
Setelah urusan dengan para orang-orang pangeran pertama usai, Yu Jie dan rombongan kembali melanjutkan perjalanan.
Posisi mereka yang memang tidak terlalu jauh dari kota tujuan singgah pertama, membuat mereka sampai tidak sampai matahari terbenam sore harinya.
Kedatangan tuan putri di kota tersebut disambut baik oleh penjaga kota, bahkan bangsawan penguasa kota datang langsung menjemput ke depan gerbang untuk membawa tuan putri tinggal di kediamannya.
“Tuan Muda Jie, dirimu bisa tinggal di kediaman penguasa kota bersama kami," ucap Xiang He ketika ada kesempatan.
“Tidak perlu, ada hal aku harus cari tau selama kita di kota ini," ucap Yu Jie.
Xiang He agak kecewa, meski demikian tidak bisa terlalu menunjukannya sebab para prajurit telah menunggunya untuk berangkat ke kediaman penguasa kota.
“Tuan Putri, Penguasa Kota tengah menunggu kedatangan mu. Apa kita jadi pergi bersamanya?" tanya salah seorang prajurit menghampiri.
Xiang He hanya mengangguk, sesaat kemudian berkata pada Yu Jie, “Istirahatlah di waktu senggang ini, beberapa hari lagi kita lanjutkan perjalanan ke ibu kota kerajaan."
Yu Jie mengangguk mengerti, Xiang He bersama satu prajurit pergi dari sana menyusul bangsawan penguasa kota juga Mu Yang yang telah menunggu.
Yu Jie segera melangkah ke arah lain, masih dalam kota tetapi agak ke pinggiran sebab ada hal menarik perhatiannya di sana.
Di sepanjang jalan wilayah pinggiran kota, ada cukup banyak kereta kuda membawa barang dagangan di sana.
Setiap kereta kuda itu hampir memenuhi sepanjang pinggiran jalan, yang mana amat mustahil setiap kereta kuda tersebut dimiliki satu kelompok dagang saja.
Hal ini mengingatkan Yu Jie dengan kelompok dagang yang kebanyakan tidak terlihat di sepanjang perjalanannya ke kota tersebut, jalanan utama sepi saat datangnya ke sana tetapi di kota itu ada banyak kereta kuda milik kelompok dagang tentu aneh menurutnya.
Yu Jie segera memasuki salah satu penginapan pinggiran kota, di depan penginapan itu ada cukup banyak kereta kuda milik sebuah kelompok dagang yang mana ingin Yu Jie tanyakan apa yang menganggu pikirannya pada mereka.
Saat Yu Jie masuk benar saja ada cukup banyak orang di dalam penginapan tersebut, kebanyakan adalah anggota kelompok dagang yang tengah beristirahat dengan menikmati hidangan lantai satu penginapan.
Yu Jie baru masuk saat seorang pelayan menghampirinya, yang mana pelayan itu menjelaskan jika seisi penginapan telah disewa oleh sekelompok orang sehingga tidak menerima tamu lain.
“Aku datang kemari bukan untuk menginap," ucap Yu Jie mencoba menjelaskan.
“Jika tidak untuk menginap apakah untuk memesan makanan? Penginapan kami juga tidak menerima pesanan lain, Tuan," papar pelayan dengan hati-hati.
Yu Jie menolak pergi meski pelayan itu terus meminta, tujuannya datang ke sana belum terpenuhi sehingga dirinya tidak bisa langsung pergi begitu saja.
__ADS_1
Apa yang terjadi antara Yu Jie dengan pelayan tentu menarik perhatian anggota kelompok dagang, satu orang bahkan mulai berdiri untuk menghampiri Yu Jie.
“Ada apa ini?" tanya seorang pria yang menghampiri.
Pelayan segera menjelaskan apa yang terjadi, pada intinya pelayan itu meminta Yu Jie pergi tetapi Yu Jie tidak mengindahkannya.
“Hei, Nak. Jika disuruh pergi maka pergi, jangan keras kepala seperti ini."
Yu Jie memerhatikan dalam diam seorang yang baru berbicara, seorang pria dengan tubuh cukup terlatih dan bukan hanya orang biasa melainkan praktisi kultivasi.
“Apa kau pengawal kelompok dagang yang menyewa seisi penginapan ini?" tanya Yu Jie.
Pria itu sempat terkejut sebelum bertanya, “Benar, memangnya kenapa?"
Yu Jie mencoba mengajak bicara pria itu lebih jauh, dirinya menanyakan alasan kenapa tidak ada kelompok dagang bersedia melewati jalur utama selama perjalanan ke sana ketika di kota itu ada cukup banyak kelompok dagang nampak baru tiba.
“Nak, apa ada alasan aku harus menjawab pertanyaan mu?" tanya pria itu dengan dingin.
Yu Jie melihat reaksi pria itu tentu semakin yakin kalau memang ada yang salah, hal ini membuat Yu Jie tidak lagi ragu mengambil tindakan untuk memaksa pria itu berbicara.
Senyum di wajah Yu Jie membawa hawa tidak enak menyelimuti penginapan, yang mana tidak lama kemudian lonjakan aura mengalir dari tubuh Yu Jie membuat hawa tidak enak berganti tekanan.
“Apa yang terjadi?!!"
“Sialan, kenapa tiba-tiba tubuhku seolah ditimpa batu besar seperti ini?"
Seluruh anggota kelompok dagang di lantai pertama mengeluh akan rasa berat di tubuh mereka, bukan hanya menghambat mereka makan karena untuk menggerakkan tubuh saja sulit untuk melakukannya.
Di antara anggota kelompok dagang tentu pria di hadapan Yu Jie yang paling paham alasan itu semua dapat terjadi, bersamaan dengan ini caranya menatap Yu Jie langsung berubah penuh hormat sebab tidak ingin mati di tangan kultivator tingkat tinggi macam Yu Jie.
Pria itu segera menyuruh pelayan pergi untuk tidak lagi menganggu Yu Jie, tidak lama setelahnya mengajak Yu Jie ke lantai dua penginapan tepatnya ke depan salah satu kamar yang katanya adalah milik ketua kelompok dagangnya.
“Tuan Muda, mohon tidak tersinggung sebab hal yang baru Anda tanyakan memang rahasia yang tidak bisa sembarang dengar," ucap pria itu.
Yu Jie hanya diam, menatap pria itu tajam seolah menyuruhnya cepat memanggil ketuanya saat itu juga.
“Oh, benar. Tunggu sebentar, Tuan Muda." Pria itu tampak salah tingkah.
__ADS_1
Pria itu segera mengetuk pintu kamar di hadapannya dengan hati-hati, tidak ada jawaban membuat Yu Jie yang melihatnya menjadi geram sendiri.
“Tunggu, Tuan Muda. Ketua kami memang sering sepe—"
Brakkk!!!
Pria itu belum menyelesaikan ucapannya ketika Yu Jie tiba-tiba mendobrak pintu kamar dengan tendangannya, tepat setelah pintu terbuka terlihat seorang pria paruh baya dengan tubuh tambun tengah asik bermesraan dengan beberapa orang wanita.
“Apa-apaan ... hmphhh!!!"
Pria bertubuh tambun belum menyelesaikan ucapannya ketika telapak tangan Yu Jie tiba-tiba menutup mulutnya, menyeret pria itu keluar kamar meninggalkan beberapa wanita pendampingnya.
Brukkk!!!
Yu Jie melempar pria bertubuh tambun hingga menghantam dinding, merasa kesal dirinya ternyata sedari tadi menunggu seseorang yang malah asik bermesraan ketimbang menemuinya.
“Kau, dia ketua mu, kan?" tanya Yu Jie.
Pria yang mengantar Yu Jie ke sana hanya mengangguk tanpa kata, dirinya seolah masih sulit percaya kalau apa yang baru terjadi di hadapannya adalah hal yang nyata.
“Sekarang beritahu dia alasan kedatanganku kemari, beritahu juga kemungkinan terburuk jika dirinya terus membuatku kesal seperti ini," ucap Yu Jie.
“Ba— baik, Tuan Muda." Pria itu sembari melangkah cepat menghampiri ketuanya yang masih tergeletak.
“Sampah, apa yang salah dengan otakmu hingga membawa bocah kurang ajar itu kemari?!!" Pria bertubuh tambun pada pria yang tidak lain adalah pengawalnya.
“Tuan, tolong tahan amarahmu dan dengarkan dulu penjelasanku."
Pria bertubuh tambun segera diberitahu oleh pengawalnya terkait siapa Yu Jie, dari awal kedatangannya ke sana hingga apa yang bisa Yu Jie lakukan dengan kekuatannya.
“Tuan, lebih baik kita turuti saja semua kemauannya atau kita akan celaka," pengawal menutup penjelasannya.
“Benarkah? Kenapa kau tidak memberitahuku sedari awal, sialan!!!"
Pria bertubuh tambun tiba-tiba berusaha bangkit walau cukup sulit, tidak lama kemudian berlari ke hadapan Yu Jie sebelum berlutut dan berkata, “Tuan Muda, maafkan sikapku hingga berani kurang ajar menghiraukan orang sehebat dirimu!!!"
Yu Jie menghela napas panjang, segala hal memang lebih mudah kalau langsung dilakukan dengan kekuatan.
__ADS_1