
Gio anggara
Dari balik kaca Ruangan ku, aku dapat melihat gadis kecil ku sedang bercengkrama dengan seorang pria, yang ku yakini bukan lah salah satu teman segengnya, mana mungkin teman segeng yang masih merupakan mahasiswa menggunakan stelan formal khas seorang dosen .
"Siapa dia?" Ucap ku yang berbicara dalam keheningan, dan tentu saja masih diam di tempat sembari menatap dari kejauhan betapa dekatnya kedua makhluk yang tak luput dari pantauan ku
Setelah cukup lama bercengkrama, ku lihat pria itu meraih helem yang di ulurkan oleh gadis ku, dan tak lama kemudian gadis ku kembali mengulurkan kunci motor kesayangannya, Kulihat keduanya sudah berlalu meninggal perkarangan kampus, aku hanya menarik nafas pelan dan kembali ke meja ku untuk berberes karena aku memiliki jadwal mengajar beberapa menit lagi.
Jam kini sudah menunjukan pukul 22:00 namun gadis kecil ku belum memiliki tanda tanda akan pulang, sebelumnya aku masih bisa tengan saat gadis kecil ku itu keluar dengan teman teman se gengnya namun entah knpa kali ini aku merasa sedikit cemas, aku merasa pria yang bersamanya tadi memiliki niat lain,
__ADS_1
Ku tarik nafas pelan , aku masih setia menunggu kepulangannya, tak lama kemudian ku dengar suara motor sport gadis ku sudah memasuki halaman menuju bagasi.
Perlahan ku tutup leptop dan ku rapikan beberpa kertas yang berserakan, Perlahan ku mendekati pintu utama saat mendengar ketukan dari luar, "mungkin dia lupa membawa kunci rumah" Batinku yang bahkan sampai saat ini masih tetap berusaha untuk memiliki pemikiran yang positif, perlahan aku mendekati Ling dan bukanya, ku dapati gadis ku menyandarkan kepalanya di pundak Seseorang gadis yang aku tau dia adalah Cimi sahabat Keysa, perlahan ku ambil alih gadis ku dari Cimi, bau alkohol terasa menyengat di hidung ku, ya itu bau gadis kecil ku yang ternyata dalam keadaan mabuk berat ini
"Terimakasih, udah nganterin Keysa" Ucapku dengan nada pelan, selama ini Keysa tak pernah membawa aroma alkohol kembali ke rumah, apa yang sebenarnya terjadi?, Mengapa malam ini bahkan ia kembali dengan keadaan kacau ini
"Lain kali bini lu itu di jaga Gio, untung aja kita yang nemuin dia, kalo ada yang mau niat jahat sama dia gimana cobak?, dan satu lagi mendingan lo larang istri lo minum minuman ginian, ngak baik, mana dia pergi dengan laki laki lagi, kalo dia di apa apaan gimana?" Ucap seorang pria yang kini berdiri tepat di samping adik sepupunya, ya itu Hafiz sahabat ku
"Lain kali istri itu di kasih perhatian dan kasih sayang ya pak ganteng, kalo pak Alvin bawa Keysa pergi baru tau gimana sakitnya, Cimi yakin banget pak ganteng pasti bakalan nyesel setengah mati, kalo sampe suatu hari key bakalan beneran ninggalin pak ganteng" Ucap Cimi dengan nada lembut namun sangat mengejek, sebagai mahasiswa ini sungguh tak pantas, namun saat ini ia berdiri sebagai teman dari Keysa, ia berdiri sebagai seorang sahabat dari seorang istri yang bahkan tak pernah di perhatikan oleh suaminya sendiri, meski Keysa tak membutuhkan itu, tapi Cimi tetap tak Terima jika sahabatnya di perlakukan dengan buruk, ia tak akan tinggal diam jika Keysa mengalami penderitaan
__ADS_1
"Cimi" Ucap Hafiz yang berusaha untuk menegur adiknya yang memang sudah hampir melewati batas ini, namun Cimi tentu saja tetap pada kekeras kepalaannya
"Cimi ngomong yang bener kok bang, cimi tau key luar dalam, kalo ia milih mabuk gini, berati ada kegelisahan yang besar di hatinya, lagi pula cimi juga bisa liat kok kalo pak alvino suka sama keysa" Ucap Cimi dengan wajah nan begitu polos, seolah tak ada rasa bersalah sedikitpun karena telah mengatakan beberapa kata yang tak pantas dan kejam pada suami dari sahabatnya sendiri, ia merasa yang ia lakukan adalah hal yang benar lalu, mengapa ia harus takut?, Ia hanya menyuarakan suara hati Keysa yang terpendam dan ia telan sendiri
"Jangan masukin ke hati, adek gue emang agak blong remnya, Lo jaga ya bini Lo, gue pamit dulu, sampe ketemu besok" Ucap Hafiz pelan dan setelahnya menarik tangannya adiknya untuk segera meninggalkan rumah Gio ia tak ingin Cimi mengatakan lebih banyak lagi ucapan tajam dan bahkan sangat memojokan Gio, ia jelas saja tau bagai mana posisi Gio saat ini.
Setelah kepergian keduanya aku menghela nafas pelan dan perlahan ku bantu Keysa berjalan mendekati sofa keningku mengerut, Alvino manakah yang Cimi katakan, pria manakah yang akan membawa istri ku ini, dan kegelisahan apa yang membuat keysa memilih untuk menengakan diri di tempat terkutuk itu?, ia terus meracau, dan akhirnya berjalan sempoyongan menaiki tangga, namun sepertinya ia sudah tak mampu menopang tubuhnya sendiri hingga ia hampir saja jatuh saat baru saja akan menaiki tangga, dengan cepat aku menyambut tubuh mungil itu, ku tarik nafas pelan dan kini ku gendong gadis kecil yang tak akan mampu untuk berjalan itu memasuki kamarnya, setelah melewati beberapa buah anak tangga akhirnya kini aku sampai di sebuah pintu berwarna putih perlahan ku buka gang pintu dan masuk, meletakan gadis kecil ku ini di ranjang.
Keysa masih sibuk meracau tak jelas
__ADS_1
Setelah memastikan gadis kecil ku merasa nyaman, aku berniat meninggalkan nya tapi tiba tiba ia memeluk lengan ku, ia masih meracau tak jelas, kadang tertawa dan seketika berubah sedih, dan mengupat, enatah siapa yang menjadi topik upat tanya nya ini,
"Jangan tinggalin Keysa" Ucapnya sembari merengek dan bahkan memeluk tangan ku erat, aku hanya tersenyum menatap wajah gadis ku itu, ia masih merengek dan memeluk lengan ku, ku tarik nafas pelan dan merebahkan tubuh ku tepat di sampingnya mencari tempat yang nyaman tak ingin menggu tidur gadis kecil yang kini sedang mabuk berat, keningku mengerut saat tangan mungil itu melingkar di pinggang ku, , aku hanya tersenyum menatap gadis kecil ku ini tak lama kemudian kantuk sudah menyerang dan perlahan ku pejamkan mata dan mulai berlayar di dunia mimpi..