjijikkan.."
Buggghh !!!
Papanya Rara yang keluar dengan menggendong Rara sangatlah terkejut saat melihat orang berbahaya yang terkenal diseluruh penjuru kota sedang mengamuk disitu.
Susah payah ia menelan air liurnya apalagi saat melihat rdua penculik suruhannya sudah penuh dengan sayatan belati, darah segar sudah ada dimana-mana.
"Kau biang keroknya ???" Brian mulai mendekati Papanya Rara.
"Jangan mendekat.. Aku tidak ada urusannya denganmu.." ucap papanya Rara.
"Kau menculik anakku dan kau bilang ini bukan urusanku ??!! Sialan kau !!!" Brian hendak menghunus Belatinya, namun sesuatu yang mengejutkan papanya Rara malah menjadikan rara tameng. Sontak Brian menghentikan aksinya.
"Aaaaaa !! Papa !!!" Teriak Rara ketakutan
"Hah.. Lukai dia kalau kau berani.."Ucap papanya Rara.
__ADS_1
"Dasar orangtua Gila !!! Otakmu sudah kau jual ternyata.."Umpat Brian yang dengan mudah melumpuhkan papanya Rara dan menarik rara hingga selamat.
Bruukkk !!!
"Aakhhh '!!!"
"Larilah keluar. Jinan sudah diluar."Perintah Brian pada Rara.
Rara hanya mengangguk pelan lalu berlari dengan cepat.
Sementara Brian segera mengakhiri drama perkelahiannya. Ia benar-benar sangat emosi sekali dengan mereka semua. Semua dibantai Habis oleh Brian tanpa sisa.
.
.
Anggara digandeng Ayumi berlari menyusuri lorong rumah sakit setelah dikabari willy jika Jinan telah ditemukan dan masih ditangani dirumah sakit.
Kakek Yusuf juga ikut namun ia tertinggal dibelakang karna memang usianya yang sudah tua.
"Willy. Mana Jinan ??" Tanya Ayumi saat sudah bertemu Willy.
"Ada didalam bersama Tuan, Nyonya."Balas awilly.
Ayumi langsung menerobos masuk bersama anggara.
"Jinan sayang.."Panggil Ayumi. Seketika pertahanan Ayumi.runtuh apalagi melihat bberapa lebam diwajah Putri kecilnya. Jinan dan Brian menatap kearah pintu dimana Ayumi dan Anggara berada.
"Anakku.."Ayumi memeluk Jinan dengan erat. Rasanya sakit sekali melihat putrinya seperti itu.
Brian mengusap punggung Ayumi. "Tenanglah.. Jinan baik-baik saja.."
.
__ADS_1
.