
Gio pov
Aku menghela nafas dengan pelan, lagi lagi aku di tinggalkan begitu saja, gadis ku sangat terburu buru turun dari mobil seakan tak mau berdekatan dengan ku lebih lama lagi, aku di tinggalkan begitu saja, tapa kata, dan Tampa sebuah senyuman manis, aku hanya bisa menghela nafas pelan, aku tentu saja tak bisa memaksakan ke keinginan ku, karena memang pada kenyataanya Keysa sudah tak menginginkan ku lagi, ia sudah memilih untuk melupakan ku, melupakan kakak laki laki yang menyelamatkan dari gangguan anak di desa asri sepuluh tahun yang lalu huh, benar benar sakit ternyata jika memendam rasa sepihak, namun di balik itu semua aku jelas sadar bawa aku lah yang terlalu berharap, semua terjadi sudah begitu lama lagi lagi aku hanya bisa menghela nafas beranjak turun dari mobil, langkah membawaku masuk ke dalam gedung kampus untuk mulai bekerja seperti biasanya
"Selamat pagi pak" Sapa seseorang pelan, aku tau dia tanpa harus melihat, gadis yang bahkan membuat ku hampir kehilangan istri tercinta ku, gadis yang membuat hubungan ku dan Keysa semakin jauh, katakan lah aku kenak kanakan, namun itulah kenyataanya, aku memang egois jika berurusan dengan istri ku, andai aku tak menolong gadis ini mungkin aku dan Keysa akan semakin akrab dan menghabiskan hari hari yang bahagia, andai aku tak meragukannya pastinya Keysa akan baik baik saja sampai saat ini, namun nyatanya?, aku meninggalkannya di saat ia membutuhkan ku, aku bahkan tak meliriknya saat ia di tuduh dan di tindas oleh orang lain, aku memang pantas untuk menerima segala kebencian itu, harapan ku yang terlalu tinggi, hingga pada akhirnya aku harus rela untuk kembali menelan pahitnya kenyataan ini, kenyataan yang kejam,
Aku hanya mengguk sebagai jawaban, namun masih terus melangkah, sudah ku putuskan, aku harus menjauhinya, sudahi pertemanan yang keterlaluan ini, toh mengapa aku harus perduli, langkah ku terhenti saat ku lihat gadis ku sedang berbincang dengan seorang pria, yah dialah Alvino Malik, pria yang merupakan salah satu saingan cinta ku, aku jelas tau jika menaruh perasaan kepada istri ku, sebagai sesama lelaki jelas aku tau maksud dari tatapan dan segala perhatian itu, dan ia memang sangat beruntung karena mampu membuat Keysa meliriknya, memperhatikannya dan memperdulikannya, sedangkan aku?, aku hanya bisa mengepal tangan ku erat sembari menatapnya dari kejauhan, jika bisa, maka aku akan ke sana dan memukul pria lancang memegang tangan istri ku, pria lancang mengambil semua perhatian istri ku dan pria lancang yang mengambil segala hal yang seharusnya jadi milik ku
"Pak, bapak sakit?, mari saya temani ke rumah sakit, wajah bapak pucat benget" Suara lembut itu membuat ku melepaskan kepalan ku dan kembali ke kenyataan itu, kenyataan jika aku hanya bisa diam di tempat Tampa bisa melakukan apapun, kenyataan bahwa aku hanya bisa memandanginya dari kejauhan
"Saya sedang sibuk, permisi" Ucapku datar sembari meneruskan langkah ku, namunĀ siapa yang menyangka jika gadis ini berani menggapai tangan ku, aku reflek menepisnya kasar, selama ini aku tak suka berkontak fisik dengan yang namanya wanita, yah kecuali, keysa Asmiranda Wijaya, istri tercinta ku, tentu saja, bagai mana bisa aku menolak gadis yang berstatus istri ku itu
"Pak, kita perlu bicara" Cicitnya dengan pelan, aku sudah benar benar muak dengan wajah memelas ini, aku tak ingin kembali di salah fahami oleh istri ku, aku sudah memutuskan untuk menjauh dan lepas dari semua yang bersangkutan tentang Mila
"Maaf Saya sibuk, saya permisi" Ucap ku dengan nada datar dan berjalan cepat menuju lift, tak ada hal yang perlu di bicarakan, tidak ada hal yang harus di bahas, tidak ada, sejak awal kami menag tak pernah memiliki hubungan apapun, dan aku merasa tak berkewajiban mendengarkan hal yang akan ia katakan, semua masalah ini berawal dari diri ku, dan aku tak ingin meneruskannya lagi, aku tak ingin menyakiti istri ku lebih dari ini
__ADS_1
Pintu lift perlahan terbuka aku berjalan pelan menuju ruangan ku, meskipun aku sedang tak memiliki ketertarikan untuk bekerja hari ini, namun tanggung jawab tetaplah tanggung jawab, aku tak bisa meninggalkannya begitu saja meskipun aku menginginkannya
"Lo kenapa?, tambah gelap aja tu muka, ribut lagi sama adiknya hafiz?, hah?, emang top dah Lo" Ucap Jino pelan, Jino mengikuti langkah ku sejak tadi, dan saat ini ia sedang berada di ruangan ku, memberiku pertanyaan pertanyaan konyol yang sangat tak bermutu,
"Bini gue masuk kampus" Ucap ku pelan, jino hanya mengguk ngangguk sebagai jawaban
"Trus?, masalahnya di mana?, kalo udah bisa ke kampus bini lo udah sembuh kan?, seharusnya lo senang kan?" Ucap Jino dengan nada pelan
"Di antara dua" Ucap ku pelan sembari mendudukkan diri di sofa, masih ada banyak waktu, aku harus menenangkan diri ku terlebih dahulu sebelum kembali berhadapan dengan para mahasiswa, sebelum mengajar aku harus tenang jangan sampai aku lepas kendali dan malah melakukan kesalahan
"Bini gue sembuh berarti dia bisa ke manapun ia mau, dan melihat cowok mana pun, kalo bini gue sembuh itu artinya dia bakalan balik ke jalanan dan ngelakuin hal hal yang bahkan bakalan membahayakan nyawanya sendiri" Ucap ku menghela nafas pelan, ini lah yang paling tak ku inginkan, aku tak suka seperti ini, aku tak suka jika melihat istri ku memperhatikan pria lain, aku tak suka saat melihat istri ku berdekatan dengan pria lain, namun?, aku bahkan hanya bisa menatapnya dari kejauhan, Tampa bisa protes dan menghentikannya, karena pada kenyataanya aku tetaplah suami yang tak pernah ia inginkan
"Lagi cemburu ni ceritanya"
"Ya jelas lah, suami mana yang ngak cemburu liat bininya lebih perhatian ke laki laki lain?"
__ADS_1
"Gue ya mana tau, kan gue belum punya bini, jadi mana tau gue hal hal yang begituan" Ucap Jino dengan nad pelan
"Lo tau Alvino?"
"Ooh dosen baru itu?, tau sih, si dosen baru masuk empat bulan udah ngetop aja di kalangan para mahasiswi" Ucap Jino yang hanya di balas anggukan oleh ku
"Yah wajar sih, si Vino juga ngak kalah ganteng sama lo, wajar lah bini lo suka, wajar juga lah kalo bini Lo berbalik arah, lagian kan hafiz bilang kalo bini lo banyak peminat, anak kampus sebelah pun sering ke sini cuma mau liat bini lo, belum lagi tu salah satu teman se geng bini Lo, keliatan semua kalo mereka naro rasa sama bini lo, saingan Lo banyak banget ni" Ucap Jino pelan, yang membuat ku menatapnya dengan kesal, bisakah teman ku ini sedikit manusiawi?, aku sedang sedih loh, sedang di penuhi api cemburu, bukan nenangin malah ngomporin, lama lama ni bocah aku pecat jadi teman, mana si Hafiz minta izin lagi buat jagain adiknya yang masih terlihat sehat dan bugar, hari yang menyebalkan
"Sialan lo, hibur gue kek" Ucap ku dengan nada ketus, mahluk ini, ku fikir ia akan menghibur ku, namun nyatanya malah menggunakan kesempatan ini untuk mengolok ngolok ku, dasar teman sialan
"Ya udah yaudah" Ucapnya berusaha menghentikan tawanya, tak ada yang lucu akan hal ini, aku adalah suami, cemburu hal yang wajar kan?, ketakutan seorang suami, ketakutan Seornag suami jika suatu saat istrinya meninggalkannya begitu saja
"Gini gini, lo tenangkan diri lo dulu, lo mau masuk kelas kan 15 menit lagi?, lo harus tenang, lo udah liat kan gimana saingan Lo, seharunya Lo bisa berubah jadi laki laki yang lebih perhatian, laki laki yang lembut dan menujukan kasih sayang Lo ke dia, bukan malah Lo diamin trus Lo kasih tugas terus terusan, ya wajar lah kalo dianya kesal" Ucap jino yang membuat ku menghela nafas pelan, yang ia katakan benar, Keysa memang terlihat selalu sebal saat berada di dekat ku, namun?, hanya itu lah yang membuat ku bertemu dan bisa menatapnya, seperti kebiasaan lama Keysa bahkan kembali saat malam sudah begitu larut dan terkadang saat aku sudah terlelap, dan saat di siang hari aku harus berangkat bekerja lebih dahulu, kami bahkan tak ubahnya dengan dua orang asing yang tinggal satu atap
Aku menghela nafas pela aku harus tetap terlihat tenang, aku pasti bisa mengatasi hal ini, aku tampan, pintar dan jago masak lagi, mana mungkin istri ku kepincut sama orang lain saat suaminya udah keren gini, aku akan buang segala pikiran kotor itu, aku adalah sang pemenang, aku mengguk dengan mantap, aku tak perlu bersaing dengan siapapun, karena semua sudah jelas bukan, Tampa persaingan pun aku sudah muncul sebagai pemenang, hal yang perlu aku lakukan adalah menjadi suami yang perhatian, menjadi suami yang akan menemani Keysa dalam suka dan duka, aku sangat percaya diri dengan segala kemampuan yang aku punya, dan aku yakin suatu saat Keysa pasti akan membalas perasaan ku, dari sekian banyak pria yang menginginkan istriku, yah aku adalah pemenang bahkan saat semua belum di mulai, keysa milik ku, dan istri kesayangan ku, tak akan ku biarkan siapapun mengambilnya dari ku, ingat itu, tidak akan aku biarkan.
__ADS_1