
Malam itu beberapa prajurit masih terjaga sebab mereka yang bertugas menjaga keamanan, Mu Yang sebagai pemimpin rombongan menjadi salah satunya sebab tidak bisa tidur memikirkan ucapan Yu Jie.
“Tuan, ada hal baru aku temukan!!!"
Setiap prajurit segera menaikan alis mereka, pemuda terpelajar yang ikut rombongan ternyata merupakan pembuat keributan malam itu.
“Bocah, jangan berisik. Apa kau tidak tau Tuan Putri tengah beristirahat di tendanya sekarang?"
Yu Jie segera mengangguk mengerti, wajahnya tampak panik membuat setiap penjaga paham ada hal penting ingin Yu Jie sampaikan.
“Ak— aku menemukan lima jasad di dekat sini, aku tidak tau siapa mereka. Aku takut mereka orang jahat yang mencoba melakukan hal buruk pada Tuan Putri," ucap Yu Jie.
Setiap prajurit segera menatap penuh selidik, mereka tampak tidak percaya akan apa yang baru dilaporkan Yu Jie.
“Hei, Bocah. Apa kau tau siapa kami? Orang dari kelompok mana memangnya berani sebodoh itu ingin macam-macam di tengah penjagaan kami?!!"
Yu Jie mulai merasa kesal, dirinya mencoba berpura-pura tetapi jika terus seperti ini dirinya takut kelepasan.
Yu Jie segera menyapu pandang mencari Mu Yang, jenderal kerajaan Zirah Besi tersebut nampak baru menghampiri setelah mendengar ada keributan.
“Apa yang terjadi?" tanya Mu Yang pada setiap prajuritnya.
“Jenderal Yang, Bocah ini mengaku menemukan beberapa jasad yang dicurigai memiliki maksud buruk pada Tuan Putri."
“Benar, Jenderal Yang. Ucapannya benar-benar tidak sopan karena sama saja meragukan kehebatan Anda."
Mu Yang segera menatap para prajuritnya kesal, dirinya tentu paham kalau namanya cukup dikenal tetapi itu tidak cukup membuat takut orang-orang pangeran pertama.
Belum lagi meragukan laporan Yu Jie yang dapat dipastikan kebenarannya, ingin sekali Mu Yang teriakan pada prajuritnya siapa Yu Jie sebenarnya.
“Jenderal Yang, aku tidak berbohong. Pakaian mereka mencurigakan seolah mereka adalah pengintai, aku mohon Jenderal Yang tidak menghukum ku karena niat baikku menyampaikan semua ini," ucap Yu Jie menatap Mu Yang tajam penuh ancaman.
Mu Yang segera menelan ludahnya, setelahnya berkata, “Kalian, ikut aku memeriksa kebenarannya!!!"
“Jenderal Yang, mengapa kita harus percaya omong kosongnya?"
“Diam dan ikut saja!!!" seru Mu Yang pada prajuritnya.
__ADS_1
Mu Yang segera mengalihkan pandangannya pada Yu Jie, dengan hati-hati dirinya berkata, “Tua— Eh, tidak. Bocah, cepat tunjukan jalannya!!!"
Yu Jie segera mengangguk sebelum mengantar Mu Yang dan beberapa prajurit ke tempat jasad lima orang jubah hitam berada, mereka masih ada di sana dengan kondisi cukup mengenaskan membuat para prajurit terkejut melihatnya.
“Ini benar-benar orang pangeran pertama, akan berbahaya jika kita terlambat menyadarinya," ucap Mu Yang.
Dari jasad kelimanya terdapat ikat kepala bewarna merah darah di dahi mereka, itu merupakan tanda paling mudah dikenali dari orang-orang pangeran pertama.
Mendengar ini setiap prajurit yang sempat meragukan Yu Jie segera bungkam tanpa kata, mereka menunduk malu sebab apa yang Yu Jie katakan merupakan kebenaran.
“Untuk hukuman kalian akan aku berikan setelah kita sampai di ibu kota, sekarang bangunkan prajurit yang lain dan berjaga hingga matahari terbit!!!" seru Mu Yang.
Para prajurit segera kembali ke kemah milik rombongan, menyisakan Yu Jie juga Mu Yang di sana.
“Tuan Muda Jie, maafkan para prajurit ku jika mereka menyinggung mu!!!" Mu Yang seraya membungkuk.
Yu Jie hanya menghela napas panjang, setelahnya berkata, “Aku sudah kesal harus membunuh kelima pengintai ini dengan tanganku sendiri, lebih baik kau ajari mereka sopan santun secepatnya atau nanti mereka yang akan aku buat menjadi jasadnya."
Mu Yang menelan ludahnya, dirinya hanya mengangguk sebelum pamit ikut berjaga di sekitar tenda tuan putri berada.
Malam sendiri setelahnya berlalu cepat berganti pagi yang mana mulai terdengar banyak kicau burung di sekitar, Xiang He yang terlelap mulai bangun sebelum terkejut melihat para prajuritnya nampak penuh kepanikan.
Mu Yang segera menjelaskan kejadian kemarin malam, dari mulai Yu Jie yang menemukan jasad para pengintai hingga laporan Yu Jie padanya untuk memeriksa itu semua.
Xiang He segera menunjukan ekspresi wajah rumit mengetahui kakaknya mulai bergerak ingin mencelakainya, sesaat kemudian dirinya pamit untuk mencari Yu Jie yang memang selalu memisahkan diri dari rombongan.
Yu Jie tidak jauh dari kemah tengah duduk terpejam di bawah sebuah pohon, matanya perlahan terbuka sebab menyadari ada Xiang He mendekat ke arahnya.
“Tuan Putri, ada urusan apa menghampiri pemuda beruntung ini?" tanya Yu Jie dengan senyum tipis.
“Tidak perlu berpura-pura, Tuan Muda Jie. Kedatanganku kemari adalah untuk berterimakasih, jika tidak ada dirimu mungkin malam tadi aku sudah terbunuh," ucap Xiang He seraya membungkuk memberi hormatnya.
“Mereka hanya pengintai, lagipula aku hanya menemukan jasad mereka saja."
“Tuan Muda Jie, aku tau yang sebenarnya. Anda yang membunuh mereka," timpal Xiang He.
Yu Jie hanya tertawa kecil, setelahnya ia beri isyarat untuk Xiang He berhenti membungkuk padanya.
__ADS_1
“Tuan Putri, rombongan sudah siap melanjutkan perjalanan sekarang."
Satu orang prajurit tiba-tiba datang menyampaikan itu semua, beruntung Xiang He sudah berdiri tegak sebab jika tidak Yu Jie akan ketahuan tengah berpura-pura.
“Tidak perlu khawatir, Tuan Putri. Aku baik-baik saja," ucap Yu Jie tiba-tiba.
Xiang He sempat terkejut sebelum mengangguk mengerti, setelahnya berkata, “Baguslah, lain kali hati-hati dan usahakan menjauh dari hal seperti ini."
Xiang He segera melangkah pergi seolah datang hanya karena khawatir pada pemuda yang ikut rombongannya, setelah malam tadi bisa dikatakan terlibat hal berbahaya.
“Sial, kenapa tidak mati saja kau menyusul jasad-jasad yang kau temukan," ucap prajurit tersebut setelah kepergian Xiang He.
Tidak menanggapi ucapan prajurit itu, Yu Jie tiba-tiba melangkah ke hadapannya.
“Apa kau marah? Memangnya pemuda lemah sepertimu bisa ap—"
Plakkk!!!
Prajurit itu belum menyelesaikan ucapannya ketika telapak tangan Yu Jie menyapa wajahnya, keras bagaimana hantaman terjadi membuat prajurit itu terhuyung sebelum tumbang di tanah.
“Hei, jangan katakan ini pada siapapun apalagi melaporkannya. Jadilah baik dan penurut mulai sekarang seperti dua teman prajurit mu," ucap Yu Jie sebelum melangkah ke arah rombongan.
Prajurit yang baru merasakan kerasnya hantaman tangan Yu Jie hanya bisa membatu, dirinya masih sulit mencerna apa yang baru terjadi padanya.
“Hei, kau tidak apa?"
“Cepat bantu dia bangkit, kita akan pergi tidak lama lagi."
Dua orang prajurit lain tiba-tiba muncul dari balik pepohonan, memberitahu Tuan Putri untuk bergegas awalnya dilimpahkan pada mereka tetapi keduanya tolak sebab takut harus berurusan dengan Yu Jie sekali lagi setelah terakhir kali dipaksa mencium tanah.
“Hei, kenapa kalian di sini?" tanya prajurit yang masih tersungkur.
“Kami khawatir padamu."
“Benar, kalau boleh jujur kami juga pernah mengalami nasib serupa denganmu kemarin."
Ucap keduanya dengan kenangan buruk tiba-tiba menghampiri kepala mereka.
__ADS_1
“Jangan bilang pemuda tadi bukan pemuda biasa?" tanya prajurit yang baru Yu Jie buat tersungkur penuh curiga.
Dua prajurit yang baru datang hanya mengangguk tanpa kata, setelahnya membantu teman mereka berdiri agar bisa cepat kembali ke rombongan mereka.