Sikutub Itu Suami Ku

Sikutub Itu Suami Ku
flashback


__ADS_3

Gio anggara


Flashback on


Aku segera melepaskan ikatan istri kecil ku, kaki dan tangannya sudah memerah akibat ikatan yang bahkan bisa dikatakan cukup kuat, melihat ini tentu saja membuat ku berdecak kesal, awas saja jika aku menemukan si pelaku, aku berjanji untuk tak akan  pernah melepaskannya dengan mudah, mahluk ini bahkan berani melukai istri kecil kesayangan ku dan aku tak akan pernah mentoleransi luka di tubuh kesayangan ku ini, tak akan pernah.


Aku mengangkat tubuhnya yang bahkan terlihat pucat, beruntung polisi datang di waktu yang tepat, polisi sudah menangkap pelaku penculikannya, dan ternyata yang menculik gadis ku adalah pak Herman saingan bisnis papa yang perusahaannya terancam bangkrut, mahluk tua Bangka itu bahkan dengan tak tau diri menyakiti wajah cantik istri ku, untuk beberapa saat tentu saja aku memukul penjahat itu, anggap saja sebagai balasan karena melukai istri ku, dan setelahnya tentu saja ku biarkan polisi yang menanganinya.


"Udah Gi, ini biar gue yang urus, sekarang Lo bawa bini Lo balik gih, kasihan tuh, udah kedinginan trus pucat banget" Ucap si Rehan pelan, yah dia adalah teman ku saat duduk di bangku SMA dan saat ini ia berprofesi sebagai komandan polisi


"Gue belum kelar Rey"


"Jangan egois, bini Lo lebih butuh perawatan, tu lihat, biang keladinya udah bonyok gitu, jangan sampe Lo matiin, kalo ni orang mati gue yang bakalan kena masalah"


"Yaudah, gue serahin ini ke Lo"

__ADS_1


"Hm" Ucap Reyhan dengan nada pelan, dan aku tentu saja mendekati istri kecil ku dan hati hati mengangkatnya agar segera kembali ke mobil, yang dikatakan Reyhan memang benar, saat ini istri ku adalah hal yang paling penting, aku menghela nafas pelan sembari menatapnya dengan tatapan sendu matanya bahkan masih begitu setia terpejam dengan beberapa bercak darah di pipinya dan tanda merah di pipinya, sepertinya mereka bahkan menampar istri ku, mereka bahkan memperlakukan istri ku dengan begitu kasar, dengan cemas segera melajukan mobilku kembali ke rumah, aku berhenti saat mobil sudah berada di garasi, aku cukup panik karena tubuh gadis ku sedari menggigil, aku memegang dahinya, sangat panas


'Dia demam' Batin ku semakin cemas, aku mengangkatnya dan perlahan masuk ke rumah, menaiki anak tangga menuju kamar, tubunya terlihat kotor, aku meraih tisu basah dan membersihkan tubunya dan mengganti pakaiannya yang juga sudah kotor dengan piama, awalnya aku memang merasa agak ragu tapi dengan tekat kuat aku pasti bisa menahan diri ku, aku pasti menahan diri ku sendiri,  akan sangat tidak baik jika aku membiarkannya dalam keadaan kotor seperti ini, perlahan aku berjalan menuju lemari dan mengambil piama berwarna abu abu dan mengganti pakaiannya, mungkin ia akan membunuhku esok, tapi ku fikirkan besok saja bagai mana cara menghadapinya yang penting untuk sekarang ia merasa lebih nyaman dengan pakaian yang bersih


'Bagai mana ini, malam sudah sangat larut mana ada dokter yang bekerja jam segini" Batin Ku menatap arloji, perlahan aku meninggal kannya di kamar, aku  bergerak ke dapur untuk  mengambil baskom dan handuk kecil untuk mengomperesinya, Tak butuh waktu lama, aku kembali dengan baskom yang sudah di isi air hangat dan handuk yang tersampir di pundak ku, lagi lagi aku menghela nafas pelan sembari meletakan handuk kecil di dahinya, setelah pekerjaan ku selesai, ku tarik selimut untuk menutupi tubuhnya, perlahan aku berdiri dari ranjang untuk kembali ke kamar ku, tiba tiba tangan mungil itu menggenggam tangan ku


"Jangan pergi" Ucapnya dengan nada yang bahkan lirih, dan bahkan ia berucap dengan mata yang masih terpejam, aku hanya tersenyum kecil  menatapnya dalam keheningan, bagai mana tidak dia mengengam tangan ku, jika dia sadar pasti dia akan sangat marah pada ku dengan lancang membersihkan tubuhnya, dan menggendongnya, esok mungkin saja ia akan membunuh ku karena sudah terlalu banyak melakukan hal yang tak pantas pada tubuhnya


"Jangan pergi" Ucapnya lagi, tubuhnya masih terasa bergetar, entah kerena demam atau terouma dengan kejadian yang baru saja ia alami


"Ma, mama, Key rindu sama mama hiks hiks, ma key mau itu mama aja" Ucapnya dengan  ada lirih, aku mengecup keningnya dengan lembut dan setelahnya tentu saja mempererat pelukan ku untuk memberikan rasa aman dan kenyamanan padanya


Aku menarik nafas pelan menatap nya, air mata mengalir di sela tidurnya, perlahan ku tepis air itu dan menyusulnya ke dunia mimpi.


Mentari kembali bersinar, perlahan ku bukakan mataku, kudapati gadis kecil ku menatap ku, hinga ia memalingkan wajahnya,

__ADS_1


'Menatap' Batin ku entah kenpa aku merasa begitu bahagia walau hanya di tatap sekilas oleh nya


"Syukur lah kamu baik baik saja" Ucapku, masih mengumpulkan kesadaran ku namun aku tak bergerak sedikit pun dari tempat ku, karena jujur saja aku masih sedikit terkejut dengan penemuan ku pagi ini


"Bisa lepaskan saya pak" Ucapnya, yang bahkan berhasil membuat aku terdiam sejenak, aku baru menyadari jika tangan lancang ini sudah bahkan masih melingkar dengan indah di pinggangnya 'Tapi Kapan?, kenapa aku tidak menyadarinya' Batin ku pelan, dan sialnya saat ini aku malah  di Landa kegugupan, aku menarik tangan ku dan meninggalkannya di kamar, dan perlahan masuk ke kamar ku untuk menenangkan diri


'Sial sial, dia pasti membenci ku, tapi bukankah kita sudah lama menikah, tapi?, aduh Gio lu kenapa sih, kemana cuek dingin lu pergi, kenapa lu baper' Ucapku kesal mengacak ngacak rambut ku, aku kembali merebahkan tubuhku di ranjang untuk sekedar memenangkan fikiran dan ku fikir berdekatan dengannya tidak baik untuk jantung ku 'ayo lah Gio kenapa dengan jantung lu sebelumnya lu ngk pernah punya riwayat penyakit jantung, lu harus segera ke rumah sakit',  Batin Ku Berteriak Kesal, bagai manapun aku adalah seorang pria dewasa bagai mana mungkin menjadi begitu kekanak kanakan seperti ini, jantung yang berdebar, di Landa kegugupan Tampa alasan, benar benar memalukan, jika orang lain mengetahui ini maka aku akan benar benar malu


"Aghhh" Lagi lagi aku berdecak kesal saat melihat jam Barker tak jauh dari ku, bahkan jam sudah menunjukan angka 08:15 dan itu berarti jadwal sedang berteriak untuk mengajak ku mendekat pada mereka, dengan sangat malas aku mengambil handuk dan berjalan pelan menuju kamar mandi dan tentu saja untuk mempersiapkan diri, meskipun sangat enggan bagai mana pun tanggung jawab tetaplah sebuah tanggung jawab, aku tentu saja harus tetap mengajar,  meskipun pada kenyataanya aku merasa sangat enggan dan  malas untuk itu


Setelah beberapa saat di kamar mandi akhirnya aku menyelesaikan segala ritual mandi ku, karena telah selesai tentu saja aku meninggalkan kamar mandi dan bergerak menuju lemari pakaian untuk memilih pakaian yang akan ku gunakan hati inj, aku mengambil kemeja marun dengan celana hitam dan dasi senada dengan kemeja, Setelahnya tentu saja berdiri di depan cermin menyatukan semuanya dan di susul dengan acara menata rambut dan saat sudah merasa rapi dan tampan, aku segera berjalan meninggalkan dari kamar, ku tatap pintu kamar sebelah kamar ku dengan tatapan lekat


'Cepat sembuh' Ucap ku dan segera menuruni tangga dan masuk ke garasi dan tentu saja segera bergabung dengan segala aktivitas jalan raya,


Tak butuh waktu lama kini aku sudah berada di parkiran, dengan santai aku berjalan menuju ruangan ku

__ADS_1


__ADS_2