
Mu Yang hanya menatap Yu Jie dalam diam, dirinya penasaran akan apa yang Yu Jie ingin lakukan pada prajurit penjaga gerbangnya.
“Tuan, bisa aku tanyakan sesuatu?"
Yu Jie menghampiri salah satu dari mereka, wajah Yu Jie polos seolah tidak berdosa membuat perasaan tidak nyaman menghampiri Mu Yang yang melihatnya.
Beberapa prajurit yang baru ingin kembali ke atas tembok segera melirik Mu Yang, mereka tau Yu Jie datang bersama Mu Yang tetapi jenderal mereka tidak menyampaikan siapa Yu Jie dan apa tujuan kedatangannya sehingga penasaran.
“Satu dari kalian bisa menjawab apa yang ingin ditanyakan, sisanya bisa kembali berjaga ke atas tembok kota," ucap Mu Yang memilih percaya.
“Kalau begitu biar aku saja," ucap salah satu dari mereka.
Setiap prajurit segera kembali ke atas tembok untuk berjaga, menyisakan satu dari mereka di sana.
“Nak, kau ingin menanyakan apa?" tanya satu prajurit tersisa pada Yu Jie.
Yu Jie hanya melirik ke sekitar sebelum mengajak prajurit itu menjauh dari sana, Mu Yang hanya mengekornya ingin tau alasan Yu Jie juga maksud pembuktian yang dikatakan Yu Jie sebelumnya.
Prajurit yang diajak Yu Jie hanya ikut kemana Yu Jie membawanya, karena Mu Yang juga ikut tidak ada perasaan curiga dirasanya.
Saat lokasi mereka telah Yu Jie anggap aman, Yu Jie tiba-tiba menarik pedang dari sarungnya sebelum mengarahkan pedang itu pada prajurit yang ikut membuat wajah sang prajurit seketika panik saat itu juga.
“Jenderal Yang, apa yang pemuda ini ingin lakukan?" tanya prajurit dengan wajah meminta pertolongan.
Pedang Yu Jie sudah menempel di leher prajurit tersebut bisa menebasnya kapan saja, alasan Yu Jie melakukan itu tidak prajurit ketahui sehingga merasa takut ada hal telah pemuda di hadapannya ketahui terkait sesuatu yang seharusnya Mu Yang saja tidak tau.
Mu Yang hanya menghela napas panjang, ketimbang membantu prajurit tersebut, dirinya lebih memilih mendukung apa yang tengah Yu Jie lakukan sebab tau pasti ada alasan di balik tindakan Yu Jie sekarang.
“Jawab setiap pertanyaannya dengan benar jika tidak ingin kepalamu hilang," ucap Mu Yang.
Yu Jie mengangguk puas Mu Yang memilih memberi kepercayaan penuh padanya, pada saat yang sama prajurit tersebut sudah bergetar tubuhnya mengira kekhawatirannya nyata adanya.
__ADS_1
“Jenderal Yang, mohon untuk mengampuniku. Semua ini bukan hal yang kami inginkan, kami terpaksa melakukannya karena jika tidak nyawa kami juga akan ada dalam bahaya," ucap prajurit tersebut sembari berlutut.
Mu Yang menaikan alisnya tidak mengerti, berbeda dengan Yu Jie yang seolah telah menebak apa yang sekiranya tengah terjadi.
“Lihat, keanehan yang aku rasakan bukan dugaan semata," ucap Yu Jie.
Mendengar ini Mu Yang segera menarik pedang dari sarungnya, mengarahkannya pada prajurit tersebut untuk mengancam menyampaikan lebih jelas guna memenuhi rasa penasarannya.
“Jenderal Yang, keadaan ibu kota sekarang sudah sepenuhnya berbeda. Beberapa hari lalu setelah setelah kepergian tuan putri, pangeran pertama tiba-tiba mendeklarasikan diri sebagai raja dan hanya tinggal menunggu pelantikannya saja," ucap prajurit tersebut.
Mu Yang terkejut tidak percaya, setelahnya berkata, “Omong kosong, kau pikir setiap orang istana yang memihak tuan putri akan diam saja?!!"
“Faktanya tidak ada yang bisa mereka lakukan di hadapan kekuatan yang mendukung pangeran pertama, sekte Pedang Darah datang dengan kekuatan penuh mereka ketika mengambil alih istana membuat kebanyakan orang mencoba berlapang dada menerima calon pemimpin baru mereka," jelas prajurit tersebut.
Wajah Mu Yang seketika memburuk, jika mereka dikatakan seperti itu maka setiap jenderal selain dirinya sudah ada di pihak pangeran pertama sekarang, bahkan bisa jadi seisi istana sudah tidak ada yang memihak Xiang He selain dirinya.
“Jenderal Fao yang baru menjemput tuan putri, jangan katakan ...."
“Benar, dirinya diperintahkan pangeran pertama untuk membawa Xiang He langsung ke hadapannya untuk berjaga-jaga jika tuan putri berhasil selamat dari rencana pembunuhan saat perjalanannya." Prajurit tersebut mengatakan apa yang diketahuinya.
Mu Yang seketika murka saat itu juga, dirinya merasa dikhianati bukan hanya oleh Yuan Fao melainkan setiap prajurit termasuk pria di hadapannya.
Mu Yang memasukan pedang ke sarungnya sebelum menghampiri prajurit di hadapannya dengan tangan terkepal erat, memukulkannya dengan kencang seolah ingin melampiaskan apa yang tengah dirasakannya sekarang.
“Jenderal Yang, mohon ampuni aku ...."
Mu Yang seolah tidak peduli tetap menghajar habis prajurit tersebut, hingga tergeletak tidak berdaya di tanah barulah Mu Yang berhasil mendapatkan sedikit ketenangannya kembali.
“Sialan, pengkhianat sepertimu berani sekali berlagak seolah tidak ada yang terjadi di hadapanku," ucap Mu Yang dengan nafas memburu.
Yu Jie yang sedari awal hanya memperhatikan segera menghampiri Mu Yang, tidak merasa bisa terus diam ketika segalanya telah jelas sekarang.
__ADS_1
“Tuan Muda Jie, apa yang harus kita lakukan?" tanya Mu Yang dengan kepala sakit, sulit untuk berpikir jernih ditengah situasi buruk seperti ini.
Yu Jie hanya mengangkat pedangnya sebelum menancapkan nya ke dada prajurit yang kini masih meringis kesakitan, mengambil nyawanya membuat suasana hening muncul seketika.
“Satu hal yang perlu kau lakukan sekarang adalah tidak memberi lawan belas kasihan, habisi saja jika kau merasa itu pantas ketimbang membiarkannya hidup yang nanti malah akan merepotkan ... seperti pria ini," Yu Jie menunjuk jasad prajurit yang baru ditusuk dengan pedangnya.
Mu Yang hanya diam nampak merenung, jujur saja dirinya tidak merasa kesalahan ada di prajurit itu sepenuhnya dan hanya ingin melampiaskan emosi saja sebelumnya.
Yu Jie bisa menebak apa yang sekiranya Mu Yang tengah pikirkan sehingga menghela napas panjang, setelahnya berkata, “Dia berkhianat karena ingin tidak peduli walau itu ada di bawah paksaan, entah prajurit biasa macam dirinya atau rekan jenderal mu semuanya bersalah dan perlu diberi pelajaran."
Mu Yang agak tidak setuju dengan ucapan Yu Jie tetapi tidak berani mengatakannya, dirinya masih ingin mencari cara menyadarkan teman-temannya untuk ikut kembali mencekal keinginan pangeran pertama duduk di kursi raja.
“Tuan Muda Jie, sepertinya aku harus pergi," ucap Mu Yang.
Mu Yang tanpa menunggu jawaban segera melangkah dari sana untuk menjernihkan pikirannya, sekalian mencari cara apa langkah yang harus dirinya ambil selanjutnya.
“Jadi apa kau akan diam saja membiarkan Xiang He menderita? Aku dengar istana kini sepenuhnya telah dikuasai pangeran pertama, bukankah diam mu sama saja dengan membiarkan Xiang He hidup di tengah setiap musuhnya?" Yu Jie bersuara.
Mu Yang segera menghentikan langkahnya, dengan wajah risau dirinya berkata, “Lalu kita harus apa?"
Yu Jie tertawa pelan sebelum berkata, “Bukankah hanya perlu mengambil alih istananya kembali? Suruh setiap orang di sana memihak Xiang He atau habisi mereka, ini mudah jadi tidak perlu terlalu memusingkannya."
Mu Yang segera menatap Yu Jie dengan perasaan campur aduk, awalnya ia kira Yu Jie bercanda tetapi pemuda itu tidak terlihat bermaksud demikian.
“Tuan Muda Jie, apakah kita berdua bisa melakukan itu?" tanya Mu Yang berpikir ucapan Yu Jie mustahil.
“Berdua? Biar aku sendiri yang melakukannya, ketua klan Yu di usia mudanya berhasil menggagalkan upaya pemberontakan pangeran pertama, hanya dengan membayangkannya saja sudah dapat tercium pujian yang akan terdengar setiap namaku diucapkan." Yu Jie dengan senyum seringai.
[20% exp juga 200 poin sistem Tuan Yu Jie terima karena terpicu nya kesombongan murni]
“Dia gila ...."
__ADS_1
Mu Yang setelahnya bungkam seribu bahasa, seorang pemuda ingin menghadapi seisi kerajaan seorang diri jelas siapa orang normal bisa percaya.