
Yu Jie baru melangkah keluar kediaman saat penjaga yang mengantarnya ke sana langsung menghampirinya, bermaksud mengantar Yu Jie kembali untuk meninggalkan istana.
“Apa ada yang baru terjadi hingga kau tampak begitu bahagia seperti ini?" tanya penjaga tersebut melihat senyum di wajah Yu Jie.
“Tentu, aku mendapat bantuan yang aku butuhkan dari Jenderal Yang," ucap Yu Jie singkat.
“Boleh aku tau apa itu, Tuan Muda Jie?" tanya Penjaga tersebut tiba-tiba, dengan pedang mengayun mengarah leher Yu Jie.
Yu Jie berdecak kesal sembari menghalau serangan tersebut, setelahnya berkata, “Kau menguping?"
Penjaga itu tersenyum lebar, setelahnya membuka mulut nampak ingin berbicara walau tidak bisa sebab Yu Jie sudah lebih dahulu menebas lehernya.
Slashhh!!!
“Jangan menguping, dasar tidak sopan." Yu Jie dengan senyum seringai.
Sudah Yu Jie ketahui memang jika penjaga itu mendengar pembicaraannya dengan Mu Yang, meski demikian dirinya memilih berpura-pura tidak tau agar semakin menyenangkan.
“Sekarang, di mana Xiang He tinggal?" Yu Jie penuh tanda tanya, menyesalkan tidak bertanya dahulu sebelum menghabisi penjaga itu.
Yu Jie pada akhirnya melangkah ke kediaman utama berada, itu merupakan bangunan yang menjadi pusat dari istana.
“Seharusnya Xiang He ada di sana," gumam Yu Jie.
Yu Jie belum berhasil memasuki kediaman utama saat mendengar langkah kaki dua orang penjaga, dirinya langsung masuk ke semak terdekat guna bersembunyi dari mereka.
“Hei, tidakkah menurutmu ini menyebalkan?"
“Apa maksudmu?"
“Berjaga seperti ini ketika hampir mustahil ada orang bodoh berani macam-macam, harusnya kita pulang saja ketimbang melakukan pekerjaan tidak berguna semacam ini."
“Tutup mulutmu sebelum ada yang mendengarnya, kau bisa digantung di tengah kota sebab menyepelekan tugas jaga."
Dua prajurit tengah asik berbincang ketika melewati semak tempat Yu Jie berada, Yu Jie segera tersenyum sinis sebelum mengambil tindakan pada keduanya.
Buaghhh!!!
Yu Jie memukulkan gagang pedangnya ke masing-masing belakang kepala keduanya, membuat kedua prajurit itu tumbang hilang kesadaran.
__ADS_1
Berhasil melumpuhkan keduanya, segera Yu Jie seret mereka menjauh dari sana, ke tempat orang kemungkinan tidak akan datang sebab ada hal ingin dirinya tanyakan pada mereka.
Yu Jie hanya menunggu satu dari keduanya sadar yang seharusnya tidak terlalu lama, benar saja satu dari mereka membuka mata sebab Yu Jie cukup berhati-hati ketika memukulkan gagang pedang sehingga tidak memberi luka terlalu dalam.
“Siapa ka— ... Hmpphh."
Satu prajurit yang baru sadar tidak bisa melanjutkan ucapannya, mulutnya di bekap cukup kuat oleh Yu Jie dengan telapak tangannya.
“Jangan berani membuat keributan atau kau mati," ancam Yu Jie sembari menempelkan pedangnya ke leher prajurit itu.
Prajurit itu segera mengangguk kencang, keringat dingin mulai mengucur dari dahinya sebab kawannya belum juga sadar sehingga hanya dirinya seorang yang kini tengah terancam.
“Bagus, sekarang jawab setiap pertanyaan dariku." Yu Jie menarik telapak tangan melepaskan bekapan prajurit tersebut.
Prajurit di hadapan Yu Jie hanya diam menunggu hal yang ingin Yu Jie tanyakan, bisa berteriak tetapi tidak berani sebab Yu Jie tampak serius dengan ancamannya.
“Katakan padaku di mana tuan putri berada." Yu Jie menekan pedangnya perlahan ke leher prajurit itu.
Prajurit itu mengerti jika dirinya lambat menjawab maka lehernya akan terlebih dahulu putus, sehingga menjawab secepat mungkin sesuai dengan apa yang diketahuinya.
“Tuan putri sampai pagi tadi masih tinggal di kamarnya, tetapi setelahnya di bawa pergi entah kemana oleh pangeran pertama," ucap prajurit itu dengan keringat dingin.
Yu Jie menaikan alisnya, jika sudah seperti ini maka tidak ada kepastian untuknya bisa bertemu Xiang He walau memaksakan datang ke kamar yang dimaksud.
“Ti— tidak."
“Jangan berani-berani membohongiku!!!" Yu Jie penuh ketegasan dalam suaranya.
Selama berucap, pedang di tangannya terus Yu Jie tekan memberi luka semakin dalam di leher prajurit tersebut, membuat prajurit itu meringis kesakitan.
“Tuan, aku benar-benar tidak tau, tetapi jika Anda benar ingin menemuinya, aku tau Anda harus kemana," ucap prajurit itu dengan suara bergetar.
Yu Jie segera menarik pedangnya menjauh dari leher prajurit itu, setelahnya berkata, “Kalau begitu katakan."
Prajurit itu segera memaparkan jika tidak lama lagi akan ada jamuan yang akan digelar di istana kerajaan, jamuan itu guna menyambut para sarjana muda yang berhasil diterima akademi kerajaan.
“Tidak lama dari sekarang istana akan dibuka guna menyambut generasi muda terpelajar unggulan, pangeran pertama juga tuan putri pasti akan hadir memimpin jamuannya selagi raja tidak bisa melakukannya." Prajurit itu menyampaikan apa yang diketahuinya.
“Sarjana muda? Terpelajar? Kebetulan sekali," gumam Yu Jie.
__ADS_1
Yu Jie menanyakan pada prajurit itu apa yang harus dilakukan agar dapat mengikuti jamuan, ini Yu Jie anggap kesempatan besar untuk bisa lebih mengenal pangeran pertama juga antek-anteknya sebagai pihak yang akan menjadi lawannya.
“Agak sulit, Tuan. Anda harus berhasil diterima akademi kerajaan bersaing dengan ribuan orang, belum lagi hanya mereka yang dianggap layak saja yang akan dapat kesempatan merasakan jamuan istana bersama pangeran pertama juga tuan putri."
Yu Jie mengangguk mengerti, tidak lama setelahnya kembali menanyakan hal terkait agar semakin jelas untuknya.
“Penjelasan mu mudah dipahami, aku memuji mu untuk ini," ucap Yu Jie setelah merasa puas dengan informasi yang baru didapatnya.
“Te— terimakasih, Tuan. Sekarang apa aku boleh pergi?" tanya prajurit itu.
Yu Jie hanya diam nampak berpikir, sesaat kemudian menunjuk kawan prajurit itu yang masih terpejam hilang kesadaran.
“Habisi dia dulu," ucap Yu Jie dengan entengnya.
“Maaf?"
“Aku bilang habisi dia dulu, setelah melakukannya kau bisa pergi sesuai keinginanmu." Yu Jie memperjelas maksudnya.
Prajurit itu sempat menatap kawannya sejenak, tidak lama kemudian mengangkat pedangnya sebelum mengayunkannya kuat tanpa keraguan.
Slashhh!!!
Pedang prajurit itu berhasil menebas leher kawannya sendiri, wajahnya tanpa penyesalan seolah sudah melakukan hal yang benar.
“Wah, kau kejam juga." Yu Jie memerhatikan itu semua.
“Jangankan hanya membunuhnya, Anda suruh aku mengiris setiap inci tubuhnya saja akan aku lakukan selama aku selamat, Tuan." ucap prajurit itu.
Yu Jie mengangguk sebelum mempersilahkan prajurit itu pergi, setelahnya menatap kepergian prajurit tersebut dengan senyum sinis di wajahnya.
“Egois, ingin selamat sendiri, sampah ... apa lagi?" Yu Jie dengan ekspresi muak.
Yu Jie yang sedari awal memang hanya ingin mengetes apakah prajurit itu layak hidup atau tidak kini mengambil keputusan, cukup mudah memutuskannya sebab tindakan yang diambil prajurit itu juga sudah sesuai dugaannya.
“Sifat asli manusia," ucap Yu Jie sembari melempar pedangnya.
Wushhh!!!
Jlebbb!!!
__ADS_1
Pedang Yu Jie sempat melayang sebelum menancap di kepala prajurit tersebut, membuat prajurit itu ambruk kehilangan nyawa menyusul kawan yang baru dihabisinya.
“Sekarang, apa aku harus menekuni peranku sebagai pemuda terpelajar?" Yu Jie seraya menarik pedang yang baru dilemparnya, cukup antusias bermain peran jika itu berarti ada kesempatan untuknya dapat menyombongkan kepintarannya.