
Rembulan malam sudah menyapa, Keysa duduk diam di kursi panjang taman depan rumah, tatapannya lurus kedepan, tak ada minat apapun yang di tunjukan bola mata itu, surat yang ia temukan tadi berhasil mengganggu pikirannya, Gio sangat pandai menyembunyikan sesuatu yang bahkan sebesar ini, jam sudah menunjukan angka 19.00 wib, namun Gio tak kunjung menunjukan batang hidungnya, kemana si kutub itu, rasa cemas mulai menghampiri Keysa, beberapa hal yang di temuinya di kamar Gio membuatnya harus menunggu, menanyakan ini langsung pada Gio, ia harus meminta sebuah penjelasan yang pasti dari suaminya itu, mengapa?, mengapa ia bahkan menyembunyikan ini?, apakah ia tak berhak tau tentang suaminya sendiri?, ia hanya menghela nafas kasar, memang, pada dasarnya pernikahan ini hanyalah di atas kertas, sejak awal mereka tak memang tak pernah memiliki hubungan apapun selain status di atas kertas itu, hidup berdampingan namun bermusuhan, itulah kenyataanya, rumah tangga yang bahkan tak di harapkan sejak awal, lagi lagi Keysa hanya bisa menghela nafas kasar, ia meraih ponselnya dan mengotak atiknya sebentar, ia tak bisa hanya menunggu, ia harus mencari, mencari keberadaan Gio yang tak pulang saat malam sudah menyapa,
"Hallo" Ucap Keysa setelah telfon terhubung
".. "
"Pak kutub di sana ngak?, blom balik dari tadi pagi soalnya" Ucap Keysa dengan nada pelan
".."
"Ya gitu deh"
".. "
"Gue serius Cimi, kalo ngak ada di tempat pak Hafiz gue mau nanya pak Jino, pak kutub ngak balik balik ni" Ucap Keysa kesal, Cimi malah menggodanya, ia sedang cemas, bisakah sedikit lebih serius?, ia harus bertemu gio secepatnya,
".. "
"Beneran?, ya udah gue ke sana, tu dosen ngerepotin aja tau ngak, udah tau sakit malah ngak balik kerumah, mahluk paling bodoh yang ada di bumi ini" Rutuk keysa kesal, kalo sakit tinggal balik trus panggil dokter kan selesai, nah ini malah keluyuran main kerumah orang, ia menghela nafas pelan dan beranjak masuk, keysa menaiki tangga dan berjalan pelan menuju kamar untuk mengambil kunci motor dan jaket, meskipun malam belum larut tapi dingin banget cuy, mana udah musim hujan lagi, ia tak ingin masuk angin dan pake jaket adalah pilihan yang tepat untuk menghindari yang namanya masuk angin, motor melaju dengan kecepatan sedang, pikirannya bercabang, ada rasa kesal namun senang, ada rasa cemas namun lega, dengan kenyataan yang baru ia temukan ini.
"Lo udah perduli sama pak genteng?, kemajuan yang pesat, kalian ini lucu banget tau ngak, kemaren laki Lo yang kesini karena Lo ngak balik ke rumah, nah sekarang malah kebalikannya, karma emang di bayar degan kontan ya, mana cepat banget lagi" Kekeh Cimi yang membuat Keysa memutar mata malas, saat ini Keysa sudah memarkirkan motornya, ia berjalan menuju pintu utama karena Cimi sudah menunggunya di sana
__ADS_1
"Udah sejak kapan?" Ucap Keysa menatap Cimi penuh tanya, Cimi menjergit pelan, apanya yang sejak kapan?,
"Pak ganteng sakit?, hm udah dari tadi siang kayaknya, gue sih ngak tau pastinya, yang jelas abang gue bawak pak ganteng dalam kondisi pingsan gitu deh" Ucap Cimi yang baru ngeh dengan pertanyaan tiba tiba Keysa
"Separah itu?, udah di panggil dokter kan? " Ucap Keysa dengan panik, sampai pingsan?, separah itukah?, oh tidak jangan sampai terjadi apa apa sama si kutub, Keysa masih memiliki banyak pertanyaan yang harus di jawab oleh si kutub, keysa tak ingin si kutub kenapa kenapa dan ia bahkan belum siap menjadi seorang janda
"Udah, dokter bilang demam tinggi sama kecapean" Ucap Cimi yang membuat Keysa mengguk pelan
"Ngak mau ngajak masuk ni?, laki gue sakit loh, ngak peka banget"
"Uluh uluh uluh gue sampai lupa, ada yang sedang kahwatir and panik banget ni, cie yang lakinya sakit" Ucap Cimi yang bahkan semakin gencar menggoda sahabatnya ini
"Nyebelin lo" Ucap Keysa dengan nada kesal, apanya yang cie, laki sakit cuy, ngak ada cie cie an sedang panik ni
"Krek k" Gang pintu perlahan terbuka, Gio masih terbaring dengan wajah pucatnya, sembari mengobrol dengan pria sebaya yang tak lain adalah Hafiz si pemilik rumah
"Malam Pak Hafiz" Sapa Keysa pelan, Hafiz membalas dengan senyuman, setelahnya Hafiz membawa Cimi keluar kamar, biarkan mereka menyelesaikan masalah keluarga mereka, Hafiz tak ingin ikut campur
"Kenapa ngak pulang?" Ucap Keysa duduk di hadapan gio, gio hanya tersenyum kecil, perlahan beranjak duduk
"Jangan banyak gerak, lo masih sakit" Ucap Keysa yang membuat Gio menghentikan niatnya
__ADS_1
"Saya kira kamu masih di luar sama teman teman kamu" Ucap Gio pelan
"Gimana gue bisa keluyuran, gue nungguin lo dari tadi, lo ngak balik balik, gue cemas begok, lo sakit dan ngak balik balik ke rumah, dan lo malah balik kerumah orang, otak lo taro di mana pak?, gue kahwatir tau," Ucap Keysa hampir berteriak, kenyataan yang baru ia ketahui membuatnya merasa takut, takut jika harus kembali berpisah takut di tinggalkan, takut jika kembali kehilangan, cukup sudah, ia sudah menunggu selama sepuluh tahun, ia telah menanti hari pertemuan itu sejak lama, tapi kenapa kenapa Gio merahasiakan ini, kenapa?, Apakah Gio tak menginginkannya?, seperti keysa menginginkan orang yang datang dari masalalu ini?
Flashback on
Keysa mengeram Kesal saat mesin print lagi lagi tak berkerja sama, yah mesin print yang baru ia beli beberapa bulan lalu mendadak eror, kertas yang sudah ia siapkan terbuang sia sia, yah saat ini ia sedang kesal dengan printer di rumahnya, ia harus mengantarkan makalah ini dua jam lagi, ke poto kopian ngak sempat, ia harus cepat, jarak rumah dari tempat si dosen cukup jauh, ia dengan kesal berjalan menuju ruang kerja milik Gio, yah semoga saja punya Gio ngak eror,
"Gue permisi masuk ya pak, gue ngak maling kok, cuma numpang ngeprint dikit doang" Ucap keysa berbisik pelan, setelahnya ia membuka gang pintu dan beranjak masuk
"Gila ni ruangan, rapi bener" Ucap Keysa menatap ruangan itu penuh kagum, ruang kerja Gio sangat rapi dan mengagumkan, rak buku yang memanjang, di pinggir jendela terdapat meja berwarna hitam dengan beberapa kertas di atasnya, yah itu adalah meja kerja Gio,
Keysa berjalan menuju mesin print, yang berada tak jauh dari pintu masuk
"Kertasnya kemana lagi, masak ia dosen ngak punya kertas buat ngeprint?" Ucap keysa pelan, tak ada kertas apapun di sana, kalo ngak pake kertas trus pake apa?, ngak mungkin kan bikin makalah dengan kertas tak kasat mata, Keysa berjalan pelan menuju rak untuk mencari Dimanakah kertas itu di letakan, namun sialnya keysa tak menemukan apapun di sana, keysa beranjak menuju laci dan
"Nah di sini lo, kertas sialan, nyari lo udah kayak nyari harta karun tau ngak, mana waktunya mepet lagi" Ucap Keysa mengambil kertas itu, dan mulai beraksi
"Akhirnya selesai juga" Ucapnya menghela nafas lega ia masih memiliki beberapa waktu lagi, yah semoga saja tidak terlambat, si dosen mah bebas, ngasih tugas di kampus ngumpulin nya kerumah, di protes malah bilang, dianya sibuk lah, ini lah itu lah, yah pada dasarnya drama tugas dari dosen memang tak pernah ada habisnya, Keysa mengambil tumpukan kertas yang tersisa dan membawanya kembali ke tempat sebelumya, keysa tak mau Gio mengamuk hanya karena ruangannya di kacau, ia adalah orang yang sangat tanggung jawab banget loh,
"Tidur nyaman lo di sana, jangan lari lari lo, nanti kalo punya gue eror lagi nyari lo susah" Ucap Keysa meletakan kertas itu dengan rapi, tak sengaja keysa menyenggol buku yang berada di meja dan buku itu terjatuh, ia membungkuk untuk mengambil si hukum namun sebuah poto jatuh membuat perhatian keysa teralih padanya
__ADS_1
"Poto di simpan di tengah buku?, eh gue jadi penasaran nih," Ucap Keysa meraih poto dan membaliknya, ia terdiam sesaat, ia tak salah lihat kan?, ini adalah poto dirinya, poto Keysa di bandung, poto 10 yang lalu, perhatiannya teralih pada sebuah gelang yang berada tak jauh darinya, ia segera mengambilnya, tubuh keysa mematung sesaat, air mata itu jatuh tampa permisi, apakah keysa bermimpi?, apakah Gio kakak kasepnya?, lalu kenapa Gio menyembunyikan ini, mengapa Gio tak mengatakan sejak awal, Gio jelas tau mengenai hal ini, ia mulai membaca isi dari buku itu, dan hal itu berhasil membuatnya terisak dalam diam
"Kakak" Ucap Keysa lirih, ia menepis air matanya dalam diam, ia akan menanyakan kebenaran ini nanti, ia harus mengantarkan tugasnya ini, keysa akan bertanya saat Gio sudah kembali, ia beranjak menuju garasi, dalam pikiran kacau keysa memacu motornya menuju rumah dosen yang telah menunggu dirinya beserta proposal itu,