
Mentari pagi kini sudah kembali bersinar di langit nan biru, tentu saja ia sedang menjalani tugasnya untuk menyinari seluruh bumi, di sisi lain Keysa bahkan mengeliat perlahan tidurnya terganggu karena sang mentari, keningnya mengerut saat merasa sesuatu yang cukup berat yang berada di atas perutnya, jujur saja ini membuatnya menjadi sangat tak nyaman dan mau tak mau harus membuang kemalasannya dan tentu saja membuka mata untuk memastikan benda apakah yang sedang menimpanya saat ini, namun?, bahkan setelah membukakan mata ia bahkan meraba pinggangnya, dan yang ia dapati hanyalah sebuah anduk kecil yang berada di keningnya
'Bukanya semalam?, sial kepala gue pusing benget' Batin Keysa sembari memegang kepalanya dengan pelan, semalam ia di pukul dengan cukup keras dan ini bahkan berhasil meninggalkan sisa rasa pusing itu dan rasa sedikit nyeri di sana, ia terdiam sejenak untuk mengumpulkan nyawa setelah merasa jauh lebih baik ia mengalihkan pandangannya ke perut, matanya membulat saat mendapati sebuah tangan kekar yang bahkan dengan Tampa tau malu melingkar dengan begitu indah di pinggangnya, hal ini tentu saja membuatnya kembali mengerutkan kening, wajah pria yang selama ini dingin terlihat begitu tenang dalam tidurnya, dan sialnya ia bahkan menjadi tak sampai hati jika harus mengganggu tidur nyenyak mahluk yang dengan tak sopan meletakan tangannya di atas perutnya
'Terimakasih' Batinnya dengan nada pelan, ia bukan orang yang tak tau terimakasih, bagaimanapun pria ini lah yang datang untuk menyelamatkannya dari penculikan itu, meskipun mahluk ini sedikit menyebalkan namun tentu saja Keysa tak akan benar benar membenci pria yang sampai saat ini masih berstatus sebagai suaminya, ia menghela nafas dengan pelan sembari terus menatap pria yang tertidur dengan begitu pulas, wajah tenang dan menyenangkan itu bahkan berhasil menerbitkan sebuah senyuman kecil di wajah seorang Keysa Asmiranda Wijaya, sejak awal mereka menikah Tampa cinta namun bukan berati mereka bermusuhan dan saling membenci, bagai manapun mereka tetaplah dua orang yang tinggal di atap yang sama, meski tak memiliki perasaan spesial apa salahnya jika saling menghargai satu sama lain, apa salahnya jika berusaha untuk menjadi yang lebih baik, toh ia juga bukan orang gadis yang akan melupakan jasa orang orang yang telah berbuat kebaikan kepadanya
Mata itu perlahan terbuka, dengan cepat ia segera memalingkan pandangannya dengan gerakan pelan, ia bukan gadis bodoh yang hanya akan mempermalukan diri sendiri, jika langsung berbalik dengan panik tentu saja hanya akan membuatnya kehilangan muka, dari itu ia bergerak dengan perlahan untuk menjaga imagenya, dari itu ia harus bersikap biasa saja, seolah sebelumnya ia hanya menatap dalam pada angin yang tak terlihat
__ADS_1
"Syukurlah kamu baik baik saja" Ucap si pria dengan nada nan begitu lembut, Keysa bahkan dapat mendengar suara nan penuh kelegaan itu, ia hanya mengguk pelan sebagai jawaban
"Bisa lepasin saya ngak pak, bapak udah melukin gue dari semalam loh, apa ngak capek, perut gue aja keram di buatnya" Ucapnya dengan nada pelan, meskipun sudah berusaha terlihat baik baik saja, namun tetep saja ini adalah hal yang sedikit memalukan, bagai mana ia ketahuan memperhatikan wajah pemuda yang menyandang gelar suaminya ini, Gio yang mengerti maksud keysa langsung menarik tangan nya dan beranjak duduk
"Ah Maaf, lalu di mana yang sakit?" Ucap Gio dengan nada pelan
"Hm" Gumam Gio dan setelahnya berjalan keluar dari kamar, dan tentu saja melangkah menuju kamarnya sendiri yang berada di samping kamar Keysa, melihat kepergian gio Keysa bahkan hanya terdiam di ranjangnya menatap lekat mahluk yang perlahan hilang di balik pintu itu, dan untuk kesekian kalinya kembali menghela nafas pelan dan segera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, mata keysa membulat sempurna, ia baru menyadari jika pakaiannya sudah berganti dengan piama panjang, wajah Keysa memerah padam antara malu dan marah, ini sungguh, ah bagai mana bisa Gio dengan seenaknya mengganti pakaiannya, dan ahh keysa tak mungkin berani untuk menatap Gio setelah ini, sangat sangat memalukan,
__ADS_1
"Tu mahluk kutub.., jangan bilang kalo dia?, dasar semua cowok itu sama aja yah, bisa bisanya si kutub ngambil kesempatan dalam kesempitan gini" Batin Keysa yang bahkan saat ini ia hanya ingin menenggelamkan diri
"Eh, Tapi?, Yah, emang apa masalahnya?, Toh kita juga udah nikah juga kan?, ya walaupun sih pernikahan yang ngak pernah di dasari yang namanya cinta tapi sah sah aja kan kalo tu kutub ngeliat, toh cuma ngeliat doang, cuma ngeliat doang, ia si kutub cuma ngeliat doang" Ucapnya lagi, benar mereka telah resmi menjadi suami istri beberapa bulan lalu, dan itu di akui oleh agama maupun negara, dan lagi, ia tak menemukan tanda tanda jika tubuhnya telah di lecehkan, tak ada tanda merah ataupun hal yang aneh, mereka terjaga dengan pakaian yang lengkap, bagai manapun Keysa bukan anak kecil lagi, hal hal berbau *** tengu saja sudah cukup biasa ia dengar,
"Tapi tetap aja ini memalukan banget, ya tuhan, moga aja gue ngak ketemu dia lagi, boga aja habis ini si kutub pegi, pegi jauh jauh ngak papa deh, Ais malu banget gue sumpah, mau mati aja rasanya" Batin Keysa sembari terus memainkan bisa yang berada di bak mandinya
"Kenapa juga harus di pikirin, udah kelar juga, kalo di mungkin malah bikin gue tambah kepalang malu, yah, dari pada kepalang malu mendingan bertindak seolah gue ngak tau apapun, yah mendingan gitu aja kali" Ucap Keysa yang bahkan sedari tadi mengomel di depan kaca, meskipun berkali kali mengatakan tidak apa apa, tetap saja ia merasa sangat malu, bagai manapun ia adalah seoang gadis, dan parahnya saat ini bahkan pria tak ia cintai susah berhasil melihat tubuhnya, benar benar membuatnya stres
__ADS_1
"Ais udah deh key, jangan di pikirin lagi lah masalah semalam, cuma bikin Lo pusing doang, lupa lupa lupa" Ucapnya yang bahkan masih menatap pantulan dirinya dari depan kaca, ia menghela nafas pelan dan setelahnya tentu saja melanjutkan acara mandinya jika di biarkan lebih lama maka ia tak akan selesai selesai mandi, ia sudah memutuskan untuk tak ingin perduli dan tak memperpanjang kan soal semalam, biarkan saja semua terjadi seperti yang di gariskan, hal terpenting saat ini ialah harus berhati hati dan memastikan jika kejadian sebelumnya tak akan kembali terulang, yah memang lebih baik seperti itu