
Yu Jie baru kembali ke ibu kota ketika sekian banyak orang telah berkumpul untuk menyambutnya, dirinya jelas bingung tiba-tiba seluruh warga kota seolah sudah ada di sana.
Mu Yang menyadari kebingungan Yu Jie langsung menjelaskan kalau ini semua karenanya, menyebarkan kabar kalau Yu Jie telah berhasil meratakan sekte Pedang Darah hanya dalam satu malam saja.
Sekte Pedang Darah pada akhirnya dijadikan sasaran kemarahan oleh warga kota, mengira setiap kekacauan juga teror sebagai ulah dari mereka.
“Baik sekali kau mau repot menyiapkan panggungnya untukku," gumam Yu Jie, puas dengan apa yang telah Mu Yang lakukan.
“Apa ada yang Anda katakan, Tuan Muda Jie?" Mu Yang tidak mendengar jelas gumaman Yu Jie.
“Tidak ada," timpal Yu Jie.
Yu Jie langsung terbang ke hadapan setiap warga kota, mereka semua mendongak untuk melihat sosoknya yang begitu dianggap luar biasa.
Mereka semua bersorak sorai melontarkan berbagai macam pujian, tidak lupa juga berterimakasih karena Yu Jie benar-benar memegang ucapannya ingin menyelesaikan semua masalah di ibu kota.
“Tidak perlu berlebihan, sebab ini hanya hal mudah serupa membalikan telapak tangan," ucap Yu Jie penuh ketenangan, menciptakan kesan penuh wibawa yang terpancar.
Warga kota semakin menggila, mereka yang pria menganggap Yu Jie sebagai sosok panutan sementara yang wanita menganggap Yu Jie sebagai calon kekasih idaman.
“Tuan, putriku masih gadis. Nikahi dirinya!!!"
“Omong kosong, putriku lebih cantik jadi nikahi putriku saja!!!"
Banyak pasang orang tua berusaha menjodohkan Yu Jie dengan putri mereka, anak perempuan yang dimaksud hanya diam sembari terus berharap ayah atau ibu mereka mengucapkannya lebih keras agar Yu Jie mendengarnya.
Menyadari situasi semakin tidak terkendali, Mu Yang segera mengambil tindakan dengan menugaskan setiap prajuritnya menyuruh warga kota diam.
Setelah suasana sedikit tenang, Yu Jie akhirnya kembali bersuara, “Pasangan? Aku tidak pernah berpikir bisa memilikinya, sebab menyusuri jalan keabadian saja sudah amat berat untukku lakukan."
Warga kota berdecak kagum hampir bersamaan, sosok kultivator abadi yang tidak memikirkan nafsu duniawi ternyata benar-benar nyata dan kini ada di hadapan mereka.
“Bicara apa aku tadi?" ucap Yu Jie, takut ucapan asalnya di salah arti.
Di tengah setiap sorot mata kagum warga kota, sebuah kereta kuda datang membelah kerumunan orang. Xiang He keluar dengan begitu anggun dari sana, menghampiri Yu Jie yang langsung mendarat dari terbangnya.
“Tuan Muda Jie, apa itu benar?" tanya Xiang He tiba-tiba.
__ADS_1
Yu Jie mengerutkan dahi sebelum berkata, “Yang mana?"
“Terkait dirimu yang tidak berpikir ingin memiliki pasangan." Xiang He dengan penuh penasaran.
Yu Jie menghela napas panjang, hembusan angin entah datang dari mana menerpa wajahnya ketika ia berkata, “Perasaan seseorang siapa yang tau?"
Xiang He langsung tersenyum senang, ini artinya ia masih memiliki kesempatan.
“Ada apa dengan wajahmu?" tanya Yu Jie ketika rona wajah Xiang He berubah merah.
“Ti— tidak, aku hanya tengah tidak enak badan hari ini."
Xiang He langsung mengajak Yu Jie kembali ke istana dengan kereta kudanya tetapi Yu Jie menolak, menjelaskan kalau dirinya lebih memilih berjalan bersama Mu Yang juga para tawanan.
Xiang He tidak mempermasalahkan, mereka pada akhirnya malah berjalan bersama hingga istana untuk membicarakan apa yang baru saja dilakukan Yu Jie.
“Tu— tuan, kenapa warga kota nampak begitu marah pada kami?" tanya salah satu tetua sekte Pedang Darah di tengah langkahnya.
“Kalian sudah mengacau di ibu kota dan berharap tidak menjadi sasaran kemarahan?" Yu Jie mengangkat alisnya.
“Kekacauan yang mana, Tuan?" Salah satu dari mereka memberanikan diri bertanya.
“Merubuhkan tembok kota, membunuh para prajurit hingga teror-teror lainnya." Yu Jie dengan santainya.
Setiap tetua langsung melirik satu sama lain. Dari semua yang Yu Jie ucapkan, tidak ada satupun pernah sekte Pedang Darah lakukan.
Sekte Pedang Darah hanya bertanggung jawab pada penyerangan istana dan itupun setelah pangeran pertama kehilangan nyawa, hal ini mereka sampaikan pada Yu Jie sebagai bentuk pembelaan.
“Memang tidak kalian lakukan karena aku yang melakukannya, kalian hanya kambing hitam jadi terima saja," ucap Yu Jie dengan senyum mengerikan di wajahnya.
Para tetua sekte Pedang Darah hanya bisa bungkam mendengar itu semua, mereka jadi bertanya-tanya terkait siapa sebenarnya yang jahat di sana.
“Pemuda ini gila."
“Kau benar, kita turuti saja semua kemauannya atau kita kehilangan nyawa."
Setiap tetua sekte Pedang Darah pada akhirnya mengambil satu kesimpulan terkait situasi mereka, yaitu untuk tunduk sepenuhnya dan tidak macam-macam sebab masih sayang nyawa.
__ADS_1
Tidak lama Yu Jie akhirnya sampai di istana, dirinya segera perintahkan para prajurit untuk memasukan 14 tetua sekte Pedang Darah ke penjara bawah tanah.
Setiap tetua hanya menurut saja di bawa ke tempat yang akan menjadi kurungan mereka, malah merasa lega ketimbang kecewa sebab akhirnya bisa menjauh dari Yu Jie.
“Jenderal Yang, kumpulkan petinggi kerajaan juga setiap jenderal lain di aula istana," ucap Yu Jie memberi perintah.
Tidak lama Mu Yang melakukan itu, kini sudah terkumpul semua yang Yu Jie pinta untuk datang. Mereka semua memasang wajah tegang, takut ada hal seperti terakhir kali kembali terjadi.
“Tu— tuan, kami semua bukan pengkhianat kerajaan," ucap salah satu dari petinggi kerajaan.
Yu Jie mengangkat alisnya sebelum berkata, “Siapa memangnya yang menuduhmu pengkhianat?"
“Eh ... Anda memanggil kami bukan karena hal itu?"
“Bukan, jangan sok tau," timpal Yu Jie kesal.
Para petinggi juga jenderal kerjaan akhirnya bisa bernapas lega, hampir saja mereka menulis surat warisan sebelum menjadi mendiang.
Yu Jie segera menjelaskan tujuan sebenarnya mengumpulkan mereka di sana, yaitu untuk membahas pembuatan kelompok baru dalam militer kerajaan yang nantinya bisa jadi senjata paling dapat diandalkan.
“Tuan Muda Jie, bagaimana cara kita membuat kelompok semacam itu? Anda tau sendiri betapa terbatas kekuatan setiap prajurit kita, bahkan jenderal-jenderalnya." Xiang He agak merasa mustahil untuk melakukan itu semua.
“Itu mudah, kalian pasti sudah mendengar belasan orang tawanan yang aku bawa dari sekte Pedang Darah bukan?"
Setiap orang di aula mengangguk, mengetahui setiap dari tawanan yang dimaksud sebagai orang-orang dengan kekuatan tinggi di dunia kultivasi kerajaan Zirah Besi.
“Aku akan membuat mereka menjadi anggota dari kelompok yang akan dibuat," ucap Yu Jie.
Setiap orang di aula hanya terdiam tidak terkecuali Xiang He juga Mu Yang, mereka menganggap itu semua mustahil untuk dilakukan.
Para tetua yang dimaksud adalah sosok kultivator Jiwa Bumi, kultivator setingkat itu bersedia melayani kerjaan yang para jenderalnya saja hanya kultivator Pengumpulan Qi benar-benar terasa seperti mimpi.
Yu Jie memperlihatkan senyum seringainya sebelum berkata, “Tidak ada yang mustahil jika aku sudah campur tangan."
Setiap orang di aula langsung ingat siapa sosok pemuda di hadapan mereka, yaitu seseorang yang bisa membuat hal tidak mungkin menjadi mungkin dengan begitu mudah.
“Kami memohon bantuanmu untuk ini, Tuan Muda Jie!!!" seru serempak setiap orang di sana.
__ADS_1