Sistem Kesombongan Surgawi

Sistem Kesombongan Surgawi
Akhir Kekacauan Istana


__ADS_3

Merasa tidak perlu mengkhawatirkan salah sasaran ketika menghabisi orang yang diduga bagian dari para penyerang, Yu Jie mulai bergerak saat itu juga untuk menghabisi mereka di antara rakyat biasa.


Yu Jie mengalirkan cukup banyak Qi ke hidungnya untuk memperkuat daya penciumannya, saat itu juga bau bubuk mesiu menyeruak membuat Yu Jie sadar jika para pemegang Bom Kematian ada demikian banyaknya.


“Aku harus bergegas," gumam Yu Jie.


Yu Jie menggunakan teknik Sayap Naga untuk mempercepat geraknya, sehingga ia melangkah setengah melayang di udara menghampiri para pemegang Bom Kematian di sekitarnya.


Kecepatan gerak Yu Jie benar-benar sulit di tangkap mata ketika melakukan ini, membuat banyak musuh langsung tumbang hanya dengan sekali tebasan tanpa tau apa sebenarnya yang mengambil nyawa mereka.


Satu dari sekian banyak pemegang Bom Kematian baru ingin meledakan bom tersebut dari sakunya, tetapi belum sempat ia melakukan itu Yu Jie sudah menusukan pedang tepat di jantungnya.


“Sudah berapa banyak kira-kira?" gumam Yu Jie, sempat berhenti untuk memeriksa lebih jauh target tebasan pedang selanjutnya.


Banyak orang menyadari apa yang Yu Jie lakukan kali ini, mereka terkejut sebab mengira Yu Jie telah membunuh orang biasa seperti mereka.


“Jangan salah paham, kalian bisa terluka jika aku tidak membunuhnya," ucap Yu Jie pada orang-orang itu, seraya menunjukan Bom Kematian dari kantung jubah pria yang baru kehilangan nyawa.


Orang-orang itu langsung bernapas lega, mereka langsung merasa bersalah sempat mengira Yu Jie yang tidak-tidak dan ini diungkapkan oleh salah satu mereka sembari mengucapkan rasa terima kasihnya.


“Tidak perlu terbebani akan hal ini, fokus saja untuk mempertahankan nyawa kalian di tengah kacaunya situasi sekarang," ucap Yu Jie, sebelum menghilang dari pandangan setiap orang.


Yu Jie sudah bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan begitu cepatnya, pedangnya sudah penuh dengan darah dan Ini adalah darah dari setiap penyerang istana.


“Tuan Muda Jie!"


Yu Jie menoleh saat Yu Man dengan dua anggota elite klan tengah berlari terburu-buru menghampirinya, ketiganya memang terus mencari Yu Jie sedari awal datangnya situasi tidak terduga yang terjadi.


“Tuan Muda Jie, bisakah dirimu menjelaskan apa sebenarnya alasan kekacauan ini? Kami benar-benar bingung harus melakukan apa, jika bisa berikan kami arahan untuk membantu Anda," ucap Yu Man.


Yu Jie memaklumi, baik Yu Man maupun dua anggota elite klan bukanlah kultivator Jiwa Bumi sehingga kekuatan kelima indra mereka tidak setajam itu sampai dapat mencium bau bubuk mesiu yang samar sepertinya.


Yu Jie merasa ketiganya tidak dapat membantu untuk menghabisi para pemegang Bom Kematian di tengah rakyat biasa akhirnya mengajak mereka ke tempat Mu Yang berada, jenderal kerajaan tersebut masih ada di tempatnya menunggu Yu Jie yang sebelumnya menghilang tiba-tiba.


“Tuan Muda Jie, apa para pemegang Bom Kematian telah dihabisi sepenuhnya?" tanya Mu Yang.

__ADS_1


Yu Jie menggeleng pelan, masih ada banyak penyerang di antara rakyat biasa sebab Yu Jie masih mencium demikian banyak bau menyeruak.


Mu Yang nampak kecewa mendengar ini, Yu Jie yang menyadari segera menanyakan pada Mu Yang alasannya tampak seperti itu.


“Sebenarnya datangnya aku mencarimu sebelumnya adalah untuk meminta bantuan menahan serangan di luar istana, Tuan Muda Jie. Namun jika para penyerang di antara rakyat biasa belum dibereskan, sepertinya tidak perlu untuk dirimu membantuku," ucap Mu Yang, sadar nyawa setiap orang di istana sama pentingnya.


Yu Jie mulai merasa masuk akal kenapa Mu Yang tiba-tiba muncul dengan tubuh penuh luka sebelumnya, ini tandanya para prajurit di luar istana amat kepayahan meladeni serangan di sana.


“Aku pamit dahulu jika seperti itu, Tuan Muda Jie. Para prajurit menungguku," ucap Mu Yang, ingin kembali ke luar istana untuk kembali membantu pertempuran di sana.


Yu Jie langsung memberi isyarat pada Yu Man juga dua anggota elit klannya, untuk ikut membantu Mu Yang dan para prajurit sementara masalah di dalam istana biar dia seorang diri yang menyelesaikannya.


Mu Yang jelas senang mengetahui ini, dirinya sudah mengenal Yu Man sebagai tetua Ketiga klan Yu dan tidak sama sekali meragukan kemampuannya yang pasti akan banyak membantu.


“Kami pamit jika seperti itu, Tuan Muda Jie."


Yu Man, Mu Yang juga dua anggota elit klan segera bergegas pergi untuk membantu menahan serangan di luar istana, menyisakan Yu Jie seorang diri di sana yang langsung bergerak saat itu juga.


Yu Jie bergerak secepat yang dirinya bisa untuk membunuh para penyerang di antara rakyat biasa, dirinya di kejar waktu sebab ledakan dari Bom Kematian bisa muncul kapan saja.


Yu Jie menyabetkan pedangnya ke leher salah seorang pemegang Bom Kematian, langsung bergerak ke target lain tepat setelahnya untuk melakukan hal yang sama.


Yu Jie melakukan itu cukup lama hingga tidak terasa sekitar seratusan pemegang Bom Kematian sudah kehilangan nyawa sebab sabetan pedangnya, semakin lama bau menyeruak bubuk mesiu juga mulai berkurang dibandingkan sebelumnya.


Yu Jie baru ingin menghampiri target lain ketika targetnya sudah mati dikarenakan sabetan pedang yang dilancarkan seorang pria tua, Yu Jie mengenali jubah yang dikenakan pria tua itu sebagai milik klan Bai langsung menghampirinya.


Pria tua tengah mengelap darah di pedangnya ketika Yu Jie datang, ia mengenali Yu Jie langsung menyambutnya dengan senyum lebar, “Tuan Muda Jie, senang bertemu Anda."


“Senang bertemu denganmu juga, Senior. Apa Anda juga menyadari ciri-ciri para penyerangan yang mengakibatkan kekacauan ini?" tanya Yu Jie.


“Hahaha, tentu saja. Bau aneh dari tubuh mereka benar-benar familiar untukku, sebab sekte pemilik senjata rahasia ini memang sering berurusan dengan klan Bai." Pria tua itu menjelaskan.


Yu Jie merasa puas jika benar demikian, ini artinya ada satu bantuan yang bisa menghabisi para penyerang di antara rakyat biasa bersamanya.


“Senior, apa Anda tidak keberatan jika aku mintai bantuan mengurus sebagian dari mereka sementara aku mengurus sisanya?" tanya Yu Jie.

__ADS_1


“Hahaha, tidak perlu diminta sebab aku memang ingin melakukannya," ucap pria tua itu.


Yu Jie tersenyum tipis menanggapinya, setelahnya ia bergerak ke salah satu arah sementara pria tua tersebut pergi ke arah lain untuk menyelesaikan bagiannya.


Para penyerang di antara rakyat biasa dapat di habisi demikian cepat oleh mereka berdua, keduanya yang sama-sama kultivator Jiwa Bumi adalah alasan mengapa hal ini bisa terjadi.


Yu Jie sudah menusukan pedangnya ke penyerang terakhir di antara rakyat biasa, merasa tugasnya telah selesai ia langsung kembali ke tempat ia bertemu pria tua dari klan Bai.


Pria tua itu ternyata juga datang ke sana tidak lama kemudian, tanpa ada sedikitpun perkataan keduanya seolah memiliki satu pikiran.


“Hahaha, sepertinya kita cocok," ucap pria tua tersebut.


“Jangan berkata yang tidak-tidak, Senior. Aku kembali ke sini sebab ingin memintamu ikut denganku memeriksa kondisi para prajurit di luar istana," ucap Yu Jie, agak lega pria tua itu kembali ke sana sesuai dugaannya.


“Ada penyerangan juga di luar istana?" Pria tua menaikan alisnya.


“Benar, Senior."


“Kalau begitu tunggu apa lagi? Mari kita ke sana bersama, Tuan Muda Jie." Pria tua tersebut sebelum melesat dengan ilmu meringankan tubuhnya.


Yu Jie langsung terbang untuk menyusul, bahkan tidak perlu waktu lama hingga Yu Jie mendahului pria tua tersebut dengan kecepatannya.


Hal ini membuat pria tua terperangah, awalnya ia ingin memamerkan ilmu meringankan tubuhnya, siapa sangka target pamernya malah bisa melakukan hal yang tidak bisa dilakukannya.


“Benar-benar jenius langka," gumam pria tua di tengah kagumnya.


Tidak perlu waktu lama hingga keduanya sampai ke tempat yang mereka tuju, suasana luar istana ternyata sudah mulai tenang tanda pertempuran sepertinya telah usai.


“Tuan Muda Jie, di sini sudah kami urus dengan sempurna," ucap Yu Man menghampiri Yu Jie bersama dua anggota elit klan tanpa sedikitpun menerima luka.


Yu Jie menghela napas lega, ucapan Yu Man memiliki arti semua kekacauan yang terjadi telah selesai sampai di sana.


“Kerja bagus, Semuanya!" seru Yu Jie, memberi apresiasinya pada setiap prajurit untuk mengangkat moral mereka.


Para prajurit mengetahui kedatangan Yu Jie langsung mendongakkan kepala di tengah lemas mereka, merasa bangga sebab Yu Jie yang mereka kagumi kini memuji mereka secara terbuka.

__ADS_1


__ADS_2