
Gio anggara
.
.
.
.
Jam sudah menunjukan angka 08:54 aku berjalan pelan menuju kelas gadis kecil ku, aku tak berharap bisa bertemu dengannya hari ini karena ku tau saat ini ia sedang sakit 'semoga saja dia memakan bubur yang ku kirimkan' ucap ku,
"Pak Gio" Aku mendengar suara seorang gadis memanggilku dari kejauhan, awalnya aku memilih untuk meneruskan langkah, namun?, Bahkan suara itu kembali terdengar, membuat ku terpaksa menghentikan langkah, dan membalikan tubuh ku dengan pelan, hal pertama kali ku lihat ialah keberadaan seorang gadis yang bahkan tersenyum lebar ke arah ku, dia, Jesika Mila, atau biasa di panggil buk Mila sedang berjalan mendekati ku dengan senyuman lembut yang selalu menghiasi wajah anggunya
"Ini" Ucapnya dengan lembut sembari menyerahkan sebuah kotak bekal pada ku, aku menaikan alis meminta penjelasan darinya, tapi ia hanya tersenyum ramah
"Untuk bapak sarapan" Ucapnya pelan
__ADS_1
"Saya buru buru, permisi" Ucapku
berjalan mendekati lift khusus dosen, aku sudah hampir telat masuk kelas jika dosennya saja tidak disiplin bagai mana dengan mahasiswanya?
'Ting' Pintu lift terbuka aku segera masuk dan menekan angka 5 , tak berselang lama akhirnya lift berhenti pertanda aku sudah sampai di lantai yang di tuju, pintu kembali terbuka
"Pak" Sapa mahasiswa yang masih berlalu lalang, dan bahkan hanya ku balas dengan anggukan kepala pelan, setelah beberapa langkah berjalan dari lift akhirnya aku sampai di depan kelas yang ku tuju, perlahan melangkah masuk dan berjalan mendekati meja, kening ku mengerut saat pandangan ku tertuju pada gadis dengan wajah yang pucat, ya itu Keysa istri kecil kesayangan ku, ia menggengam tangan sahabatnya yang masih berdiri.
'Ada apa dengannya? mengapa ia memaksakan diri untuk tetap ke kampus, padahal kan dia belum sembuh' batin ku,
Ku tarik nafas pelan aku tak bisa melakukan apapun saat ini akan lebih baik aku meneruskan langkah dan duduk di meja ku dengan tenang
"Tapi lu?" Ucapnya dengan berbisik, namun tentu saja dapat ku dengar dengan jelas, aku tak terlalu tua dan pendengaran ku bahkan masih sangat berfungsi
"Gue ngak papa" Ucapnya dengan yakin dan segera menarik tangan kiki dan kiki pun kembali duduk agar pelajaran dapat di lanjutkan dengan tenang
Dengan perasaan yang sedikit gelisah aku mulai menjelsan materi yang ku ajar kan, pandangan ku tertuju pada gadis ku yang duduk di pojokan sana, wajahnya bahkan sudah bertambah pucat dan itu membuat ku menjadi semakin kahwatir 'bagai mana bisa ia memaksakan diri untuk tetap ke kampus dalam keadaan sakit begini dasar keras kepala' Batinku namun?, Aku masih berusaha memfokuskan diri pada materi meskipun pada kenyataanya saat ini pikiran ku bahkan sudah bercabang.
__ADS_1
Hari kini beranjak siang, jam pelajaran ku pun sudah selesai ku bereskan barang barang ku
"Sekian materi dari saya, kita lanjutkan minggu depan" Ucap ku dan sesegera mungkin melangkah keluar dari kelasnya, perlahan aku melangkah menuju lift, untuk kembali ke ruangan ku
"Pak" Lagi lagi suara itu memanggil ku, ku tarik nafas pelan dan membalikan tubuh ku, dan yah dia lagi, gadis yang memang cukup sering menyapa ku selama beberapa bulan ini
"Sudah selesai pak?" Ucapnya berbasa-basi sambil mengekori ku menuju lift, Aku hanya diam dan menggukan kepala ku
"Kebetulan, saya juga sudah selesai, apa bapak sudah makan siang?" Ucapnya yang bahkan lagi dan lagi membuka topik pembicaraan, sedangkan aku?, Bahkan sangat tak tertarik aku memilih untuk tetap diam dan melangkahkan kaki untuk mendekati lift, keningku mengerut saat melihat lift yang terlihat ramai, 'tumben' batin ku pelan sembari menghentikan langkah, aku tak terlalu suka dengan keramaian, aku tak terlalu suka berdesakan di lift dari itu aku lebih memilih untuk tak ikut dalam orang orang yang melangkah masuk
"Ada apa pak?" Ucapnya ikut menghentikan langkah
"Saya masih ada urusan, ibuk duluan saja" Ucapku, lift cukup ramai dan tiba tiba perasaan ku menjadi sangat tidak enak, seperti ada hal buruk yang akan terjadi
"Akan saya temani" Ucapnya dengan nada pelan
"Tidak perlu Terimakasih" Ucap ku dingin, aku akan memastikan jika kekahwatiran ku ini hanyalah kecemasan yang tak berdasar, ku lihat ia menarik nafas kesal aku bahkan tak perduli, aku balikan tubuh dan berjalan kemana langkah membawa, dari kejauhan aku melihat gadis kecil ku nampak sedang berjalan menuju tangga darurat, aku terdiam sejenak, hingga akhirnya aku memilih untuk mengikutinya dari belakang hanya untuk memastikan bahwa ia akan baik baik saja, kening ku kembali mengerut saat ia terlihat kesulitan menyeimbangkan tubuhnya, bahkan sudah beberapa kali hampir terjatuh tapi untungnya istri ku ini adalah sangat kuat, aku masih mengikutinya, namun?, mata ku membulat saat tubuh lemah itu perlahan roboh, dengan cepat aku menyambutnya
__ADS_1
"Key, key, hey, key" Ucap ku menepuk pelan pipi mulusnya pelan, dengan panik segera ku gendong tubunya dan bergegas turun untuk segera ku bawa pulang
Dengan setengah berlari aku membawanya ke parkiran dan Tampa menghiraukan tatapan aneh dari orang orang di sekeliling ku, aku bahkan tak ingin perduli dengan semuanya, saat ini istri ku ini lebih penting mereka.