
Ep 9
.
.
.
Ayumi terus menunggu jawaban Dari Brian, hingga senyuman Brian menyadarkan Ayumi jika Brian tengah memperhatikan dirinya sejak tadi.
Buru-buru Ayumi menatap kearah lain karna tak enak. "Astaga.. Kenapa tatapannya membuat jantungku mau copot saja.."Batin Ayumi.
senyum Brian melebar seketika. Entah mengapa Tingkah Ayumi yang salah tingkah seperti itu membuat Brian terhibur.
"saya..saya..kekamar dulu.."Ayumi berpamitan, ia begitu malu disisi Brian.
"Aku baru mau cerita."Balas Brian.
"Aa..lain kali saja, Saya sudah ngantuk. Selamat malam."Timpal Ayumi cengengesan lalu buru-buru menaiki tangga kecil menuju kamarnya.
Brian terkekeh dibuatnya. Ia benar-benar menganggumi Ayumi meski baru mengenalnya.
.
.
Pagi hari Ayumi sudah menyiapkan sarapan untuk sang Ayah dan juga untuk tamu mereka yakni Brian.
pak Yusuf sudah rapi untuk keRumah makan, tapi sebelum itu Beliau tak melupakan sarapannya.
"Kau mau berangkat jam berapa Ay ?? Jangan siang-siang ya.."Tegur pak Yusuf.
"Ini Ayumi sudah siap kok yah. Setelah kita sarapan aku langsung keBank."balas Ayumi seraya menyendokkan nasi untuk sang Ayah.
__ADS_1
pak Yusuf menggangguk mengerti.
"Oh ya, Brian kenapa tidak kau bangunkan ?? Kita kan bisa sarapan sama-sama."Tanya pak Yusuf lagi.
"Aa..kenapa harus aku yah.."Ayumi masih teringat yang semalam.
"Lalu siapa ?? Ingat, dia tamu kita.."Balas Pak Yusuf.
"Maaf, aku terlambat bangun.."Suara Brian mengejutkan Pak Yusuf dan Ayumi.
"Oh.. Kau sudah bangun.. Syukurlah, Ayumi baru saja mau membangunkanmu.. Duduk, kita sarapan sama-sama."Ajak pak Yusuf dengan senyum keramahannya. Brian tak pernah diperlakukan sehangat itu oleh sang Papa selama ini.
Brian nampak patuh, Ia pun duduk disisi pak Yusuf.
"Ayo makan. Jangan sungkan."Pak Yusuf mempersilahkan.
"Terima kasih.."Brian nampak begitu sennang.
"Tidak Pak. lukaku sudah sembuh. Jangan kawatir.Ayumi merawatku dengan baik.."tutur Brian seraya menatap Ayumi. Hal itu kembali membuat ayumi tak nyaman.
"Oh.. Syukurlah. aku cukup kawatir.. Baik. Kita makan ayo.."Pak Yusuf segera memulai sarapannya, begitupun dengan Ayumi dan Brian. Meski hanya sesekali lempar pandang.
.
.
Ayumi sudah siap dengan tas kecilnya yang menggantung dipundak. Ia hendak keluar dari rumah, Brian yang melihat segera menegur Ayumi, guna menanyakan kemana wanita itu akan pergi.
"Ayumi.. Kau mau kemana ??"
"Em..saya mau keBank."balas Ayumi.
"Kebank ?? Sendiri ??" Brian memastikan.
__ADS_1
Ayumi nampak menggangguk.
"Kau bawa uang kan ??"Lagi Brian bertanya.
"Iya. Saya keBank sesuai permintaan Ayah. mengamankan tabungan kami "Tutur Ayumi.
"Boleh aku ikut ??" Pinta Brian.
Ayumi sekejap terdiam. "Tapi, jarak tempuhnya cukup jauh."
"Tidak masalah. Setidaknya keamananmu yang utama."Brian meraih jaket miliknya dan buru-buru memakainya. Ia pun segera mendekati Ayumi untuk mengawal wanita itu. Ayumi tak.punya pilihan selain membiarkan Brian ikut. Meski rasa canggung selalu ada dalam hatinya.
Dengan mengendarai sepeda motor, Ayumi yang dibonceng Brian menyusuri jalanan desa itu.
Beberapa warga yang melihat Ayumi dibonceng pria asing saling bertanya-tanya, mengingat selama ini Ayumi tidak pernah dekat dengan pria manapun.
"Kenapa semua orang memperhatikan kita ??" Tanya Brian sembari mengemudi motor.
"mungkin mereka heran denganmu. Kau kan orang asing."Jawab Ayumi sekenanya.
"Benarkah ?? Atau karna aku tampan ??" Timpal Brian.
Senyum Ayumi langsung terbit seketika. "kau pede sekali.."
"Bisa saja. Aku memang tampan kan ??"
Ayumi sampai tertawa mendengar ucapan frontal Brian. "Tentu. Karna kau pria."
Brian ikut tertawa. Keduanya terus menyusuri jalanan untuk menuju kesebuah Bank yang hanya ada satu diDesa itu.
.
.
__ADS_1