Sikutub Itu Suami Ku

Sikutub Itu Suami Ku
Sesalan Gio


__ADS_3

1 minggu sudah berlalu Keysa nampak duduk tenang di sofa yang menghadap kolam, Keysa hanya diam tak bergerak seincipun, hari harinya selalu di temani kain putih yang selalu setia menutupi kelopak matanya dengan rapat, ia sudah mulai terbiasa di dunia kegelapan ini,


Cimi mengizinkan Keysa kembali ke rumah atas keinginan Keysa sendiri, namun Cimi tak akan pernah membiarkan Gio mendekati keysa, cukup sudah selama ini, ia tak bisa melihat sahabatnya di perlakukan seperti ini, Cimi akan datang saat pagi hari dan pulang di  malam hari saat Keysa sudah tertidur lelap, Cimi masih ingin memberi pelajaran pada Gio agar lebih menghargai apa yang di miliki saat ini, apa bila sang cinta sudah lelah dan pergi maka penyesalan tidak akan berguna lagi, percayalah penyesalan di akhir adalah penyesalan yang sangat tak berguna.


"Key, waktunya minum obat" Cimi pelan, perlahan Keysa menggapai kapsul dan menelannya,


"Besok lo udah boleh buka perban itu, dan lo bisa liat dunia lagi, lu juga bisa liat gue yang cantiknya ngk ketulungan ini, gue senang banget" Ucap Cimi memeluk Keysa dengan erat


"Cimi" Ucap keysa pelan


"Hmm"


"Makasih ya lo udah jagain gue selama ini, lo udah selalu ada buat gue" Ucap Keysa lembut, ia sangat terharu, ternyata masih banyak yang menyayanginya,


"Santai aja kali Key, gue senang kok bantuin lo, gue ngak habis fikir kok li bisa kecelakaan, selama ini lo selalu balapan liar dan lo baik baik saja?" Ucap Cimi mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu, bagai mana mungkin seorang keysa asmiranda Wijaya terseret truk, bukankah terdengar sedikit aneh?

__ADS_1


"Gue ceroboh" Ucap Keysa pelan, lagi pula ia tak menyalahkan siapapun dalam kejadian ini, setidaknya selama ia sakit ia dapat terbebas dari bermacam tugas cinta dari para dosen, ia sedikit bersyukur dengan musibah yang menimpanya ini


"Gue fikir bukan karena itu deh, lu ingat ngak beberapa sebelum kecelakaan? Ada mobil yang mau nyerempet lu, trus di rumah sakit?,  ada orang yang gantiin obat lo sama racun, dan jangan lupa, ada yang ngabarin serbuk aneh di perban penutup mata lo, aneh banget tau ngak" Ucap Cimi


"Belum lagi beberapa pendodor mata buat lo menghilang entah kemana, gue ada filing ngak baik ini" Ucap Cimi pelan, ini terlalu sering untuk sebuah kebetulan, mulai dari di labrak, di seret truk, masuk rumah sakit, hampir di kasih racun dan sekarang pendonor mata yang menghilang, bukankah seperti ada yang mengganjal, terlihat seperti kesengajaan, siapa yang berani merencanakan hal sebesar ini, ia sendiri tidak yakin jika Mila berani bertindak sejauh ini, lalu siapa dalangnya?.


"Sudah lah, jangan di pikirin, gue udah ikhlas" Ucap Keysa pelan


"Gimana ngak di fikir coba, ada yang mau bunuh lo, gue ngak mungkin tinggal diam, pokonya gue harus selidiki ini, gue ngak tenang kalo semuanya belum jelas"


"Ngak usah di perpanjang, lagian gue masih hidup sampai sekarang, mungkin cuma perasaan lo aja" Ucap Keysa pelan, Cimi hanya mengguk pasrah, ia akan mengurusnya nanti, saat ini yang terpenting adalah menemani Keysa, lagi pula Cimi tak ingin berdebat, biarkan keysa berfikir apapun yang ia suka, yang jelas Cimi akan cari tau siapa yang berani main main sama sahabanya


"Sayang cepat sembuh" Ucapnya pelan, Gio menghela nafas panjang berjalan kembali ke kamarnya, lagi pula ia tak dapat mendekati sang istri tercinta, saat ini ia hanya bisa memperhatikan sang istri dari kejauhan.


"Yaudah key, kita masuk yuk udah waktunya tidur" Ucap Cimi menuntun Keysa menuju tangga dan masuk ke kamarnya, Cimi menyelimuti tubuh keysa yang telah terbaring di ranjang

__ADS_1


"Lo tidur ya, gue pulang dulu," Ucap cimi pelan, dan perlahan keluar dari kamar keysa dan segera meninggalkan


rumah besar milik keysa dan gio


Keysa fov


Malam sudah semakin larut, saat ini aku sudah mulai terbiasa berada di kegelapan seperti ini, berbeda dengan hari pertama kali aku mengalami ke buatan, aku syok berat, tak Terima dengan musibah yang menimpa ku ini, namun beruntung aku memiliki teman yang selalu berada di sisi ku saat aku berada dalam keadaan sulit, sejak kecelakaan itu pun cimi hampir setiap hari berada di rumah, kami menghabiskan waktu bersama, tak lupa beberapa kata penyemangat, tentang suami julit ku? dia tak pernah menemui ku sejak kejadian itu, aku tak perduli soal itu, lagi pula biarkan dia sibuk dengan urusan kampus, dan setidaknya saat ini aku bebas dari tugas tugas menyebalkan itu


"Krekk" Kudengar kop pintu perlahan di geserkan, aku tau betul siapa yang mengunjungi ku di tengah malam seperti ini, yap dialah suami julit ku ia memang sibuk di siang hari, namun ia selalu mengunjungi ku saat malam hari, yah tentu saat cimi kembali, cimi sangat overprotective pada ku, bahkan ia tak akan membiarkan ku berada satu ruangan dengan suami kutub ku itu, ku fikir ini sedikit berlebihan, tapi yasudah lah, aku terlalu malas untuk berdebat dengan Cimi, biarkan cimi melakukan apapun yang dia mau.


"Selamat malam sayang, bagai mana harimu?, apakah menyenangkan?, bahkan setiap hari kau di temani oleh teman mu yang overprotektif itu, haha ya, aku tau dia melakukan itu untuk kebaikan mu, dan kau tau?, tatapan yang saat melihat ku?, ia selalu memberi tatapan penuh kebencian pada ku, huh, sungguh berbeda dengan beberapa bulan lalu, yang menatap ku dengan kagum dan memuja, aku tak menyangka jika manusia bisa berubah secepat itu'' ucapnya pelan, ia menggengam tangan ku dengan erat dan menciumnya berkali kali, aku hanya diam membisu, lagi pula ini bukan kali pertama ia mengunjungku, aku hanya bisa diam dan mendengarkan seluruh keluh kesahnya,


"Hari hari ku di kampus seperti biasa, suaram, tidak ada kamu yang menjadi Langganan hukuman ku" Ia terkikik  pelan, aku masih bisa mendengarnya, namun tak berniat untuk membalasnya, ku tarik tangan ku, ku alihkan tubuh ku membunggunginya, kecewa?, tentu aku sangat kecewa, marah sedih?, jangan di tanya lagi, meski persaan itu belum tumbuh tapi apa salahnya jika saling menghormati, di Terima atau tidak saat ini aku telah terikat dengan hubungan pernikahan dengannya, sejak awal aku tak pernah mempermasalahkan kedekatannya dengan siapapun, tapi aku tak berfikir jika ada yang ingin menghancurkan hari bahagia ku


Ku dengar ******* kecewa itu, suaranya pun berubah menjadi sendu suara ini yang tak ingin ku dengar ia selalu menyalaah dirinya sendiri, rasanya ingin sekali aku bangkit dari tidur ku dan berteriak " berhenti menyalahkan diri sendiri bodoh" Namun itu hanya ku telan dalam hati, aku memang marah dan kecewa, namun aku tak menyalahkannya atas musibah yang menimpa ku, ini murni kesalahan ku, aku yang ceroboh dan sedang terbakar emosi saat itu

__ADS_1


"Maafin aku sayang, ini semua salah ku, aku yang tidak becus menjaga apa yang ku miliki, maafin aku" Ucapnya lirih, ya ini lah yang selalu ia lakukan saat malam tiba ia menceritakan betapa lucunya aku saat mendapat tugas dadakan, tugas tambahan dan hukuman hukuman yang terkadang di luar kode etik kedosenan.


tak berselang lama  ku  dengar deruan nafas yang begitu teratur, sepertinya ia tertidur, perlahan ku balikan tubuh ku meraba dan mengelus pelan kepala suami julit ku itu "dasar bodoh" Ucap ku pelan dan menyusulnya ke alam mimpi.


__ADS_2