Sikutub Itu Suami Ku

Sikutub Itu Suami Ku
Sesalan


__ADS_3

Gio pov


Setelah mengucapkan beberapa kata pembelaan Keysa meninggalkan ruang dekan itu, sedangkan Mila bahkan masih dengan isaknya dan memeluk lengan ku erat,


Ucapan terakhir sebelum kepergiannya membuat ku benar benar terusik ' ibuk tenang saja saya tidak akan menggangu pria di samping ibuk itu, lagi pula saya masih cukup populer di kampus ini', apakah dia akan Benar banar meninggalkan ku?, yah semua memang kesalahan ku, ku tarik nafas dengan begitu pelan, dada ku terasa sesak jika mengingat kejadian hari ini, hatiku terasa begitu sakit saat ia mengatakan jika ia tak menginginkan ku, dan apa itu?, masih banyak pria yang menunggu jawaban cinta darinya, dalam hening Tiba tiba ku dihinggapi perasaan yang tidak enak, Keysa tak pernah lepas dari pikirkan ku, kemana dia pergi,? bahkan ia belum pulang sampai saat ini, aku cemas, namun aku merasa malu untuk berhadapan dengannya, aku tak ada saat ia membutuhkan dukungan,


Aku masih sibuk dengan lamunan ku hingga sebuah notifikasi pesan masuk pada ponsel ku "Hafiz" Perlahan ku buka pesan itu, tubuhku menegang saat ku baca pesan itu' bini lo kecelakaan dan dalam keadaan kritis dan ia di rawat rumah sakit jakarta medika ' Seperti itulah bunyi pesan itu, dengan cepat aku menyambar jaket beserta kunci mobil ku dan segera menuju rumah sakit.


Sepanjang perjalanan aku berdoa agar gadis ku baik baik saja,


"Bagai mana ini bisa terjadi?" Ucap ku lirih tampa ku sadari air mata itu jatuh, 'ini semua salah ku, andai saja aku yang mengantarnya pulang ini tidak mungkin terjadi, dasar Gio bodoh bodoh menjaga orang yang sangat berarti bagimu pun tak bisa, bahkan kau tak berani mengungkapkan perasaan mu padanya, Gio bodoh' upat ku, kini aku sudah berada di depan rumah sakit


Ruangan 25D. Ruangan itulah tujuan ku, setelah menaiki lift kini aku sudah berada di lantai dua, dari jauh kulihat Hafiz yang memeluk adiknya, Aku dengan sedikit berlari mendekati Hafiz namun saat aku berada di hadapan keduanya aku malah di sembur dengan omelan adik sepupu Hafiz


"Mau apa lo ke sini?, puas lo hah puas lo liat Keysa yang hampir mati puas?, gue muak liat wajah lo, jangan temui teman gue, balik sana sama dosen gatel itu, dan jangan lu buat Keysa lebih sakit lagi, cukup sudah selama ini lo bertindak seolah olah lo lajang dan bebas menggoda cewek mana pun, lo ngak pernah ngakuin teman gue sebagai istri lo ngak pernah mikirin perasaan sahabat gue, dasar bajingan sialan, pergi lo" Pekik Cimi dengan penuh kesal air mata masih mengalir di pipinya, dan aku?, sama sekali tidak merasa tersinggung dengan ucapan pedasnya, toh semua yang di katakan nya memang kebenaran, ini semua memang salah ku, aku suami yang tidak becus bahkan menjaga istri ku saja aku tak mampu aku hanya tertunduk lemah, aku hanya diam tak berkomentar apa pun, membiarkan Cimi mengomeli ku seakan tak akan ada habisnya,


"Bagai mana keadaan nya dok" Ucap ku cepat menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan yang ku tahu di dalamnya terdapat tubuh tak berdaya milik istri ku


"Anda siapanya pasien?" Ucap sang dokter dengan pelan

__ADS_1


"Saya suaminya dok, bagai mana keadaan istri saya" Ucap ku dengan nada cemas


"Hm sekarang keadaan pasien sudah membaik, namun pasien mengalami kebutaan akibat benturan keras di kepalanya, beruntung pasien segera di larikan ke rumah sakit hingga pasien hanya mengalami kebutaan untuk sementara waktu saja" Ucap sang dokter


Aku terduduk lemas di kursi, rasanya aku ingin berteriak dan memarahi diri ku sendiri, memukul dan mengumpat semua kebodohan yang ku lakukan


"Puas lo?, sahabat gue buta, dan semuanya karena lo yang ngak becus" Ucap Cimi pada ku setelah dokter berlalu meninggalkan kami, aku hanya tertunduk lemah, ini memang kesalahan ku, ini salah ku, Perlahan aku masuk ke ruangan gadis ku ia tampak terbaring lemah di ranjangnya dengan beberapa perban di lengan serta kepalanya, aku semakin merasa bersalah, perlahan ku genggam tangan dingin itu,


"Semua sia sia, nasi sudah menjadi bubur, saat Keysa bangun nanti gue bakal membantunya mengurus perceraian kalian, kalo dia ngak mau gue yang bakalan bujukin dia dan mulai sekarang Keysa tinggal sama gue, lo ngak ada hak buat nyakitin teman gue" Ucap Cimi dengan tegas


"Tidak kami tidak akan bercerai, dan istri saya akan tinggal bersama saya" Ucap ku lirih namun masih bisa di dengar oleh lawan bicara ku itu


"Lebih baik kita pulang, lihatlah kau sudah seperti mayat hidup, ada banyak darah yang mengotori baju mu" Ucap Hafiz pelan pada adiknya


"Ngak bang, Cimi ngak bisa ninggalin Key sendiri di sini, bisa saja orang ini berbuat macam macam setelah ini" Ucap Cimi


"Cimi, ayo pulang, Gio pasti tidak akan macam macam pada Keysa, kita pulang ya," Ucap Hafiz lembut, dan Cimi menganggukkan kepalanya,


"Ngak bang, gue ngak bisa percaya sama brengsek ini, gue udah cukup percaya selama ini, tapi apa?, dia berkali-kali ngecewain teman gue"

__ADS_1


"Cimi, kita pulang ya, ngak baik ribut di sini, Cimi juga udah capek banget kan?, nanti kalo keysa bangun pasti Gio ngabarin,"


"Ngak bang, cimi ngak mau, cimi mau disini memanin Keysa sampai dia bangun"


"Cimi ngak mau kan liat Keysa sedih?, mendingan Cimi balik dan bersihkan diri, keysa pasti ngak suka liat Cimi kacau gini"


"Selama ini gue cuma punya Keysa bang, lo tau kan berkata buruknya cerita hidup gue, gue ngak mungkin ninggalin Keysa dalam keadaan seperti ini"


"Abang ngerti, nanti kalo Cimi udah istirahat dan Fresh kita bisa jenguk Keysa lagi" Bujuk Hafiz, setelah cukup lama membujuk akhirnya cimi setuju untuk pulang


"Gio, lo yang kuat ya, kita balik dulu" Ucap Hafiz menyemangati ku dan hanya ku balas dengan anggukan, setelah keduanya meninggalkan ruangan itu, suasana kembali hening, perlahan ku cium kedua mata yang kini terbungkus itu


"Maafkan aku" Ucap ku lirih menggenggam dan mencium punggung tangannya, namun tak ada reaksi dari gadis kecil ku


"Sayang, jangan terlalu lama tidur ya," Bisik ku pelan


"Cepat bangun, aku merindukan ocehan mu" Ucap ku pelan namun tak ada jawaban darinya


Tampa terasa malam kini semakin larut namun tak ada tanda tanda gadis ku akan bangun dari tidurnya, aku masih setia menunggunya dan mengucapkan kata maaf ribuan kali. Hingga tampa terasa aku pun ikut tertidur di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2