Sikutub Itu Suami Ku

Sikutub Itu Suami Ku
Mood Rusak


__ADS_3

Dua hari sudah berlalu, keadaan Gio masih sudah mulai membaik hanya saja sampai hati ini bahkan keysa tak mengizinkannya untuk banyak bergerak, ia lelah, jika Gio kembali sakit maka ia Lah yang akan kembali repot, dari itu ia memilih untuk menghindari masalah, agar Gio bisa kembali sembuh dan ia bisa kembali ke hari hari biasanya


"Terimakasih" Ucap Gio dengan nada pelan, Keysa menaikan alisnya dengan Ringan


"Buat?" Ucapnya dengan nada pelan


"Kamu udah mau ngerawat saya dalam keadaan seperti ini, dan mau di repotin selama beberapa hari ini, terimakasih ya, ternyata menyenangkan saat sakit ada yang mengkhawatirkan ada yang menemani dan mengingatkan minum obat, ada yang merawat, banar benar menyenangkan" Gio menyunggingkan senyuman, sejak kecil ia tak pernah mengerti dengan sebuah perhatian, ia telah hidup di kalangan keluarga yang super sibuk, mama dan papanya lebih mencintai uang dari pada darah dagingnya sendiri


"Emang lo ngak pernah?, nyokap lo kemana pak?," Ucap Keysa membenahi duduknya ke mejadi lebih nyaman, ia sudah di sini dalam waktu yang cukup lama, Gio tak mengizinkannya keluar dan yah terpaksa lah ia duduk diam di pinggiran kasur sambil liatin Gio yang senyum senyum seperti orang stres,


"Mama?, saya rasa Mama memiliki begitu banyak kesibukan dan wajar sangat jarang di rumah, bahkan sangat sulit untuk di jumpai, dia pergi saat saya masih terlelap dan kembali di saat saya sudah tertidur pulas, tak ada waktu untuk bersama, tak ada sebuah kenangan keluarga" Ucap Gio dengan nada pelan, ia perlahan duduk dan menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang, ia menghela nafas pelan sembari menatap langit langit kamarnya dalam keheningan


"Yah emang gitu nasib anak dari orang sibuk, juga gitu, tapi bokap gue bisa ngatur waktu, jadi dia bisa deh menyempatkan waktu buat nemanin gue, ya walaupun ngak setiap saat sih tapi gue ngak pernah merasa kekurangan kasih sayang," Ucap Keysa dengan nada pelan, ia membenahi kain yang berada di dahi Gio, memegang dahi Gio untuk memastikan suhu tubuh Gio sudah turun


"Saya harus menjadi sosok yang sangat pengertian dan selalu memahami situasi" Ucap Gio dengan pelan


"Lo udah gede, udah dewasa jadi ngak boleh manja, kehidupan memang gitu, ngak selamanya indah, cuma gimana acara kita ngadepinya aja, ah udah lah gue mau mastiin satu hal"


"Kenapa?"


"Ada yang mengancam bapak sebelum ini?, ada orang hang gangguin Lo?" Ucap Keysa dengan nada selidik, penyakit Gio tak akan kambuh kan jika tidak ada pemicunya?


"Maksud kamu?"

__ADS_1


"Gue udah nanya sama dokter Bagus mengenai penyakit lama Lo, dan gue rasa sejak awal kita ngak ribut kan?, trus kenapa sampai jatuh sakit gini?, pasti ada sebabnya kan" Ucap keysa, ia hanya ingin memastikan, mengapa?, mengapa Gio bisa tumbang, bahkan Keysa tak melakukan apapun yang dapat memicu ke khawatirkan itu


"Lo?, jangan diam aja pak, jujur sama gue, gue cuma ngak mau di salahin kalo gue ngak bisa jagain lo" Ucapnya menutupi kekesalannya


sedangkan Gio, ia bahkan Gio terdiam sejenak, setelah beberapa saat ia menghela nafas dengan pelan,


"Seandainya ada orang lain yang cinta sama kamu dan kamu juga memiliki perasaan sama ke dia apa kamu bakal ninggalin saya?" Ucap Gio dengan nada serius


"Bapak ngusir gue?, ya gue tau sih pak, kalo Lo udah punya pacar di liar sana, tapi ngak usah gitu juga" Ucap Keysa dengan nada kesal, bukankah Gio mengatakan jika ia mencintai Keysa?, lalu apa ini?


"Bukan seperti itu" Ucap Gio pelan, ia tak memiliki niat itu, sama sekali tidak


"Trus?, maksudnya apa?, kanapa gue harus pegi?, atau bapak udah muak dan bosan sama gue?," Ucap keysa dengan nada tak bersahabat


"Sudah lah pak, mood gue udah rusak, kalo bapak mau ninggalin gue yaudah gue ok ok aja, selama ini kita juga ngak pernah terlibat hubungan apapun kan, ngak ada yang sepesial dan ngak pernah terjadi apapun di antara kita, bapak punya kehidupan bapak sendiri dan gue juga, kalo bapak mau pergi ya pergi aja jangan ngomong seolah gue yang salah, jangan bertindak seolah lo penting hingga gue harus mohon mohon biar ngak di tinggalin" Ucap Keysa dengan nada kesal,


"Saya tidak bermaksud seperti itu" Ucap Gio, ia bahkan belum menyelesaikan ucapannya namun Keysa dengan secepat kilat menyelanya


"Udah lah pak, gue mau pergi" Ucap keysa dengan kesal, setelahnya ia berdiri dari duduk dan meninggalkan kamar Gio dengan emosi, setelah bertahun tahun nunggu akhirnya ia kembali bertemu dengan A'a kasepnya, tapi?, semua sudah berubah, A'a kasepnya sudah tidak seperti dulu lagi, ia menyesal karena terlalu berharap


"Bik, jangan lupa kasih si kutub obat" Ucap Keysa bergerak pelan menuruni tangga, jaket kulitnya sudah terpasang rapi lengkap dengan jins serta rambut ekor kudanya,


"Non mau kemana?"

__ADS_1


"Key mau pergi, bibik jagain si kutub ya, Keysa pergi dulu" Ucapnya segera menuju garasi, setelahnya segera menuju markas, ia sedang kesal, ucapan Gio membuat moodnya rusak, sebenarnya ia sangat tak rela saat memikirkan jika Gio akan meninggalkannya, tapi?, apa yang bisa ia harapkan?, semua sudah berlalu begitu lama, dan manusia bisa berubah kapan saja, ia sudah lelah mengantungkan harapan pada manusia dan lagi lagi ia harus menelan pahitnya rasa kecewa


"Dasar brengsek" Ucapnya, ia bahkan terus mengomel sepanjang perjalanan, ia merasa kesal marah dan kecewa, kanapa ia bisa jatuh dengan begitu mudah?, Gio hanya memberikan sedikit perhatian padanya dan ia sudah mengira jika sudah memiliki segalanya, ia bahkan tak habis fikir kanapa?, kenapa perasaan seperti ini tumbuh?, dan lihat lah?, ia harus kembali sakit karenaya


"Lo kenapa?, tu muka masem bener" Ucap Kiki pelan, keysa sudah berada di cafe tempat bisa nongkrong, dan tentu saja dengan teman teman segengnya


"Ngak papa, malam ini ada yang nantang ngak?, gue mau balapan ni" Ucapnya dengan nada kesal, ia akan melampiaskan segala kemarahannya malam ini, ia butuh hal yang bisa ia jadikan pelarian dari semua kekesalannya, ia muak, muak dengan perasaanya sendiri, muak dengan kebodohannya sendiri, ia muak dengan semuanya, mengapa perasaan itu harus tumbuh namun di paksa mati sebelum bisa berkembang, benar benar memuakan


"Tumben?, kenapa?, ada masalah?, cerita aja" Ucap Kiki pelan, teman segengnya juga tau jika Keysa suka melampiaskan kemarahannya dengan balapan, bukankah itu terkesan mencelakai diri


"Cimoy, yok cepetan" Ucapnya mendesak,


"Nah kok gue?, ajak si Nevu aja sana" Elak Cimoy pelan, ia jelas tau bagaimana gilanya Keysa jika balapan dalam keadaan emosi, selain mencemaskan ke adaan Keysa ia juga mencemaskan nyawanya yang bisa saja melayang di jalanan yang dingin itu


"Lo aja Cimoy, kalo si Nevu mati gue kasihan sama istrinya yang jadi janda" Ucap Keysa terdengar bercanda namun Cimoy jelas tau semua tidak akan berhenti sampai di sana


"Key, gue mohon jangan sama gue ya, gue belom siap mati, lo kalo balap dalam emosian gini ngeri, gue ngak mau lo kenapa kapa, jangan balapan ya, cari pelampiasan lain aja, gue traktir makan nih, kan cewek biasanya kalo kesal suka ngelampiasinnya ke makanan, kita cari jalan aman aja ya" bujuk Cimoy,


"Yaudah yok ke markas rajawali" Putus Keysa dengan ringan, yang di katakan cimoy benar, ia bisa membuat Cimoy dalam bahaya kalo balapan, bagai mampun Cimoy cuma punya satu nyawa kalo yang satu di ambil Cimoy bisa metong


"Lo mau ngapain?" Ucap Cimoy putus asa, mau ngapain ke markas rajawali?, mau ngajak mereka balapan?, ya sama aja bohong dong, sejak awal mereka udah membujuk Keysa buat ngak balapan kan?,


"Mau mukulin si rajawali, ngak ada yang boleh nolak, yok cepetan" Ucap keysa tampa memberikan kesempatan untuk di bantah

__ADS_1


"Key, kalo gini lo makin nyeremin" Ucap Cimoy dan yang lainya, namun mereka hanya bisa mengikuti langkah Keysa ke markas rajawali, keysa bisa aja nekat kalo gini, mereka ngak bisa ninggalin Keysa dalam keadaan emosi gini,


__ADS_2