
Setelah berkendara dengan susah payah akhirnya ia sampai, ia menekan lukanya dangan pelan, keningnya mengerut saat melihat sebuah kotak kecil di depan pintu, ia mengambilnya dan membawanya masuk
"Apaan ni?, Kok di taro di depan pintu?"
"Ah, buka aja deh, toh barangnya si kutub juga punya gue kan?" Ucapnya segera membuka kotak kecil itu, saat kotak itu terbuka sepenuhnya Keysa menjergit melihat sebuah boneka berlumuran darah di sana, ia mengeluarkan boneka itu dari kotak, dan terlihatlah potongan potongan foto di sana, foto yang memperlihatkan Seornag gadis cantik yang kehilangan kepalanya, dan di sampingnya terdapat sebuah kertas, dengan penasaran ia langsung
"Ini belum apa apa, Lo bakalan ngerasain yang lebih menyedihkan dari ini"
"Sialan" Ucapnya pelan
"Assalamualaikum" suara langkah kaki itu di susul dengan munculnya Seornag pria yang memiliki perawakan yang begitu tampan
Karena kedatangan gio yang tiba tiba membuat Keysa panik hingga bahkan tak sempat menyembunyikan kotak dan boneka itu
"Sayang, kamu ngak papa kan?"
"Ah gue baik baik aja pak, Lo kok pulang, baru jam segini, Lo ngak ada jam ya di kampus"
__ADS_1
"Sekarang kamu harus jujur, sejak kapan kamu dapat kiriman gini?"
"Ah, ini, ini cuma kerjaan iseng bocah bocah jahil"
"Jangan bohong sayang, jangan bikin aku cemas"
"Lo ngak usah cemas pak, gue baik baik aja, lagian cuma boneka yang kena cat merah, gue ngak bakalan mati cuma liat beginian doang"
"Tapi kamu baik baik aja kan?" Gio memegang bahunya, dan ini berhasil membuatnya beringin
"Sayang, kamu, kamu" Ia berucap dengan begitu panik, bagai mana tidak darah bahkan sudah berada di telapak tangannya itu menandakan jika luka yang di alami sang istri bukan luka kecil
"Nanti aja ceritanya, Lo ngak mau manggil dokter buat gue?, Lo mau istri cantik Lo ini mati kehabisan dari biar habis itu Lo bisa nyari bini yang lebih cantik dan patuh dari gue" Ia berucap pelan, saat seperti ini bukan waktunya untuk bercerita, ia akan mati kehabisan darah jika luka ini biarkan terlalu lama,
Mendengar itu dengan tergesa ia meraih ponsel dan menelpon Agus sebagai dokter pribadinya
"Hallo, dateng cepetan kerumah gue"
__ADS_1
"Sekarang kamu duduk" Gio berucap dengan panik, dan setelahnya segera mengambil baskom dan kain lap
"Kenapa Lo diam aja, kayaknya mau bersihin luka gue"
"Pasti sakit banget"
"Ya ngak sesakit itu juga kali pak, namanya juga luka"
"Kamu tahan ya" Gio berucap sembari mulai mengelap bahu Keysa dengan begitu pelan, seakan jika ia lengah sedikit saja ia akan melukai bahu indah istrinya ini
"Ngak usah ngerigis gitu juga kali, gue ngak papa" Keysa berucap namun gio bahkan masih dalam keterdiamanya menatap luka di bahu Keysa, bahu cantik istrinya saat ini bahkan sudah di tempeli luka yang begitu mengerikan
"Kenapa?, Lo ngak suka lagi sama gue kalo gue punya bekas luka?, Atau Lo jijik sama luka gue, mangkanya Lo ngeliatin gue sebegitu nya" Keysa berucap dengan kesal, suaminya bahkan menatap luka sampe segitunya, apakah ia tak tau jika saat ini Keysa merasa kesal?
"Ngak gitu sayang, sampai kapan pun dan apapun keadaan kamu saya akan tetap suka sama kamu" Ucap gio dengan nad pelan
"Ya bagus deh kalo gitu" Keysa berucap dengan nada ringan, dan setelahnya menarikan kembali pakaiannya yang terbuka
__ADS_1