
Gio anggara
Saat ini aku dan kedua teman ku, Hafiz dan Jino sedang duduk santai di ruangan ku, Jino menceritakan pengalaman mengerikan yang dialaminya selama di sini, dan itu cukup memprihatinkan, bagai mana tidak, setiap pagi Jino selalu menemukan coklat, atau bunga di mejanya, dan tak tau dari siapa, Hafiz pun tak jauh berbeda darinya, ternyata mahasiswa disini memiliki perhatian lebih terhadap dosen dosen tampan,
Saat kami asik berbincang, tiba tiba seorang gadis menerobos masuk ke ruangan ku, aku dan ketiga teman ku terjungkal kaget, tapi untungnya kami segera merubah expresi konyol kami dengan wajah datar sedatar papan triplek, itu sih kata gadis kecil ku keysa asmiranda Wijaya
"Buk Mila?" Ucap ku pada gadis yang kini berdiri di tengah ruangan
"Ah maaf Apa saya datang di waktu yang tidak tepat?" Ucapnya memasang wajah bersalah
"Oh tidak buk, kita hanya mengobrol santai, dan bernostalgia mari bergabung" Ucap Jino sopan, ya asal kalian tau saja walupun Jino terkejar sebagai dosen killer di kampus ini, namun ia masih menyisakan sedikit kesopana tak menunjuk ketidak sukanya secara langsung, di kampus ini tak ada yang menyukai buk Mila, bahkan Hafiz yang selama ini ia kenal sebagai sosok yang amat sangat menghormati yang namanya wanita pun tak ingin berusan dengan Mila, karena Mila akan menjadi sangat menjijikan jika di biarkan terus menerus
"O begitu, hm apakah saya bisa bicara dengan pak Gio sebentar" Ucapnya, aku memutar mata malas sebenarnya aku tak begitu tertarik dengan pembicaraan yang di tawarkan, tapi aku juga tak tega padanya sepertinya ia sangat tertekan, dan butuh seseorang untuk mendengarkan segala keluhannya, ku hanya diam dan menganggukan kepala ku pelan, Ada pancaran kebahagian dari wajah nya, sedangkan teman teman ku menatap ku dengan tatapan mengejek dan memberi semangat agar bisa segera menyelesaikan urusan yang tak begitu penting bersama dosen Ilmu Pemerintahan ini, kami berjalan beriringan keluar dari ruangan, kenging ku mengerut saat ia berjalan menuju kantin
"Hm ada baiknya kita makan siang dulu, pak Gio belum makan kan?" Ucapnya, aku hanya menggunakan kepala ku, ya aku memang tidak sarapan tadi pagi, dan satu lagi aku memang sudah terbiasa makan di kantin karena gadis kecil ku itu tidak memiliki ke sadaran untuk menyiapkan sarapan untuk ku,
Kami duduk di salah satu meja di sudut ruangan,
Setelah memesan makan Mila memulai percakapan ringan, sesekali ia bertanya 'bagai mana dengan universitas ini, 'apakah bapak suka mengajar di sini' Itu saja sih yang kami bicarakan, dan aku hanya menjawab seperlunya saja, si pelayanan kantin pun datang dengan se piring nasi goreng kesukaan ku, dan ku lihat Mila tidak memesan makanan ia hanya memesan jus jeruk untuknya. Keningku mengerut, tapi ya sudah lah bukan urusan ku juga
saat aku memulai acara makan ku barulah si Mila memulai percakapan, aku hanya menjawabnya dengan kata, oo, bersabar, hm, saja, sebenarnya aku tak begitu tertarik dengan pembicaraan ini, ya Mila menceritakan kehidupannya, aku hanya ber oh ria saja, tiba tiba ia menagis dan menceritakan kesedihannya, aku hanya menatap bingun apa tujuannya menceritakan hal itu pada ku, lalu apa untungnya untuk ku?, dan siapa yang menyangka ia malah terisak, hal ini jelas saja membuat ku sedikit panik, bagai mana tidak?, Dia menagis sendiri namun?, orang orang malah beralih menatap ku seolah aku lah laki laki yang paling kejam, aku menghela nafas pelan sembari mengulurkan tisu untuk mengelap air matanya
Meskipun pembicaraan ini tidak menarik sama sekali, namun aku cukup bersimpati, sebagai seorang pria sejati yang akan melindungi mahluk lemah
"Bersabarlah semua pasti ada jalan keluarnya" Ucapku dengan pelan
__ADS_1
Setelah tangisannya reda, tampa sengaja pandangan ku tertuju pada salah satu meja yang berada di salah satu sudut ruangan lainnya, ku lihat istri kecil ku nampak di tarik paksa oleh gadis yang ku ketahui bawa ia adalah temannya, mereka bergegas keluar dari kantin, Kening ku mengerut, aku di Landa kecemasan dan rasa bersalah?? Apa itu??
B E R S A L A H ????
'Apakah dia melihatnya?, apakah dia marah?, apakah dia cemburu, apa dia akan meninggal akan ku, tidak tidak itu tidak boleh terjadi dia miliku, dan akan menjadi miliku selamanya, ngak ngak itu ngak mungkin Gio lu udah gila kali ya, dia ngak pernah suka sama lu,lu gila Gio'
'Agghg' kepala ku pusing aku sudah seperti seorang suami yang tercyduk berselingkuh saja, bagai mana aku akan menjelaskannya, aku tau ini bukan kali pertama ia melihat hal ini tapi dia tak pernah seperti ini sebelumnya,
"Saya permisi" Ucapku, wajahnya terlihat bingung, aku tak perduli saat ini aku harus menemui sahabatku kan menanyakan bagai mana solusi dari masalah ini, walaupun aku juga tau nantinya aku akan menjadi bahan olokan mereka
'Aggh, aku memang sangat bodoh jika berurusan dengan percintaan' Batin ku dengan gitu kesal, dan apa ini mengapa aku malah merasa setakut ini, 'hey gio sadar, lo bodoh, gila atau gimana, kemana perginya gunung es yang lu bangun bertahun tahun ini, udah meleleh? , kemana perginya wajah tembok datar lu hah, kemana sifat tak ingin tahu Lo tentang orang lain?, aghhhh '
Langkahku terhenti saat melihat kedua sahabat ku yang baru saja keluar dari ruangan nya, aku segera menghampirinya
"Ada masalah?" Ucap Hafiz, menaikan alisnya, dari balik wajah datar itu aku dapat melihat jika senyuman mengejek berada di sana
"Kenapa lu?, emang Mila ngomongin apa? " Ucap jino duduk di sofa dan di susul oleh hafiz
"Iya nih, aneh lu, balik balik udah pucat gitu kayak di kejar Jin aja, ngak cocok tau ngak" Ucap Hafiz dengan pelan
"Gue, gue" Aku terdiam sejenak, bagai mana pun ini terasa sungguh menggelikan dan memalukan, jika di ceritakan, bagai manapun ini adalah masalah percintaan dengan kedua teman baru bar ku ini, walaupun kalian tau jika keduanya termasuk deretan dosen killer dan irit bicara, tapi jangan salah sangka keduanya akan menjadi cerewet, usil nyebelin saat berada dengan orang yang akrab denganya
"Hmm gimana ya gue bingung mau mulai darimananya" Ucapku bingung mau mulai dari mana
"Lu ribut sama Keysa?, atau baru dapat ungkapan rasa cinta dari Mila, wow keduanya terlihat mengerikan" Ucap Jino lagi,
__ADS_1
"Gue takut bini gue marah" Ucap ku dengan nada begitu pelan 'Ternyata saat di katakan terasa sangat menjaga jijikkan' Batinku, bagai mana pun aku tak pernah begini sebelumnya, aduh ada apa dengan ku ini,
"Fipppp" Keduanya terlihat menahan tawanya
"Kemana wajah tabok lu,? Udah meleleh? Udah ancur pertahanan lo?" Ucap Hafiz dengan nada mengejek sambil tersenyum miring, sungguh sahabat yang sangat menyebalkan
"Gila ini benar benar gila, bagai mana Gio Anggara yang terhormat bisa merasa setakut ini, cuma karena ke kepergok oleh salah satu mahasiswi?" Ucap Jino tak kalah sengitnya
"Sialan lu pada, malah ngeledekin gue, bantuin gue kek, kalo mahasiswinya orang lain mah gue ngak papa nah ini mahasiswinya bini gue sendiri"
"Lagian lu nya juga sih, udah tau udah punya bini, masih mau mau aja Lo do deketin cewek lain, dan satu lagi yang paling parah lu ngak ngakuin bini lu di kampus ini, malah sok soan bertindak kayak lajang sejati'' Ucap Jino
"Bener banget tu, kalo gue punya bini secantik itu seluruh dunia gue kasih tau" Ucap Hafiz
"Lu tau kan gimana keras kepalanya tu anak" Ucap ku menghela nafas pelan, aku bahkan sangat ingin mengumumkan jika Keysa adalah istri ku, aku dengan senang hati mengatakan jika Keysa hanya milikku seorang, namun aku bahkan sudah terikat perjanjian dengan Keysa, pernikahan kami bahkan tak boleh di ketahui oleh siapapun, ia tak ingin terganggu dengan status menyebabkan ini
"Tapi mau sampai kapan lu begini, bisa bisa lu di tinggal sama bini lu, mana bini lu banyak peminat lagi, gue denger denger si Alex dari fakultas sebelah udah ngincar dia sejak 3 tahun lalu dan masih banyak lagi mahasiswa ganteng keren+kaya yang dekatin dia" Ucap Hafiz meminum minuman kaleng yang baru saja di ambilnya di kulkas sudut ruangan, Aku hanya berdecak kesal bukannya memberi solusi keduanya malah memperburuk keadaan
"Sialan lu pada"
Kedunya hanya saling senyum
Kami hanya mengobrol santai, sesekali aku bertanya dan meminta solusi masalah gadis kecil ku setelah mengolok-olok ku akhirnya dengan senang hati keduanya memberi saran yang cukup masuk akal, tampa terasa sudah hampir 1 jam kami mengobrol akhirnya jino pamit begitupun dengan hafiz katanya sih masih ada jadwal
"Hm gue masih ada jam ni, gue mau masuk dulu, lanjutin besok aja" Ucap Jino menatap arlojinya, memang teman ku yang satu ini memiliki jadwal di 'hukum tata negara,' dan beberapa jurusan lainya
__ADS_1
"Hm gue juga ni" Ucap Hafiz lagi,
Aku mengguk paham,setelah itu keduanya perlahan keluar meninggalkan ku dan aku kembali di sibukan dengan pekerjaan ku.