Sikutub Itu Suami Ku

Sikutub Itu Suami Ku
Penyakit Lama


__ADS_3

Mentari pagi sudah kembali menyapa, Kesya melenguh pelan sembari melepaskan tubuhnya dari pelukan Gio, keduanya baru saja melewati malam yang begitu panjang, Keysa menguap pelan dan bergerak turun dari ranjang, ia bahkan tak menyangka jika ia akan tertidur di sini, tertidur di kamar yang sama dengan Gio si dosen kutub yang amat sangat menyebalkan ini,


Namun apa boleh buat, bagai manapun mahluk kutub ini masih tetaplah suaminya, ia menghela nafas dengan pelan dan berjalan menuju pintu, pagi sudah menyapa ia harus segera kembali ke kamarnya untuk segera membersihkan diri


"Mata gue bengkak banget, mana wajah gue sembab lagi, dasar emang kenapa cobak gue nangis semalam" Gumamnya sembari menatap cermin, keduanya sudah menagis semalaman, dan pagi harinya hanya ini yang tersisa mata yang bengkak dan wajah uang begitu sembab, Keysa menghela nafas pelan, ia segera menyelesaikan acara mandinya,


"Masih panas banget lagi" Ucapnya yang perlahan mengganti kompres yang memang sudah berada di dahi Gio sejak semalam, ia meraih ponsel dan menekan sebuah nomor


"Hallo"


".. "


"Dokter bisa kerumah?"


".. "


"Si kutub sakit"


".. "


"Hm yaudah saya tunggu" Ucapannya dengan nada pelan, dan setelahnya meletakan kembali ponsel Gio di nakas, ia jelas mengenal agus, dokter yang merawatnya beberapa waktu lalu, Gio bukan sosok yang bisa di atasi dengan mudah, bahkan sangat banyak mau dan menyebalkan, ia mendudukkan diri di samping Gio, ia masih terdiam sembari menatap lekat Gio yang sedang terlelap,


"Pas lo tidur lo lumayan ganteng pak, tapi pas mata coklat itu kebuka lo langsung berubah menjadi sosok nyebelin yang hanya akan membuat gue kesal sampai mau mati rasanya" Ucapnya sembari menatap Gio dengan tatapan lekat, ia bahkan tak pernah menikmati pemandangan ini, sejak awal menikah mereka berpisah kamar, dan tentu saja sibuk dengan urusan masing masing


"Si kutub lagi sakit, seharusnya orang sakit di kasih makan bubur kan?, tapi gue kan ngak bisa masak?, trus?" Ia bahkan hanya bisa bergumam pelan, saat ia ini gio sedang sakit dan ia jelas memerlukan asupan yang lembut untuk ususnya, namun ia bahkan tak bisa melakukan itu, di masa lalu Gio lah yang selau memasakkan bubur untuknya lalu saat ini?, ia benar benar tak bisa memasak lalu apa yang harus ia lakukan


"Gue punya ide" Dengan gerakan cepat ia meraih ponsel dan menelpon bi Asmi, setelah masalah terselesaikan keysa tersenyum lebar hingga sebuah ketukan dari luar membuatnya harus bergerak turun untuk segera membukakan pintu


"Silahkan masuk dok" Ucap keysa pelan, agus bergerak pelan menaiki tangga, keysa memilih untuk menyambut kedatangan bi Asmi


"Bi"


"Non baik baik aja?"

__ADS_1


"Keysa baik bi, bibik istirahat aja dulu, nanti keysa panggil"


"Yaudah, bibik kebelakang dulu" Ucap bik Asmi, ia mengguk pelan, setelahnya ia segera menaiki tangga untuk segera melihat keadaan Gio


"Bagai mana keadaannya" Ucap Keysa saat Bagus menyelesaikan pemeriksaannya


"Dia cuma sedikit kelelahan, dan untuk kedepannya jangan biarkan dia stres karena hal ini akan memicu penyakit lamanya" Ucap bagus pelan


"Penyakit lama?, dia punya penyakit?" Ucap keysa, nada cemas tentu saja tak dapat ia sembunyikan


"Dia ngak pernah cerita?"


"Selama ini kita ngak sebaik yang di lihat" Ucap Keysa pelan


"Kita bicara di luar" Ucap Bagus pelan, Keysa hanya menggunakan kepalanya pelan, ia juga tak ingin menganggu waktu istirahat gio,


"Silahkan duduk, bik Asmi buatin minum" Ucapnya pelan, bik Asmi mengguk pelan dan membuatkan teh untuk si tamu


"Sebenarnya Gio pernah mengalami depresi, kejadian itu waktu ia baru saja kembali dari Canada saat melihat ayahnya meninggal di depan mata, ngak ada yang tau bagai mana asal usulnya dan gimana kejadiannya, yang jelas om Aryo udah terkapar dengan bersimbah darah di lantai atas, Gio hampir saja di penjara karena di duga membunuh ayahnya, namun akhirnya ia bebas karena sebuah rekaman CCTV serta pihak menyelidik tak menemukan tanda keterlibatan atas kejadian, dan sejak saat itu ia menjadi murung, dingin dan sangat acuh, ia menjadi sosok yang sangat tertutup di karenakan rasa takutnya"


"Om Aryo?" Ucap Keysa pelan, sejak awal ia memang tak begitu mengenali keluarga kakak kasepnya, dan yah ia tau jika Gio sudah kehilangan ayahnya saat menyelesaikan masa kuliah setelahnya mereka meninggalkan Indonesia, hingga beberapa tahun kemudian mereka kembali, dan terjadilah pernikahan tak terduga itu,


"Hm, bahkan ia sempat di bawa ke Amerika untuk menjalani pengobatan dan belajar menata kehidupan barunya, dan setelah berjuang akhirnya ia bisa sembuh" Ucap bagus pelan, ia bahkan sudah bercerita sedari tadi


"Trus knapa penyakitnya kembali?" keysa tak mengerti mengapa?, mengapa penyakit itu kembali, mengapa gio sampai stres dan tertekan?


"Hal ini di picu karena rasa takut dan kegelisahan yang berlebihan, sepertinya kalian sempat ribut sebelumnya, hal itu membuat kekhawatiran yang berlebihan padanya, bisa di katakan ia sangat takut kembali di tinggalkan, dari itu, lo harus selalu di sisinya dan menemaninya, jika tidak maka penyakit ini bisa semakin serius, ia sedang berada di titik rendah itu dan lo harus menemaninya" Ucap Bagus pelan, di masa lalu Gio mengalami traumatis ia sangat anti dengan darah dan sangat takut di tinggalkan, namun bukankah penyakit itu sudah hilang bertahun yang lalu?


"Terimakasih udah mau cerita ke gue," Ucap Keysa pelan


"Ah ia, silahkan di minum" Ucap Keysa pelan, gio mengguk dan menyeruput teh yang baru saja di siapkan oleh bi asmi


"Hm yasudah kalo gitu gue pamit dulu, kalo terjadi sesuatu lo bisa langsung nelpon gue" Ucap bagus pelan, keysa mengguk sebagai jawaban, setelahnya ia segera mengantarkan gio menuju pintu

__ADS_1


"Jangan lupa kabarin gue"


"Iya" Ucap Keysa singkat, setelahnya pintu kembali di tutup, keysa melangkah menuju tangga untuk segera menemui gio si suami julitnya


"Bi buatin tolong bubur ya"


"Iya non"


"Makasih bik" Ucapnya pelan, setelahnya ia segera bergerak menaiki tangga, keysa menghela nafas pelan sebelum memutar kop pintu berwarna putih itu


"Sebenarnya berapa banyak hal yang lo sembunyiin dari gue pak" Ucapnya lirih, keysa melangkah mendekati gio yang masih setia memejamkan matanya


"Cepat sembuh, gue ngak suka liat lo gini, bangun kalo lo sakit siapa yang bakal ngasih gue tugas" Ucap Keysa dengan nada lirih, tangan kecil itu beralih menggengam pergelangan tangan gio


"Lo udah bangun pak?, gimana?, apa yang sakit?, apa yang ngak nyaman?" Ucap keysa cepat, gio masih menatap  keysa, semua seperti mimpi


"Saya ngak papa,"


"Jangan sakit lagi, gue khawatir" Ucap keysa pelan, gio hanya mengguk sebagai jawaban


"Yaudah makan dulu" Ucap Keysa pelan, bi asmi baru saja mengantarkan bubur dan sangat kebetulan bukan, gio juga sudah terbangun dari acara pingsannya


"Saya ngak lapar" ucapnya pelan,


"Makan, habis itu minum obat, awas aja kalo lo berani mati gue belom siap jadi janda" Ucap keysa sembari mengulurkan semangkuk bubur di hadapan gio


"Suapin saya" Ucap gio pelan, ia bahagia, bahagia ia bahkan tak menyangka jika orang pertama yang ia lihat setelah melewati pingsan  adalah keysa istri kecilnya, dan hal yang paling menyenangkan adalah segala perhatiaan yang di berikan keysa, ia sangat bahagia saat melihat wajah cemas dari gadis yang berstatus istrinya ini


"Udah jangan kelamaan senyum senyum buka mulut" Ucap keysa yang membuat gio kembali ke alam sadarnya


"Makasih"


"Jangan sakit lagi" Ucap Keysa pelan

__ADS_1


__ADS_2