Sistem Kesombongan Surgawi

Sistem Kesombongan Surgawi
Sikap Lancang


__ADS_3

Yu Jie baru memasuki aula klan Bai saat Bai San tengah duduk di sana dengan senyum hangat, seolah sudah begitu menunggu kedatangannya setelah beberapa hari terakhir disibukan mencari Xia Mei yang tanpa hasil.


“Bagaimana kabarmu, Patriak Jie?" tanya Bai San.


Yu Jie hanya tersenyum tipis sebelum memberi hormat menghadapnya, dirinya tidak ingin basa-basi sehingga langsung menanyakan alasan Bai San meminta bertemu dengannya beberapa hari lalu.


Bai San hanya mengangguk pelan, setelahnya menyuruh Bai Yin pergi sebab ingin berbicara empat mata dengan Yu Jie.


Bai Yin awalnya menolak, dirinya bahkan belum puas melihat Yu Jie sehingga tidak setuju dengan perintah ayahnya.


“Putriku, bukankah ada hal harus dirimu urus sekarang? Ayah akan marah jika orang-orang kerajaan itu berani masuk kemari tanpa ijin, jadi tahan mereka selagi Patriak Jie berbincang dengan Ayah," ucap Bai San.


Bai Yin segera mendengus kesal, sesaat kemudian berjalan keluar sembari berkata, “Merepotkan saja, ini semua karena kalian datang tiba-tiba aku jadi tidak bisa bersama Tuan Muda Jie lebih lama."


Bai San hanya tertawa, sesaat kemudian melirik Yu Jie dengan tatapan penuh arti.


“Patriak San, jika pertunangan yang ingin kau bicarakan maka lupakan saja," ucap Yu Jie paham arti tatapan Bai San.


Tawa Bai San segera mengencang, sesaat kemudian berkata, “Tidak, jangan khawatir sebab bukan itu tujuanku meminta bertemu denganmu."


“Baguslah," timpal Yu Jie dengan helaan napas lega.


Kepala Yu Jie tengah sakit memikirkan hilangnya Xia Mei, dalam situasi tersebut tentu saja tidak ada keinginan dirinya untuk membahas sesuatu seperti pertunangan atau sejenisnya.


Bai San tidak lama kemudian mengambil sesuatu dari kantung jubahnya, itu merupakan beberapa lembar catatan yang Yu Jie pertanyakan isinya.


“Lihatlah." Bai San memberikan beberapa lembar catatan tersebut pada Yu Jie.

__ADS_1


Yu Jie segera mengerutkan dahinya membaca catatan tersebut, isinya memiliki kaitan dengan Xia Mei membuat Yu Jie menatap Bai San lekat berharap Bai San punya informasi lebih dari ini.


Bai San segera menjelaskan ketika ayah Yu Jie masih hidup, ayah Yu Jie dan dirinya secara bertahap menyelidiki sesuatu yang sudah dilakukan bertahun-tahun dan baru berhenti saat ayah Yu Jie menghilang.


Hal yang mereka selidiki sendiri merupakan identitas asli Xia Mei juga tempat asalnya, karena Xia Mei memang bukan orang asli klan Yu melainkan gadis kecil yang ditemukan di hutan dekat klan sebelum diangkat sebagai anak oleh ayah Yu Jie.


Yu Jie hanya mendengarkan, hal terkait ini telah dirinya ketahui sedari lama dari ingatan pemilik tubuh sebelumnya, tetapi tidak terlalu Yu Jie pikirkan karena adik kandung atau bukan tidak masalah untuknya.


Pemilik tubuh sebelumnya menyayangi Xia Mei sebagai adik dan tugas Yu Jie adalah melanjutkan kasih sayang itu sebagai bentuk balas budi, siapa sangka menghilangnya Xia Mei akan ada kaitannya dengan tempat asal Xia Mei seperti ini.


“Orang yang kau katakan membawa Xia Mei, bisa jadi mereka adalah orang-orang klan Xia yang tengah ayahmu juga aku selidiki sedari lama."


Bai San menutup penjelasannya.


Yu Jie segera mengepal erat jemarinya, dirinya murka tetapi klan Xia begitu asing untuknya sehingga tidak tau ada di mana juga siapa-siapa saja mereka membuatnya tidak dapat bergerak saat itu juga.


“Ini belum pasti, tetapi klan Xia amat misterius hingga penyelidikan dua klan kita saja masih belum mendapat hasil memuaskan tentang mereka. Ada beberapa kultivator misterius pernah muncul menggegerkan benua, identitas mereka tidak ada yang tau tetapi aku dan ayahmu menduga kultivator misterius itu sebagai bagian dari klan Xia."


Bai San segera menggeleng, apa yang baru disampaikannya hanya dugaan sehingga tidak ada kepastian hal ini benar.


Yu Jie hanya bisa menghela napas panjang, klan Bai juga klan Yu di bawah pimpinan ayahnya saja tidak bisa menggali informasi lebih dalam terkait ini membuat Yu Jie sadar kalau klan Xia memang bukan klan sembarangan.


Ditambah Yu Jie yang tidak pernah ingat ada klan Xia saat dirinya masih menjadi penguasa benua, membuat Yu Jie semakin tertarik mencari tau lebih dalam terkait mereka.


“Nak Jie, aku tau ini berat untukmu kehilangan adik yang menemanimu sedari kecil sepertinya. Meski demikian aku harus katakan kau tidak boleh gegabah, klan Xia bisa jadi merupakan kekuatan tersembunyi berbahaya di benua yang mana nyawamu bisa terancam jika berurusan dengan mereka," ucap Bai San tiba-tiba.


Yu Jie sempat tersentak sebelum tersenyum tipis menanggapinya, panggilan nak untuknya Yu Jie sadari mengandung rasa peduli nyata dan bukan hanya berpura-pura.

__ADS_1


“Jangan khawatir, Paman San. Aku sudah besar jadi aku mengerti apa yang baik dan tidak untuk aku lakukan," ucap Yu Jie dengan mulutnya yang terasa gatal karena sudah memanggil Bai San dengan sebutan paman.


Bai San segera tertawa keras, setelahnya berkata, “Kau bisa memanggilku Ayah jika mau, dengan syarat jadilah pendamping hidup putriku."


Yu Jie hanya menanggapi itu dengan gelengan pelan, Bai San menanggapinya penuh canda gurau sebelum perbincangan berlanjut membahas yang lebih ringan.


Brakkk!!!


Yu Jie juga Bai San masih asik berbincang saat pintu aula tiba-tiba dibuka paksa, di sana telah ada wanita muda juga pria tua dari kerajaan Zirah Besi yang diusir Bai Yin sebelumnya.


Yu Jie hanya menaikan alisnya di saat Bai San sudah melotot tajam menatap keduanya, Bai San nampak murka mempertanyakan kelancangan mereka ketika Bai Yin tiba-tiba menyusul masuk dengan wajah panik.


“Ayah, Tuan Muda Jie, maafkan aku akan keributan ini karena keduanya benar-benar tebal muka dan menolak pergi bahkan setelah aku usir berkali-kali," ucap Bai Yin menjelaskan.


Bai Yin setelahnya melangkah menghampiri keduanya, sembari berkacak pinggang dirinya berkata, “Apa kalian sudah puas melihatku dianggap tidak becus? Kalau aku bilang pergi maka pergi dan jangan buat keributan semacam ini!!!"


Wanita muda juga pria tua hanya menghiraukan Bai Yin, keduanya lebih memilih menghampiri Yu Jie juga Bai San sebelum berlutut dengan wajah putus asa.


“Maaf atas atas sikap lancang kami, Patriak San, Tuan Muda. Kami tidak memiliki pilihan lain karena bantuan dari kalian adalah satu-satunya yang tengah begitu kerajaan harapkan saat ini." Pria tua dengan suara lemas.


“Benar, tolong untuk Anda sekalian mau setidaknya mendengar keluh kesah kami," timpal wanita muda dengan nada serupa.


Bai San di tengah amarahnya hanya menatap keduanya dalam diam, sesaat kemudian melirik Yu Jie sebab sudah sedari awal tau sempat ada masalah antara Yu Jie dengan keduanya sebelum datang ke sana.


“Semua terserah padamu, Nak Jie. Kau ingin memberi mereka kesempatan menjelaskan alasan hingga berani lancang atau menghukum karena sikap lancang itu, lakukan semau mu pada keduanya. Lagipula keluarga kerajaan tidak akan bisa melakukan apa-apa kalau sesuatu terjadi pada mereka di sini," ucap Bai San.


Pria tua juga wanita muda segera menelan ludah mereka, tubuh mereka bergetar ketakutan agak ragu apakah tindakan nekat yang baru mereka lakukan sudah tepat atau tidak.

__ADS_1


Yu Jie hanya mengangguk, Bai San nampaknya sudah malas berurusan dengan keduanya hingga melimpahkan hal ini padanya.


“Aku mengerti, Paman San. Aku cukup baik dalam menilai apakah sesuatu benar-benar penting atau tidak hingga sebanding melakukannya dengan taruhan nyawa seperti mereka berdua," ucap Yu Jie dengan senyum tipis namun terasa mengerikan.


__ADS_2