Sistem Kesombongan Surgawi

Sistem Kesombongan Surgawi
Derita Mu Yang


__ADS_3

Yu Jie sempat memastikan tidak ada orang yang menjadi saksi akan tindakannya di dalam kedai, pelayan kedai tidak dirinya pikirkan sebab pastilah menutup mulut setelah diberi uang sebanyak itu.


Yu Jie sendiri setelahnya segera melangkah menuju istana kerajaan, istana itu ada di pusat kota yang mana ada tembok lain mengelilinginya seolah ada kota di dalam kota.


Yu Jie ke sana bukan tanpa alasan, Mu Yang memang ditugaskan olehnya untuk menyusup ke dalam dan selagi tidak ada yang tau mengenai dirinya, Mu Yang bisa berpura-pura mendukung pangeran pertama seperti yang lainnya.


Rencana ini sepertinya berhasil terlihat dari Mu Yang yang tidak sekalipun menemuinya beberapa hari terakhir, Mu Yang telah sampaikan juga sebelum pergi jika Yu Jie ingin bertemu maka Yu Jie lah yang harus datang sebab dirinya tidak dapat sembarangan bertingkah sebab gerak-geriknya akan selalu diperhatikan.


Pangeran pertama memang diketahui Mu Yang sebagai sosok yang penuh kehati-hatian, dirinya tiba-tiba bergabung tanpa perlawanan jelas menimbulkan kecurigaan.


Yu Jie awalnya berniat menunggu Mu Yang yang datang padanya setelah kecurigaan pangeran pertama pada Mu Yang mereda, tetapi sejak kehabisan uangnya, Yu Jie tidak memiliki pilihan lain selain datang menemui Mu Yang secepatnya sekaligus menanyakan kondisi terbaru Xiang He di istana.


“Hei, berhenti di sana!!!"


Yu Jie menghentikan langkahnya sesuai seruan seorang penjaga, memang di depan gerbang istana ada empat orang dengan masing-masing pedang di tangan mereka.


“Ada keperluan apa kau kemari?!!" Salah satu dari mereka menghampiri Yu Jie.


Yu Jie dengan wajah polos tanpa dosa menunjukan senyumnya, memberi kesan dirinya tidak berbahaya sehingga para penjaga tidak terlalu menaruh curiga padanya.


Apa yang Yu Jie lakukan terbukti berhasil terlihat dari penjaga itu yang mulai menurunkan suaranya, tidak lagi berteriak seperti sebelumnya.


“Nak, apa tujuanmu kemari?" tanya penjaga tersebut.


“Aku ingin bertemu Jenderal Yang." Yu Jie seraya tersenyum ramah.


Prajurit di hadapan Yu Jie segera menghampiri tiga temannya, nampak menanyakan pendapat mereka terkait apa yang Yu Jie pinta.


“Jenderal Yang? Apa hubunganmu dengannya?" tanya salah satu prajurit setelah mendengar tujuan kedatangan Yu Jie.


“Aku kebetulan datang ke ibu kota bersamanya, dirinya mengatakan aku dapat menemuinya kapan saja jika butuh bantuan," ucap Yu Jie yang kali ini telah siap menarik pedangnya.

__ADS_1


Yu Jie sudah siap kalau-kalau cara baik gagal membawanya masuk, tidak keberatan juga jika harus menghabisi empat penjaga itu jika mereka mempersulitnya.


“Oh, kau calon sarjana itu?" tanya salah satu dari mereka nampak mengingat sesuatu.


Yu Jie segera mengangguk, memuji Mu Yang dalam hatinya sebab pria itu tidak lupa melakukan sesuatu untuk mempermudahnya.


“Kalian tetap berjaga, aku akan mengantarnya ke kediaman tempat Jenderal Yang tinggal," ucap salah seorang penjaga pada tiga temannya.


“Apakah hal ini harus dilakukan? Bagaimana jika kita meminta izin pada atasan terlebih dahulu?" tanya satu dari ketiganya.


“Menanyakan apa? Kau pikir Jenderal Yang perlu izin dari atasan kita yang merupakan bawahannya untuk menerima tamu?" timpal penjaga tersebut.


Yu Jie pada akhirnya diantar oleh satu penjaga ke dalam istana, membawanya ke kediaman lumayan besar cukup jauh dari bangunan utama.


Penjaga itu nampak mengetuk beberapa kali gerbang kediaman tempat Mu Yang tinggal, tidak lama Mu Yang muncul sebelum terkejut melihat kehadiran Yu Jie.


“Oh, silahkan masuk. Kau, tunggu di sini," ucap Mu Yang mempersilahkan Yu Jie tetapi tidak dengan penjaga yang mengantarnya.


Tepat setelah Yu Jie juga Mu Yang sampai ke dalam, segera Mu Yang beri hormatnya pada Yu Jie, setelahnya bertanya alasan Yu Jie menemuinya seperti ini.


“Beritahu aku kondisi di dalam istana, sekalian sampaikan juga kabar Xiang He dan tengah ada di mana dirinya." Yu Jie tanpa basa-basi.


Mu Yang segera menjelaskan jika kondisi istana sekarang tengah begitu kacau, terkhusus untuknya sebab harus melihat hampir seluruh petinggi kerajaan sibuk menjilat pangeran pertama.


“Itu normal, apalagi sekarang pangeran pertama lah yang paling diunggulkan menduduki kursi raja," ucap Yu Jie mengangguk mengerti, yang mana dengan ini telah dipastikan jika setiap orang di istana merupakan musuhnya.


Mu Yang setelahnya memberi penjelasan kondisi Xiang He, wanita muda itu dilihat Mu Yang diperlakukan baik oleh pangeran pertama yang memang merupakan kakaknya.


Meski demikian, hal ini tidak menyingkirkan fakta kalau hidup Xiang He sekarang tidak beda dengan hidup di dalam penjara berbentuk bangunan utama istana.


“Tuan Putri sama sekali tidak boleh menginjakan kakinya ke luar, untuk menemuinya saja sangat sulit untuk diriku lakukan sehingga aku khawatir, Tuan Muda Jie," ucap Mu Yang menutup penjelasannya.

__ADS_1


Yu Jie mengangguk pelan tanda mengerti, kemampuan berpolitik pangeran pertama dirinya akui cukup baik dengan menutup ruang gerak Xiang He yang merupakan ancaman satu-satunya untuk takhta yang diincarnya.


“Pangeran pertama hampir pasti akan berhasil menggapai ambisinya ... sayang ada aku yang akan menggagalkannya," ucap Yu Jie dengan senyum tiba-tiba muncul di wajahnya.


Mu Yang segera menelan ludah melihat senyum mengerikan Yu Jie, ini sudah beberapa kali tetapi dirinya tetap tidak bisa terbiasa melihatnya.


“Tuan Muda Jie, sekarang apa rencana kita?" tanya Mu Yang, ingin tau isi pikiran Yu Jie hingga senyum semacam itu bisa muncul.


“Pertama, apa kau punya uang?"


“Eh ... maaf?" Mu Yang takut salah dengar.


“Katakan saja, bila perlu langsung ambil dan bawa kemari semuanya," ucap Yu Jie penuh keseriusan.


Mu Yang tanpa curiga segera masuk ke kamarnya sebelum kembali dengan dua kantung berisi koin emas, setelahnya menyerahkan uang itu pada Yu Jie untuk melihat apa yang Yu Jie ingin lakukan dengan uang tersebut hingga bisa terlihat seserius itu.


“10 ribu koin emas di masing-masing kantung ini, Tuan Muda Jie," ucap Mu Yang menatap penuh penasaran.


“Bagus, aku ambil ini dan kau hanya perlu bersantai hingga aku menemui kembali," ucap Yu Jie sebelum melangkah keluar tanpa penjelasan.


Mu Yang hanya mengangguk pada awalnya, sampai tidak lama dirinya merasa ada yang salah dengan ini semua.


“Tunggu, Tuan Muda Jie membawa semua uangku ... apa ini pemerasan?" Mu Yang penuh tanda tanya.


Mu Yang sempat diam beberapa saat sebelum menghela napas panjang, tampak pasrah dirinya tidak mau memikirkan itu semua.


“Sudahlah, mungkin Tuan Muda Jie memang membutuhkan semua uang itu untuk menjalankan rencananya ... aku harap benar seperti ini," ucap Mu Yang cukup lemas, bukan bermaksud merelakannya melainkan tidak berani memintanya kembali.


Yu Jie sendiri setelah berhasil mendapat uang yang menjadi alasan datangnya ke sana jelas merasa senang, tujuannya datang sudah terpenuhi tetapi tidak langsung memiliki pikiran untuk pergi.


“Berhubung aku sudah ada di sini, bagaimana jika aku mengunjungi Xiang He sekalian?" gumam Yu Jie, agak khawatir juga dengan kondisi tuan putri kerajaan Zirah Besi itu.

__ADS_1


__ADS_2