
"Sialan kenapa sih dia ngak mati aja?" Teriak Seornag gadis dengan begitu kesal, ia susah melakukan begitu banyak upaya untuk melenyapkan keysa, namun lihatlah apa yang terjadi?, Lagi dan lagi targetnya selamat
"Maafkan kami bos, dia punya kemampuan dan membuat kami sangat kerepotan" Ucap seorang pria dengan nada pelan, mereka gagal membunuh target, dan tentu saja ini sangat mengecewakan dan akan merusak reputasi kejam mereka
"Alasan, selama ini kalian bahkan ngak mampu buat bunuh satu orang aja, percuma gue gedein kalian" Ucapnya dengan nada kesal, para penjahat ini adalah peliharaanya, di balik wajah polos dan lugu menyimpan begitu banyak rahasia, kehidupan menjadi anak orang kaya adalah hal yang sangat mengesalkan bagi mereka, setiap hari hanya hidup dnegan para pelayan dan mencari segala macam kesenangan di luar untuk memuaskan dan membahagiakan diri sendiri
"Maafkan kami bos" Ucapnya dengan penuh penyesalan, sebagai seorang penjahat gagal dalam suatu misi jelas saja mereka merasa gagal dan kesal
"Balik ke tempat semula, jangan sampai ada yang tau asal lo semua, dan untuk yang selanjutnya jangan sampe lepas, awas saja kalian kalo sampe cewek sialan itu lolos kali ini, Lo semua akan mendapat hukuman berat dari gue, jadi penjahat kok ngak becus amat" Ucapnya dengan nada datar dan setelahnya segera meninggalkan gudang tersebut, masih ada hari esok ia tak yakin jika ia tak bisa menghabisi seoang Keysa Asmiranda Wijaya.
Mobil terus memacu di jalan raya hingga akhirnya berhenti di sebuah rumah nan begitu mewah, seperti biasa setelah memasukan mobil kedalam garasi ia segera bergerak masuk, suasana masih tetap sama rumah nan sepi dan kosong, dengan acuh ia segera melangkah ke tangga dan masuk ke dalam kamarnya
"Kenapa gue di takdirkan punya hidup kayak gini, dan Lo key, kenapa Lo di sayang sama semua orang, kenapa Lo di sukai semua orang, bahkan Lo bisa dapetin apapun yang Lo mau, kenapa dunia ini ngak adil banget, kita Sama sama anak Seornag pengusaha, kita sama sama terlahir di lingkungan orang orang gila kerja, tapi kenapa cuma gue yang ngak pernah tau apa itu kasih sayang, kenapa dunia ngak adil banget sama gue" Ucapnya sembari memandangi fotonya yang terpajang indah di dalam kamar, setelah meletakan Poto itu kembali ia meraih ponsel dan mengotak atiknya sebentar, sebuah notifikasi membuatnya menjadi semakin meradang
"Sialan, kenapa Lo bisa dapetin apapun yang Lo mau, gue benci sama Lo key, gue benci" Teriaknya sembari melempar ponselnya ke sembarang arah, mengapa dunia ini sangat tidak adil padanya, mengapa hanya dia yang tidak diberikan kesempatan untuk sebuah kebahagiaan.
__ADS_1
Di sisi lain Keysa masih berbaring dengan posisi terlentang, luka di bahunya membuatnya menjadi tak leluasa untuk bergerak, kejadian hari ini benar benar di luar pemikirannya,
"Sayang kamu mikirin apa?" Ucap Gio yang baru masuk ke dalam kamar, sebelumnya ia memiliki beberapa pekerjaan dan harus di selesaikan, namun sekarang ia suah bisa kembali dalam pelukan sang istri tercinta
"Ngak Papa" jawab Keysa dengan nada pelan, ia tak ingin keterdiamanya ini membuat dampak buruk pada suaminya
"Ada yang bikin kamu resah?, Ngomong aja meskipun ngak bisa bantu banyak setidaknya kamu bakalan lebih baik setelah membagi beban kamu" Ucap Gio dengan nada lembut ia perlahan membaik kasur dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran ranjang
"Gue kepikiran aja pak, apa maksud mereka ngirimin teror teror gini, selain sama si Alex dan Rojali gue ngak pernah punya masalah, dan saat ini si Rojali pun udah ngak gangguin gue lagi, trus siapa?, Ngak mungkin Alex kan" Ucapnya dengan nada pelan, beberapa kejadian ini bukan hanya sebuah kebetulan, seseorang seolah sengaja membuatnya berada dalam masalah, menjebaknya ini dan itu seolah nyawanya benar benar di inginkan, ia bukan takut hanya saja merasa jika hal ini harus di selesaikan sesegera mungkin, orang yang berada di balik layar itu harus di temukan
"Moga aja ini cepat kelarnya" Keysa menghela nafas pelan, ia tak percaya jika orang di balik layar ini Alex ataupun Rojali, karena ia tau jika kedua laki laki itu tak akan mau mencelakainya,
"Yaudah, udah malem banget, sekarang bobok yuk" Gio membenahi posisinya untuk segera tidur, malam sudah cukup larut dan ia tak bisa bergadang karena harus bekerja besok, sebelumnya ia sudah meminta Bi Asmi untuk datang dan menjaga Keysa, dalam keadaan seperti ini tentu saja ia tak akan bisa tenang jika harus meninggalkan Keysa, namun Keysa tetaplah Keysa ia bahkan bersikeras untuk mendorong Gio bekerja
"Dan Lo ngak boleh meluk gue pak, ni liat bahu gue ada lubangnya" Ucapnya menatap Gio dengan lekat, seperti biasa saat tidur gio sangat suka menempelinya, dan sekarang lihatlah ia sedang terluka dan ini bisa menjadi alasan untuk melepaskan diri dari pelukan suami manjanya ini
__ADS_1
"Kan bisa meluk pinggang" Gio berucap dengan cepat, ia segera membaringkan tubuhnya di samping Keysa dan tangan besar itu telah melingkar indah di pinggang seorang Keysa Asmiranda Wijaya bahu yang terluka tak bisa di jadikan alasan untuk tak memeluk sang istri, lagi pula ia tak kan bisa tertidur dengan nyenyak jika tidak di peluk
"Ngak bisa gitu lah pak, Lo bisa ganggu tidur gue loh kalo Lo meluk gini"
"Ngak bakalan, aki bakalan hati hati kok dan mastiin kalo aku ngak bakalan gangguin acara tidur kamu, jadi sekarang tutup mata kamu bobok, udah malem banget kan anak kecil ngak boleh begadang" Ucap gio terkekeh pelan sembari mengecup gemas pipi gembul istrinya
"Siapa yang Lo bilang anak kecil pak" Ucapnya tak terima, ia sudah berusia 21 tahun bagai mana bisa di sebut anak kecil
"Tentu saja kamu sayang, sekarang bobok aku bakalan jagain kamu" Bisiknya dnegan nada lembut hal ini membuat Keysa menghela nafas pelan
"gue bukan bocah apa lagi anak kecil ya pak, gue ini udah gede udah 21 tahun"
"Aku aja yang udah 28 bisa aja tuh" Ucapnya dengan nada mengejek
"Gue udah gede pokonya gue udah gede"
__ADS_1
"Iya iya, udah gede kok istrinya gio udah gede, sekarang yuk tidur" Ucap gio sembari mengeratkan pelukanya dan setelahnya keduanya terlelap di dalam keheningan