Separuh Nyawaku

Separuh Nyawaku
Separuh nyawaku


__ADS_3

Ep 77


.


.


.


"Mama.. Jinan tidak apa-apa, jangan menangis.."Hibur Jinan.


Ayumi segera mengusap air matanya dan mengangguk sembari membuka pelukannya.


"Lain kali mama akan menghukummu jika sampai kau seperti ini lagi.."Ucap Ayumi dengan senyum dalam tangisannya.


Jinan memperlihatkan deretan giginya yang putih dihadapan sang mama.


.


.


Sudah seharian Jinan dirawat, Anggara yang setia menemani, duduk disisi Jinan yang bersandar dengan selang infus ditangannya. Sementara Ayumi dan Brian tengah menemui dokter untuk menanyakan keadaan Jinan.


"Jinan kau bisa diam tidak ?? Infusmu nanti bisa lepas."Ucap Anggara saat melihat adiknya terus bergerak tak menentu.


"Kakak aku bosan sekali seperti ini, Kenapa sih aku harus diinfus segala. Aku kan tidak kenapa-kenapa.."protes Jinan.


"Menurutmu saja kau ini tidak apa-apa. Tapi menurut dokter kau ini butuh dirawat. Sudah diam. nanti berdarah loh.."Balas Anggara.

__ADS_1


"huh.. Membosankan.."Umpat Jinan.


"Eh...kak, Kakak tau tidak..Kemarin aku melihat papa membantai orang-orang jahat yang menculikku dengan Rara, Tangan penculik itu dipotong sama papa..Mengerikan bukan.."Cerita Jinan.


Namun ternyata respon Anggara biasa saja. "Jangan aneh-aneh. Memang papa pembunuh."


"Aku serius kak.. Saat aku digendong paman Willy keluar, aku melihat dengan jelas semua itu. Makanya kemarin kemeja papa berdarah semua."Timpal Jinan dengan serius.


"Iya..iya.. Sudah jangan dibahas. Sekarang tidurlah dan berdoa, supaya dokter memperbolehkanmu pulang."ucap Anggara yang merasa sang adik berbicara melantur.


"Ah.. Kakak nggak asik..Setelah ini minta papa.melatih kita yuk kak ?? Supaya kita bisa membela diri kalau lagi digangguin orang."Ucap Jinan.


"Jinan.. Jangan aneh-aneh deh, papa pasti akan melarang keras, kita ini masih anak-anak. Kau sadar tidak sih.."balas Anggara.


"Memangnya kenapa kalau anak-anak..?? Justru berlatih itu harus sejak dini Kak.."Timpal Jinan


.


.


Dari pintu Ayumi mengurungkan Niatnya masuk saat mendengar percakapan dua buah hatinya. Ayumi tak menyangka, usia belia dua anaknya tak mempengaruhi fikiran mereka sama sekali.


Sentuhan dipundak Ayumi begitu mengejutkan hingga Ayumi terjengit dan langsung menoleh kebelakang.


"Kau !!"Ayumi sedikit kesal. Ternyata Brian yang ada dibelakangnya.


"Kenapa malah melamun disini ?? Katanya mau masuk ??" Tanya Brian.

__ADS_1


"sini dulu.. Aku mau bicara.."Ayumi menarik Brian untuk duduk.


"Ada apa sayang ??" Brian penasaran, sebab Wajah Ayumi nampak serius sekali.


"apa benar penculik Jinan kau bunuh ??"


Pertanyaan Ayumi membuat alis Brian bertaut menjadi satu.


"Maksudnya ??"


"Aduh kenapa harus dijelaskan sih pa..Maksudku, apa kau membantai habis mereka semua ?? Bahkan polisi tidak bisa menemukan jejak mereka loh ?? Katakan apa yang kau lakukan !!?"Ayumi memaksa.


"Ya mau bagaimana lagi. Aku marah sekali mereka menyentuh putriku, bahkan kau saja sampai menangis kan saat melihat lebam diwajah Jinan.."Ucap Brian jujur.


"Tapi kenapa harus didepan Jinan pa..Jinan melihat kau menebas kedua tangan Penculik itu.."Balas Ayumi dengan penuh frustasi.


"Apa ??? Kau tau dari mana ?? Apa jinan memberitaumu ??" Brian turut terkejut.


"Aku tadi mau masuk. Tapi Saat mendengar Jinan bercerita tentang kau sama Anggara, Aku menguping. Dia membicarakan kau, dia melihat kau menebas kedua tangan mereka.."Cerita Ayumi.


Susah payah Brian meneguk ludahnya. Padahal setau Brian, Jinan sudah dibawa oleh Willy. Lalu bagaimana bisa ??


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2